![]() |
| sumber gambar : halodoc.com |
Dalam hidup di tengah masyarakat, saya pernah mendengar suara dari tetangga yang sedang berkata kepada temannya," Ngapain kuliah segala. Sekarang itu banyak sarjana yang nganggur. Sekolah tinggi-tinggi itu percuma. Mending ngumpulin uang yang banyak, terus buat usaha." Saya kira ucapan yang hampir serupa juga terjadi di berbagai tempat.
Dalam pandangan yang umum, yang namanya orang tua pasti ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Misalnya orang tuanya hanya lulusan SMP, maka orang tua berharap anaknya minimal harus lulus SMA. Bahkan, kalau perlu sampai mengenyam bangku perguruan tinggi. Apabila ada orang tua yang hanya ingin menyekolahkan anaknya sampai tingkat rendah (SD dan SMP), maaf, orang tua yang seperti ini mungkin agak kelainan.
Seorang tetangga sebagaimana dimaksud sepengetahuan saya sudah bekerja keras secara maksimal. Sudah berusaha ini dan itu ternyata kurang berhasil menguliahkan anaknya. Melihat temannya berhasil menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, ia ternyata agak panas. Ia sebenarnya tidak mampu. Dari ketidakmampuannya itulah ia akhirnya bergaya, "Ngapain kuliah...."
Begitulah hati. Dai kondang yang sekarang sudah jarang tampil di televisi, Aa Gym, pernah membuat analogi bahwa hati manusia itu ibarat teko atau ceret (tempat air putih). Apabila ceret itu isinya air putih, maka yang akan keluar dari ceret itu juga air putih. Apabila isinya kopi hitam, yang akan keluar juga kopi hitam. Umpama isinya kopi namun yang keluar air susu putih mungkin malah akan didatangi banyak orang seperti Ponari, hhe.
Hati itu "misteri". Ia terletak di dalam tubuh dan juga tertutup pakaian namun sesungguhnya merupakan komponen yang pertama dan utama bagi manusia. Apabila hatinya baik, maka akan baik pula semuanya. Apabila hatinya buruk, maka juga akan buruk pula terhadap yang lainnya.
Orang yang hatinya baik akan mudah diterima warga masyarakat. Kemanapun ia pergi, ia akan selalu diterima dengan lapang dada. Ketika ia pergi, ia akan selalu ditanyakan oleh warga masyarakat sekitarnya.
Hati yang baik juga akan berdampak terhadap tubuh. Tubuh menjadi sehat dan selalu lebih sehat. Mengapa? Logika sederhananya, orang yang hatinya baik peredaran darahnya cenderung stabil atau lancar. Dari kestabilan itu akhirnya membuat badan menjadi semakin sehat dan tidak gampang sakit.
Lain halnya dengan orang yang hatinya selalu panas. Melihat tetangganya bahagia, ia merasa tersaingi. Seakan-akan hanya ia yang boleh kaya, sementara yang lainnya tidak boleh kaya, apalagi mengungguli. Orang seperti ini cenderung kurang sehat dan lebih mudah sakit oleh karena peredaran darahnya yang berjalan begitu cepat dikarenakan selalu panas melihat tetangganya.
Sekarang tinggal memilih, ingin tubuhnya sehat atau mudah sakit? Kalau ingin sehat perbaikilah hati kita masing-masing. Kalau ingin mudah sakit, gampang, silahkan selalu panas manakala tetangganya mempunyai sepeda motor baru, misalnya. Namun yang terakhir ini sebaiknya jangan dilakukan. Kalau dilakukan suatu saat pasti akan menyesal karena yang akan menjadi korban adalah diri kita sendiri. Untuk itu, marilah kita dandani hati kita! Salam.
Salatiga, 13 Januari 2021

Komentar
Posting Komentar