![]() |
| sumber gambar : nusabali.com |
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016-2019, Prof. Muhadjir Effendy, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) pernah mempunyai wacana akan membuat Program Full Day School (FDS) untuk tingkat SD dan SMP sederajat. Rencana tersebut akhirnya gagal. Banyak kalangan yang protes, utamanya dari organisasi NU.
Bagi warga NU, FDS dianggap akan mematikan Pondok Pesantren dan sejenisnya. Masyarakat pedesaan biasanya belajar di sekolah sampai siang hari. Dan setelah itu biasanya dilanjutkan dengan mengaji di pesantren, madrasah, TPQ atau di masjid. Sehingga umpama FDS diaktifkan, keberadaan lembaga non formal yang ada di dalam masyarakat kurang atau bahkan tidak akan berfungsi kembali.
Salah seorang teman dari Malang bercerita, bahwa beliau mempunyai anak yang pernah bersekolah di SMP Sabilillah Malang. Sekolah tersebut memang bagus. Sekolah tersebut juga menyelenggarakan sistem pendidikan ala FDS, yang pada intinya belajar seperti sekolah formal plus ada kegiatan mengajinya. Sehingga pulangnya pun sampai sore hari.
Di Kota Malang, tingkat kriminalitas agak tinggi. Bahkan, boleh dikatakan melebihi Kota Surabaya. Mengapa? Malang merupakan kota pendidikan, wisata dan juga kota perdagangan. Hal itulah yang membuat masyarakat berbondong-bondong pergi ke kota Malang untuk belajar, berwisata dan juga mengais rezeki. Tidak mengherankan, bila UMR Malang cukup tinggi oleh karena perputaran uangnya juga cukup besar.
Dulu, di Kota Malang, seorang anak SD pernah ada yang tersandung kasus narkoba. Hal yang tidak lumrah terjadi namun kenyataannya seperti itu. Mungkin atas dasar itulah beliau mewacanakan membuat program FDS, meskipun pada akhirnya banyak yang menolak kebijakan tersebut. Sampai sekarang, hanya sebagian sekolah swasta saja yang masih menerapkan sistem FDS.
Di negara China, FDS sudah berjalan cukup aktif. Di sana minat orang belajar sangat kuat. Anak setingkat SD belajar sampai sore hari, misalnya, maka orang tua tidak ada yang mengeluh. Di sana juga tidak ada pondok pesantren dan sejenisnya. Sehingga umpama belajar sampai sore, tidak ada yang dikhawatirkan.
Berbeda dengan China, adalah di negeri ini. Utamanya di daerah pinggiran, pondok pesantren dan sejenisnya masih tetap bertahan kuat. Saking kuatnya, sampai-sampai ada lembaga yang menaunginya yaitu Kementerian Agama.
Pak Menko PMK sebenarnya mempunyai pemikiran yang cerdas, namun kurang tepat. FDS memang bagus, hanya saja akan membahayakan bagi pondok pesantren tradisional yang menurut catatan sejarah adalah lembaga pendidikan yang tertua di negeri ini. Menghilangkan peranan pesantren dan sejenisnya sama dengan menghilangkan sejarah itu sendiri. Padahal, warga masyarakat yang bagus adalah yang mau menghargai dan menjaga sejarah. Termasuk di dalamnya yaitu tetap menjaga dan merawat keberadaan pondok pesantren dan sejenisnya. Salam.
Salatiga, 9 Desember 2020

Komentar
Posting Komentar