![]() |
| sumber gambar : lespimous.com |
Membaca media massa online melalui setara institute, membuat saya berpikir, kapan Indonesia meniru Kota Salatiga? Di dalam website tersebut tertera, bahwa Salatiga menduduki peringkat pertama kategori kota tertoleran se-Indonesia. Selanjutnya disusul oleh Kota Singkawang, Manado, Tomohon dan Kupang.
Salatiga merupakan kota kecil yang berada di wilayah Jawa Tengah. Terletak di antara jalur utama Semarang-Solo. Boleh dikatakan, Salatiga merupakan titik tengah antara Semarang dan Solo.
Warga masyarakatnya pun beraneka ragam. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan juga Penganut Kepercayaan. Semua suku dari Sabang sampai Merauke juga ada di Salatiga. Tidak salah bila Salatiga sering mendapatkan julukan Indonesia mini.
Di Salatiga banyak masjid. Masjid yang tertua konon bernama Masjid Damardjati. Gereja juga banyak. Uniknya, meski banyak tempat ibadah namun warga masyarakatnya bersatu. Jarang sekali mendengar kabar adanya konflik di kota yang berhawa dingin ini.
Di masjid yang sering saya kunjungi sekarang, di daerah Tegalrejo, menurut ceritanya adalah unik dan tidak biasa dilakukan oleh warga lain. Semua agama awal mulanya mencari batu kali untuk pondasi masjid. Mengandalkan dana dari pemerintah jelas tidak mungkin langsung jadi. Warga masyarakat pun akhirnya berinisiatif untuk kerja bakti, mengumpulkan batu kali sebagai pondasi bangunan awal masjid.
Ketika mengecor masjid juga sama. Semua warga masyarakat ikut serta dalam membangun masjid. Mereka tidak berpikir syirik, bid'ah, dosa, misalnya. Yang mereka pikir yang penting bisa membantu warga masyarakat dalam membangun tempat ibadah.
Apakah karena berhawa dingin? Mungkin saja iya. Kota yang berada di lereng Gunung Merbabu ini hawanya cukup dingin. Dari hawa yang dingin inilah membuat pemikiran warganya juga menjadi "dingin".
Misalnya saja kita membandingkan dengan Kota Semarang. Di sana hawanya panas karena berada di pinggir pantai utara. Oleh karena panas, secara tidak langsung berimbas terhadap karakteristik warga masyarakatnya. Tidak mengherankan jika di Semarang sering terjadi demonstrasi.
Faktor yang kedua bisa jadi disebabkan karena perguruan tinggi. Salatiga yang merupakan kota kecil ternyata sudah memiliki cukup banyak perguruan tinggi. SDM warga masyarakat secara otomatis akan meningkat. Pada urutannya, warga masyarakat Salatiga pun lebih mudah diatur bila dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Nusantara.
Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa toleransi itu penting. Tanpa toleransi, tentu kehidupan ini akan kacau. Kata Gus Dur, ketika kita tidak bisa menghargai agama lain, hargailah mereka karena mereka juga ciptaan Tuhan. Dari sini sangat jelas, bahwa menghormati sesama manusia itu sesuatu yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Salam.
Salatiga, 18 Maret 2021

Komentar
Posting Komentar