Langsung ke konten utama

Membangun Ma'had Ala Prof Imam Suprayogo

sumber gambar : majalah Langitan

Rektor UIN Malang periode 1997-2013, Prof. Imam Suprayogo, pernah usul kepada Menteri Agama kala itu, Muhammad Maftuh Basyuni. Usul itu boleh dikatakan cukup "radikal", yakni membubarkan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN, yang sekarang berubah nama menjadi PTKIN). Mengapa? Karena meski sudah mau lulus, masih banyak mahasiswa-i yang kesulitan dalam membaca al-Qur'an. Apalagi membaca kitab kuning, jelas akan lebih kesulitan. 

PTKIN dianggap gagal dalam mendidik dan mencetak para ulama. Mengenai mencetak ulama, menurut Prof. Imam tidak perlu membutuhkan PTKIN, melainkan dari pondok pesantren, utamanya pondok pesantren tradisional. Karena selama ini boleh percaya atau tidak, ulama itu dilahirkan dari pesantren dan bukan dari perguruan tinggi. 


Menanggapi pernyataan tersebut, Pak Maftuh Basyuni pun meresponnya. "Bagaimanapun, meski belum sempurna, keberadaan PTKIN tetap dibutuhkan oleh warga masyarakat," kata Pak Maftuh. Dari perbincangan itu akhirnya disepakati bahwa setiap PTKIN wajib membangun pesantren kampus atau ma'had. Dan sampai sekarang, program tersebut telah terealisasi. 


Namun ternyata, pembangunan ma'had yang membutuhkan dana besar seakan-akan hanya formalitas belaka. Mengurus dan mengelola setiap mahasiswa baru untuk tinggal di ma'had ternyata tidak gampang. Selain sarana dan prasarana yang belum mampu menampung semua mahasiswa baru, justru yang lebih sulit adalah masalah mengatur jadwal ngaji di dalam ma'had itu sendiri. Sampai sekarang, kalau belum berubah, hanya UIN Malang saja yang telah mampu menampung dan mengurus mahasiswa baru untuk tinggal di dalam ma'had kampus. 


Di dalam ma'had mahasiswa diajarkan bahasa Arab dan Inggris. Di dalam ma'had pula diajarkan kegiatan rohaniah yang berfungsi untuk menggembleng spiritual para mahasiswa. Juga diajarkan tentang kesenian rebana, pidato, berdebat dan lain sebagainya. 


Kini, setiap PTKIN sudah mempunyai pondok pesantren kampus. Meski belum semuanya sempurna, namun paling tidak sudah mengusahakan untuk membuat pribadi mahasiswa menjadi semakin lebih baik. 


Tidak usah muluk-muluk. Lulusan PTKIN sudah mampu membaca al-Qur'an secara lancar dan tartil saja sudah cukup bagus. Warga masyarakat akan menilai, bahwa PTKIN "dianggap" telah sukses mencetak generasi Islam yang qur'ani. Keberadaan pondok pesantren di dalam kampus mempunyai pengaruh yang cukup besar. Semua itu, secara tidak langsung adalah gagasan Prof. Imam Suprayogo dan sampai sekarang masih diadopsi oleh banyak kampus. Salam. 


Salatiga, 24 Februari 2021 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...