Langsung ke konten utama

Janji Semu

sumber gambar : NU online

Dunia politik itu sulit ditebak. Yang kelihatannya manis bisa saja menjadi pahit. Dalam dunia politik tidak ada kawan yang abadi. Yang kawan bisa menjadi lawan. Yang awalnya lawan pun akhirnya bisa menjadi kawan.

Pada tahun 2017, saya mendapatkan pesan WA dari seorang teman mengenai pemilihan kepala daerah. Ia memberikan kabar mengenai swalayan (Alfamart, Indomaret, dsb) yang akan dibuka di suatu daerah pinggiran. Melihat fenomena tersebut, ia bersama kelompoknya mendatangi calon pemimpin daerah yang akan maju Pilkada (dan ketika itu ia masih menjabat sebagai kepala daerah periode pertama). Intinya, apabila swalayan sampai dibuka, maka warga masyarakat tidak akan mencoblos dalam Pilkada. 


Calon pemimpin kepala daerah tersebut akhirnya menggagalkan perizinan swalayan. Setelah menjadi kepala daerah, ternyata tidak mampu menepati janjinya. Swalayan tetap dibuka dan sampai sekarang masih berjalan eksis. Bahkan, dari waktu ke waktu semakin mengalami kemajuan. 


Begitulah politik. Dalam bahasa yang umum, Pilkada itu kebalikan dari Pil KB. Pil KB kalau lupa malah jadi, sementara Pilkada kalau jadi malah lupa. 


Setelah sukses menjadi kepala daerah, semakin ke sini ternyata semakin tidak karuan. Swalayan tersebar dimana-mana. Alih-alih mengurangi pengangguran, misalnya, ternyata malah berakibat buruk terhadap pedagang kelontong yang ada di dalam masyarakat. 


Tengoklah lingkungan sekitar! Berapa banyak toko kelontong yang gulung tikar gara-gara munculnya swalayan baru. 


Apakah semua ini karena untuk mengembalikan modal awalnya tatkala akan maju Pilkada? Bisa jadi iya. Namun, sekali lagi, Pemda seharusnya menengok ke dalam bahwa banyaknya swalayan baru secara otomatis berimbas terhadap melemahnya jual-beli di dalam masyarakat. 


Saya jadi teringat Presiden Jokowi tatkala sedang menjabat Walikota Surakarta. Saat itu beliau sangat mempersulit perizinan swalayan. Beliau malah lebih mengutamakan pembangunan pasar tradisional daripada memperbanyak swalayan baru. Hasilnya, rakyat Surakarta sampai sekarang masih menikmatinya. 


Menurut Presiden Jokowi, pasar tradisional itu jauh lebih memberikan manfaat yang lebih besar bagi daerah daripada swalayan. Karcis parkir yang dikelola dengan baik, jauh lebih besar pendapatannya daripada sekedar swalayan yang membayar pajak tiap tahun. Dari pasar tradisional itu pula warga masyarakat dapat berdagang, menjual apa yang dimiliki oleh warga masyarakat. 


Dari sini tampaknya seorang kepala daerah harus banyak belajar dari Pak Jokowi. Sebuah kota yang minim swalayan mungkin akan dikatakan ketinggalan zaman. Biarkan! Lebih baik kotanya ketinggalan zaman namun warganya makmur daripada kotanya indah menawan namun penduduknya banyak yang gulung tikar gara-gara swalayan baru yang tidak dapat dibendung. Bukankah kemakmuran warga masyarakat jauh lebih utama daripada hanya sekedar melihat kemodernan? 


Menjadi pemimpin daerah itu seharusnya yang pro dengan rakyat. Apa yang menjadi aspirasi warga masyarakat itulah yang harus dilakukan, bukan malah sebaliknya. Pemimpin kepala daerah itu ibarat mengikuti rakyat, bukan malah terlalu mengatur rakyat. Rakyat ingin berjualan misalnya, seharusnya "dikasih" jalan, bukan malah "mematikan" jalan rakyat. Salam. 


Salatiga, 29 Desember 2020

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...