![]() |
Selain mendapatkan predikat kota toleran, Salatiga ternyata menyimpan "prasasti" bersejarah. Setelah Mbah Zubair Umar Al-Jailani yang mana adalah pendiri IAIN Walisongo di Salatiga, ternyata juga ada ulama yang tidak sembarangan. Beliau adalah Mbah Abdul Wahid, buyut dari Gus Dur.
Terletak di daerah Tingkir Lor Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Daerah ini dulu termasuk wilayah Kabupaten Semarang. Oleh karena ada pemekaran wilayah, akhirnya daerah ini ikut wilayah Kota Salatiga. Daerah Tingkir sampai sekarang tidak berubah. Daerah ini boleh dikatakan "jantungnya" para ulama.
Makam Mbah Abdul Wahid sekarang telah dipugar menjadi semakin baik. Kini makamnya semakin menarik. Meski berada di daerah agak tebing, namun pengunjungnya tidak pernah reda. Setiap hari hampir bisa dipastikan ada seorang atau sekelompok warga yang datang untuk berziarah kubur.
Di dekat makam tertera silsilah Mbah Abdul Wahid - Mbah Hasyim Asy'ari - KH Wahid Hasyim - Gus Dur dan seterusnya. Di papan tersebut tertulis, bahwa sumber tersebut berasal dari M. Ishom dengan buku yang berjudul KH. Hasyim Asy'ari Figur Ulama dan Pejuang Sejati terbitan Pustaka Tebuireng, Jombang.
Kini, makam tersebut sekarang lebih indah. Selain harus menaiki tangga sebagaimana orang mendaki gunung, juga masih banyak pepohonan yang tumbuh dengan rindang dan subur. Burung hutan masih cukup banyak. Jalan menuju ke area makam pun masih baru.
Awal tahun 2020 pernah ada kegiatan Jalan Sehat Sarungan (JSS) di makam tersebut. Dan itu mungkin baru pertama kali ada di Indonesia. Setiap santri ataupun penduduk wajib mengenakan sarung dan harus berjalan kaki. Setelah selesai, semua warga berkumpul di makam Mbah Abdul Wahid, tahlilan bersama dan diakhiri dengan kegiatan mberkat bersama.
Hari Jum'at, 1 Januari 2021, saya bersama dengan warga masyarakat berkunjung ke makam ini. Di awal tahun ini, warga masyarakat melakukan kegiatan yang berfungsi untuk nguri-uri tradisi yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Di sana, kita melaksanakan tahlilan sebagaimana lazimnya. Selesai tahlilan, kita pun pulang dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
Setelah malam harinya kita mengadakan mujahadah bersama di masjid, pagi harinya dilanjutkan dengan acara "wisata religi." Kalau biasanya wisata religi itu identik dengan naik bus pariwisata dan pergi ke luar kota, kita melaksanakannya masih di dalam kota dan mengendarai sepeda motor. Tidak masalah. Yang penting substansinya sama yaitu tahlilan bersama, mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita.
Akhirul kalam, semoga dengan dibangunnya makam Mbah Abdul Wahid akan menjadi ikon tersendiri bahwa Salatiga ternyata menyimpan tokoh yang tidak sembarangan. Mungkin saja suatu saat orang se-Indonesia akan berkunjung ke sini guna berziarah kubur dalam rangka "menyambungkan ruh" antara seorang santri dengan para guru-gurunya terdahulu. Salam.
Salatiga, 5 Januari 2021


Komentar
Posting Komentar