Langsung ke konten utama

Secuil Cerita Tentang Agama Kepercayaan

sumber gambar : www.99.co.id

Dulu, saat negara Indonesia masih mengakui lima agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha), agama kepercayaan masih belum mendapatkan pengakuan yang resmi dari pemerintah. Orang yang mempunyai agama (penganut) kepercayaan harus menggunakan identitas agama lain agar mereka aman dalam menggunakan KTP. Kalau tidak Islam, para penganut kepercayaan biasanya menggunakan label agama Kristen di dalam kolom KTP. 

Artinya, zaman dahulu itu ada diskriminasi dalam masalah agama. Orang yang sebenarnya pemeluk atau penganut kepercayaan harus ber-"mimikri" sejenak agar mereka aman dalam data kependudukan. Padahal bila melihat warga masyarakat, utamanya daerah pegunungan, penganut kepercayaan sebenarnya masih cukup besar. 


Penganut kepercayaan pada intinya tidak memiliki agama sebagaimana yang lima seperti di atas, hanya saja mereka percaya akan adanya Tuhan. Mereka juga percaya bahwa bumi dan seisinya merupakan ciptaan Tuhan. Bagi mereka, yang penting dapat berbuat baik kepada sesama. 


Terkait dengan penganut kepercayaan, saya mempunyai pengalaman yang cukup menarik. Semoga memberikan manfaat kepada khalayak luas. 


Alkisah, seorang tetangga ditinggal suaminya untuk selamanya dikarenakan meninggal dunia. Oleh karena penganut kepercayaan, istrinya pun tidak mengadakan kegiatan tahlilan sebagaimana yang biasanya dilakukan warga kampung halaman saat ada orang meninggal dunia. Beliau setiap hari selalu keliling kampung untuk membagikan beras kepada tetangganya selama satu minggu. 


Ketika ada acara mendak pisan, mendak pindo dan nyewu juga sama. Beliau tetap berjalan keliling kampung guna membagikan sembako yang sudah dibungkus dengan plastik. Beliau ternyata juga masih tetap menjalankan tradisi yang ada, hanya saja caranya agak berbeda dengan warga lokal pada umumnya. Warga lokal membagikan sembako, beliau juga membagikan sembako. 


Kini, sekarang ada satu agama lagi yang diakui pemerintah yaitu Konghucu. Umat Konghucu sekarang sudah bebas merayakan Imlek. Agama Konghucu pun sudah memperoleh hak yang sama dengan agama lain pada umumnya. Umat Islam boleh mencantumkan identitas agama di kolom KTP, umat Konghucu juga sudah tidak ada larangan. Penganut agama kepercayaan pun juga sudah bebas menaruh kata Penganut Kepercayaan di dalam KTP. 


Bila memperhatikan kisah di atas, artinya zaman sekarang itu keadilan dalam beragama sudah tidak ada ketimpangan. Pemerintah telah mengayomi semua agama tanpa pandang bulu. Salam. 


Salatiga, 10 Januari 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...