Di dalam masyarakat, mungkin kita sudah tidak asing mendengarkan kata NPWP, nomer piro wani piro (nomor berapa berani berapa). Mereka beranggapan sudah merelakan waktunya sejenak untuk mencoblos kepala daerah ataupun calon legislatif lainnya. Sehingga apabila tidak memberikan uang suap terlebih dahulu, mereka tidak akan mencoblos di dalam TPS.
Pertanyaannya, apakah ada di antara mereka yang tidak mau disuap? Setelah saya merenung, ternyata saya pernah mempunyai pengalaman seorang teman yang tidak mau disuap. Berikut ini kisahnya secara singkat.
Pada tahun 2014, saya bertemu dengan seorang teman yang berasal dari daerah Temanggung, Jawa Tengah. Namanya adalah Khotim Ahsan. Ketika itu ia sedang mengerjakan skripsi, sebagai salah satu syarat untuk wisuda. Ia kebetulan tinggal di dalam masjid. Sehari-hari ia selalu kuliah sambil mengurusi masjid; membersihkan masjid, adzan, menjadi imam, khutbah dan juga mengajar TPA.
Oleh karena sedang sibuk dengan tugas akhirnya, ia tidak pulang ke kampung halamannya untuk mencoblos. Mendengar cerita tersebut, salah satu penduduk setempat mendatanginya dan menawarkan untuk mencoblos di Kota Salatiga, tempat dimana ia mengenyam pendidikan tinggi. Tidak hanya itu, tokoh penduduk tersebut ternyata menawari uang untuk mencoblos salah satu anggota dewan yang sudah menitipkan uang.
Mendengar permintaan tokoh penduduk tersebut, ia pun menerima tawaran namun sekaligus juga menolaknya. Ia menerima untuk mencoblos di Kota Salatiga dan menolak untuk diberikan uang. Baginya, menerima uang sama dengan menjual harga diri. Ketika ditanya lagi, ia tetap bersikeras tidak mau menerima uang yang telah dibungkus amplop.
"Apakah uangnya kurang banyak?" tanya saya. "Tidak, aku memang tidak mau uang politik," jawabnya dengan tegas. Saat itu uangnya berciri-ciri warna biru dan dapat digunakan untuk makan dan minum sekitar tiga orang.
Begitulah! Di saat sebagian orang sedang berlomba-lomba untuk menerima uang amplop, ternyata ada orang yang "kurang waras" yakni tidak mau uang. Mungkin ia boleh dikatakan agak aneh oleh karena tidak sama dengan yang lainnya.
Kini, ia sekarang berprofesi sebagai Guru SD di daerah kampung halamannya. Berada di ujung pegunungan, ia setiap hari mengajar dan mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sesekali ia juga disuruh untuk mengajar mata pelajaran lainnya, terutama saat guru lain sedang tugas ke luar kota atau sedang ada urusan lain.
Darinya, saya belajar tentang kejujuran. Meskipun mungkin agak aneh, kita seharusnya belajar dari Pak Khotim Ahsan bahwa praktik suap-menyuap merupakan sesuatu yang tercela dan harus kita jauhi! Salam.
Salatiga, 9 Januari 2021

Komentar
Posting Komentar