![]() |
| sumber gambar : pinterest |
Seseorang yang setiap hari bekerja di rumah sakit, yang juga sering dikunjungi pasien sakit, selalu memberikan obat kepada pasiennya; entah itu resep obat yang diminum, dioleskan ke badan, maupun obat yang sifatnya larangan untuk makan yang sekiranya berbahaya untuk penyakit tertentu. Mereka adalah seorang dokter, bidan dan atau mantri desa.
Berbeda lagi dengan seseorang yang setiap hari selalu berada di sekolah. Mereka menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya. Mereka mengajar, mendidik, mentransfer ilmu, serta mengarahkan yang baik terhadap para peserta didik. Mereka adalah seorang guru, yang dulu mendapatkan gelar 'pahlawan tanpa tanda jasa'.
Lantas, apakah keunggulan guru bila dibandingkan dengan dokter?
Antara dokter dan guru sebenarnya mempunyai tugas yang sama yakni melayani masyarakat. Mereka berdua berjuang, bersama-sama membantu masyarakat untuk menjadi yang lebih baik. Yang satu membantu masalah kesehatan, sementara yang satunya lagi tentang pendidikan.
Akan tetapi, umpama seorang dokter salah dalam memberikan resep kepada pasien, misalnya, yang terjadi hanyalah fatal kepada pasien yang bersangkutan saja. Masyarakat luas tidak akan menerima dampaknya. Misalnya salah dalam memberikan obat suntik, umpama terkena penyakit polio maka yang terkena penyakit tersebut hanya orang itu saja. Tidak sampai merambat kepada warga masyarakat lainnya.
Lain halnya dengan seorang guru. Umpama salah memberikan resep ilmu kepada peserta didiknya, maka yang terkena dampak atau imbasnya adalah orang yang cukup banyak. Peserta didik dalam satu kelas bisa saja memperoleh "racun", gara-gara seorang guru kurang tepat dalam memberikan sebuah ilmu. Lebih dari itu, jangkauannya pun mampu bertahan lama. Bisa sampai bertahun-tahun.
Seorang guru yang otoriter, keras, kejam dan lain sebagainya misalnya, kadang bisa menebarkan virus kurang baik terhadap peserta didiknya. Seorang peserta didik bisa saja meniru oleh karena melihat gurunya yang mendidik arogan tatkala di dalam sekolah. Apakah bisa? Sangat bisa.
Boleh percaya atau tidak, seorang guru merupakan figur yang cukup sentral dalam benak peserta didik. Orang tua mengatakan apa kepada anaknya mungkin saja anak tidak manut. Sementara ketika guru mengatakan sesuatu, peserta didik kadang lebih ta'dhim. Apalagi bagi seorang guru yang cukup menjadi idola, biasanya ucapan atau tingkah lakunya akan selalu terpatri dalam jiwa peserta didik.
Oleh sebab itu, seorang guru hendaknya mengajar dan mendidik atau selalu memberi contoh yang baik pada peserta didiknya. Dulu--dan bahkan sampai sekarang--ada ungkapan, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Artinya, guru merupakan ruh yang utama bagi peserta didik. Wallahu a'lam.
Salatiga, 19 September 2020

Komentar
Posting Komentar