Langsung ke konten utama

Mengapa Sekolah Belum Juga Masuk?

ilustrasi: harianbhirawa.co.id

Sejak pertengahan Maret 2020, Indonesia (dan juga dunia) dilanda wabah yang cukup misterius yaitu corona. Pemerintah pusat akhirnya meliburkan semua sekolah tanpa terkecuali. Kebijakan tersebut akhirnya diikuti oleh semua pemerintah daerah di negeri ini. Kebijakan tersebut berakhir sampai sekitar bulan Juni. 

Alasan pemerintah satu, karena demi keamanan peserta didik. Virus corona yang diidentifikasi mudah menyebar melalui kerumunan menyebabkan pemerintah membuat kebijakan yang tegas. Sementara untuk pasar tradisional dan juga modern, pemerintah membuat kebijakan lain. Alasannya demi kemaslahatan ekonomi masyarakat. Paling yang dikurangi hanya jam operasionalnya. 


Awal bulan Juli masih di tahun yang sama, di daerah kelahiran saya, Kabupaten Batang, sekolah sudah masuk seperti biasa. Hanya saja, tidak full dalam seminggu. Waktu belajar pun dikurangi. Kegiatan ini juga banyak dilakukan oleh pemerintah daerah lain yang ada di Nusantara. 


Sementara untuk daerah yang sekarang saya tempati, Kota Salatiga, sampai sekarang belum berani membuat kebijakan mengenai kapan sekolah akan masuk. Bila dihitung dari awal, artinya sudah genap satu tahun peserta didik berada di dalam rumah. 


Bulan Desember tahun 2020, ketika sedang mengambil rapot di sebuah Madrasah Ibtidaiyah swasta, ada seorang wali peserta didik yang berkata kepada gurunya, " Bu, anak saya mau pindah sekolah." 


Mendengarkan ucapan tersebut, guru itu kemudian bertanya, "Mau pindah kemana Bu?". "Ke Madrasah sebelah, MI Jombor, yang sudah masuk wilayah Kabupaten Semarang. 


"Saya sudah bosan mengajari anak di dalam rumah. Kalau saya hanya di rumah tidak masalah Bu. Saya harus berjualan di pasar untuk menghidupi keluarga. Kalau di MI Jombor sudah masuk sekolah meski tidak genap dalam seminggu," ungkap wali peserta didik. 


Saya sebenarnya sudah paham bahwa apa yang ia ungkapkan merupakan bentuk kebosanan yang sudah cukup "menggumpal" di dalam hati. Lama sudah disimpan, namun belum berani mengungkapkannya. Ketika ada momen yang tepat yaitu tatkala sedang mengambil rapot, ia akhirnya berani mengungkapkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. 


"Kalau mau pindah nanti dulu ya Bu, sebab harus ada tanda tangan Pak Kepala Madrasah. Kebetulan beliau sedang rapat di kantor Pemda," ungkap Bu Guru yang kebetulan masih berusia 22 tahun. 


Bu Guru tersebut kemudian menjelaskan, bahwa sejak September sebenarnya sekolah sudah mau masuk. Lagi-lagi, oleh karena surat edaran dari pemerintah kota, pihak Madrasah akhirnya tidak berani melawan. Pihak Madrasah pun akhirnya menuruti apa yang diinginkan oleh orang nomor satu yang ada di kota dingin ini. 


Pemerintah beranggapan, dengan peserta didik berada di dalam rumah maka corona akan dapat diminimalisir. Apakah begitu solusinya? Saya melihat, anak-anak justru bosan berada di dalam rumah. Justru anak-anak malah sering bermain ke sana-sini dengan tujuan yang tidak jelas. Alih-alih meminimalisir, ternyata malah membuka peluang menyebarnya virus. 


Bagi orang desa yang berada di ujung gunung mungkin tidak begitu menjadi masalah. Sinyal internet masih lemot. Permasalahannya adalah di kota kecil seperti Salatiga yang sangat lancar dengan internet, anak dengan mudah memainkan HP android. Saya sering melihat anak-anak malah asyik bermain HP dengan seenaknya sendiri. Justru inilah yang sangat berbahaya. Otak anak secara tidak langsung akan rusak gara-gara terlalu asyik bermain HP. Sekolah dari rumah membuka peluang selebar-lebarnya bagi anak yang sedang bermain game online. 


Kepada jajaran Pemerintah Kota Salatiga (dan juga daerah lain yang sudah setahun libur sekolah), oleh karena sudah setahun tidak sekolah, sebaiknya sekolah segera masuk! Sekolah tetap sekolah, ikhtiar juga harus dilakukan. Sekolah masuk, pihak sekolah menyediakan tempat air dan sabun. Peserta didik dan guru juga memakai masker. Semoga virus corona segera hilang. Salam. 


Salatiga, 16 Februari 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...