Langsung ke konten utama

Presiden Jokowi dalam Pandangan Warga Papua

sumber gambar : tempo

Saat selesai membeli sembako di pasar tradisional, dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan sekelompok orang yang sedang mengadakan perlombaan burung dara. Oleh karena sewaktu kecil saya senang dengan burung dara, saya pun berhenti sejenak untuk melihat burung dara yang beraneka ragam. Ada yang diperlombakan melalui kolongan dan ada pula yang diperlombakan layaknya balap lari yakni adu kecepatan. 

Di sebelah area perlombaan, ternyata ada pedagang kopi. Saya pun berteduh sambil membeli kopi. Dalam suasana yang agak mendung karena sore hari, saya menyaksikan burung dara sambil menikmati secangkir kopi yang telah dibikin dengan resep khusus. Setelah selesai perlombaan, saya pun akhirnya berbincang dengan suami dari pedagang kopi tersebut. 

Beliau merupakan pensiunan pegawai pelayaran, yang asalnya dari Papua. Kebetulan, istrinya adalah orang Salatiga. Oleh karena sudah pensiun, beliau pun tidak mau menganggur. Beliau akhirnya berdagang kopi kecil-kecilan dan aneka makanan ringan sembari menemani warga pecinta burung dara. 

Dalam pembicaraan yang singkat itu, beliau menceritakan panjang-lebar kebaikan Presiden Jokowi. Menurutnya, ada dua presiden yang dihormati orang Papua yaitu Gus Dur dan Jokowi. Mereka berdua adalah tokoh yang cukup sering mengunjungi tanah Papua, tidak seperti presiden yang lainnya. 

Beliau mengungkapkan, Presiden Jokowi itu orang yang mau berbaur dengan warga masyarakat Papua. Selain itu, Presiden Jokowi juga dianggap telah mampu menyamakan harga BBM dan juga harga kebutuhan hidup lainnya. Sebelum Presiden Jokowi menjabat, harga BBM di Papua cenderung tinggi. Menurutnya, dulu harga satu liter bensin mencapai Rp 50.000,-. 

Presiden Jokowi menurut beliau juga telah mampu membangun tata kota menjadi semakin baik. Pula, juga sampai ke pelosok pedesaan. Menurut orang yang berperawakan besar tersebut, Presiden Jokowi juga telah mampu meredam kemarahan bagi warga masyarakat Papua. 

Satu lagi yang sangat menarik, warga Papua sesungguhnya tidak akan pernah selesai dari konflik. Menurutnya, hanya di masa Presiden Jokowi-lah Papua agak sedikit redam dari ketegangan. Sebelum Presiden Jokowi menduduki jabatan sebagai presiden, menurutnya kekacauan di Papua lebih anarkis. Tidak hanya masalah kemerdekaan, namun juga konflik sosial yang ada di dalam masyarakat cenderung lebih tinggi. 

"Kalau Presiden Jokowi sudah pensiun, mungkin Papua akan semakin parah," katanya sembari membenahi barang dagangan yang tercecer di atas mejanya.

Kalimat yang terakhir di atas tampaknya menjadi sinyal bahwa Papua selepas Presiden Jokowi akan tetap tidak aman. Dari sini tampaknya presiden yang akan menjabat nanti harus banyak belajar kepada Presiden Jokowi bagaimana cara bergaul dengan masyarakat secara baik, bagaimana cara meratakan harga bahan bakar minyak, sembako dan harga kebutuhan hidup lainnya. Bila ini mampu dilakukan, maka tidak akan terjadi ketimpangan atau kecemburuan sosial. Umpama ada, ketimpangan sosial pun dapat diminimalisir. Pada gilirannya, konflik pun menjadi semakin kecil, bahkan tidak menutup kemungkinan akan segera sirna dari bumi Cendrawasih. Salam. 

Salatiga, 16 Januari 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...