![]() |
| ilustrasi : pikiran rakyat.com |
Harta, tahta dan wanita adalah sebuah ungkapan untuk mewakili nafsu keserakahan manusia. Kalau tidak mengumpulkan harta, ingin mendapatkan jabatan. Begitu pula kalau tidak menginginkan jabatan, biasanya memiliki wanita simpanan. Begitulah kelakuan sebagian pejabat negeri ini yang ada di Senayan. Pejabat yang ada di daerah pun kemungkinan tidak jauh berbeda.
Bulan Desember akhir tahun 2020, saya melihat pemilihan kepala daerah di sebuah kabupaten. Kali ini cukup unik oleh karena masih pandemi. Semua warga yang akan mencoblos diwajibkan memakai masker. Begitu pula semua pegawai TPS juga tidak ketinggalan.
Ketika selesai pemilihan, yang jadi di tempat itu adalah nomor urut satu. Selisihnya cukup banyak dengan nomor urut dua. Ketika saya bertanya pada salah satu pencoblos, calon nomor urut dua merupakan istri dari kepala daerah yang masih menjabat.
Dua periode lamanya atau sekitar sepuluh tahun ia menjabat kepala daerah. Periode pertama ia dimodali oleh pengusaha kondang kaligrafi kuningan, Syekh Puji. Periode kedua ia sudah memiliki modal sendiri. Sementara untuk periode yang ketiga, ia tidak terlalu mengeluarkan banyak modal karena pandemi yang belum juga usai. Sayangnya, periode yang ketiga yang diwakikan oleh istrinya gagal dan hanya memperoleh sedikit suara.
Begitulah sebuah tahta. Ketika dirasa sudah cukup nikmat, akhirnya ingin menduduki jabatan lagi. Kemana-mana selalu dikawal oleh aparat. Kemana-mana pula tidak menutup kemungkinan kepalanya pusing karena memikirkan untuk mengembalikan modal awalnya.
Ketika sudah merasa nyaman, akhirnya lalai bahwa jabatan itu adalah sebuah amanah. Ia juga lupa bahwa jabatan itu harus bergantian. Ibarat anak kecil, maka akan menjadi dewasa. Begitu pula yang sekarang usianya 50-an tahun, maka akan semakin tua dan pastinya akan semakin tidak berdaya.
Hidup itu harus bergantian. Berilah kesempatan kepada warga masyarakat lainnya untuk mencalonkan dan menduduki jabatan sebagai kepala daerah! Mencalonkan tiga kali sesungguhnya tidak menjadi masalah, namun sudah secara otomatis akan mendapatkan penilaian yang kurang baik dari warga masyarakat. Salam.
Salatiga, 12 Januari 2021

Komentar
Posting Komentar