![]() |
| sumber gambar : majalah Langitan |
PTKIN dianggap gagal dalam mendidik dan mencetak para ulama. Mengenai mencetak ulama, menurut Prof. Imam tidak perlu membutuhkan PTKIN, melainkan dari pondok pesantren, utamanya pondok pesantren tradisional. Karena selama ini boleh percaya atau tidak, ulama itu dilahirkan dari pesantren dan bukan dari perguruan tinggi.
Menanggapi pernyataan tersebut, Pak Maftuh Basyuni pun meresponnya. "Bagaimanapun, meski belum sempurna, keberadaan PTKIN tetap dibutuhkan oleh warga masyarakat," kata Pak Maftuh. Dari perbincangan itu akhirnya disepakati bahwa setiap PTKIN wajib membangun pesantren kampus atau ma'had. Dan sampai sekarang, program tersebut telah terealisasi.
Namun ternyata, pembangunan ma'had yang membutuhkan dana besar seakan-akan hanya formalitas belaka. Mengurus dan mengelola setiap mahasiswa baru untuk tinggal di ma'had ternyata tidak gampang. Selain sarana dan prasarana yang belum mampu menampung semua mahasiswa baru, justru yang lebih sulit adalah masalah mengatur jadwal ngaji di dalam ma'had itu sendiri. Sampai sekarang, kalau belum berubah, hanya UIN Malang saja yang telah mampu menampung dan mengurus mahasiswa baru untuk tinggal di dalam ma'had kampus.
Di dalam ma'had mahasiswa diajarkan bahasa Arab dan Inggris. Di dalam ma'had pula diajarkan kegiatan rohaniah yang berfungsi untuk menggembleng spiritual para mahasiswa. Juga diajarkan tentang kesenian rebana, pidato, berdebat dan lain sebagainya.
Kini, setiap PTKIN sudah mempunyai pondok pesantren kampus. Meski belum semuanya sempurna, namun paling tidak sudah mengusahakan untuk membuat pribadi mahasiswa menjadi semakin lebih baik.
Tidak usah muluk-muluk. Lulusan PTKIN sudah mampu membaca al-Qur'an secara lancar dan tartil saja sudah cukup bagus. Warga masyarakat akan menilai, bahwa PTKIN "dianggap" telah sukses mencetak generasi Islam yang qur'ani. Keberadaan pondok pesantren di dalam kampus mempunyai pengaruh yang cukup besar. Semua itu, secara tidak langsung adalah gagasan Prof. Imam Suprayogo dan sampai sekarang masih diadopsi oleh banyak kampus. Salam.
Salatiga, 24 Februari 2021

Komentar
Posting Komentar