Langsung ke konten utama

Perlunya Memahami Sebuah Tradisi

sumber gambar : wasathiyyah.com

Suatu hari, saat sedang menghadiri acara pengajian dalam rangka persiapan pemberangkatan haji, saya bertemu dengan seseorang yang—bagi saya—lain daripada yang lainnya. Kegiatan pengajian tersebut dihadiri Pak Camat, yang mana jauh-jauh hari sebelumnya sudah diberikan sebuah undangan terlebih dahulu. Sebelum acara dimulai, Pak Camat pun memberikan sebuah sambutan.    

Dalam sambutan itu, orang nomor wahid di kecamatan tersebut pada intinya mengucapkan terima kasih kepada warga masyarakat oleh karena setiap tahun ternyata jumlah warganya yang berangkat haji selalu meningkat. Kalau ibadah haji meningkat, secara tidak langsung juga akan berimbas positif kepada warga masyarakat sekitarnya. Selepas memberikan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu mauidhoh hasanah dari seorang Kyai.             

Pak Kyai memberikan ceramah yang sederhana namun bagi saya cukup menyentuh hati. Beliau berpesan, agar selalu mempunyai pemikiran yang positif manakala berada di tanah suci. Dengan nada serius namun santai, para pengunjung ternyata juga banyak yang tertawa atas apa yang telah disampaikan oleh seorang Kyai lokal dari daerah setempat.         
 
Sebelum acara pengajian selesai, waktu Ashar ternyata tiba. Adzan pun berkumandang. Saat adzan sedang berkumandang, Pak Kyai pun ternyata juga ikut berhenti sejenak. Setelah adzan selesai, beliau akhirnya melanjutkan ceramah sebagaimana tema pengajian itu.      
 
Ketika Pak Kyai sedang jeda sebentar dalam rangka menghormati adzan, tiba-tiba ada orang dari belakang tempat duduk saya yang pergi sebentar meninggalkan acara pengajian itu. Saya berpikiran positif, bahwa ia pergi ke musholla atau masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah secara tepat waktu.      

Dugaan saya ternyata tidak melenceng. Dalam waktu sekitar sepuluh menit kemudian, ia akhirnya datang ke tempat pengajian untuk melanjutkan acara yang sudah dikoordinir oleh IPHI kecamatan setempat.           

Apa yang ia lakukan sebenarnya tidak salah, melainkan kurang tepat. Sholat berjamaah—dan apalagi tepat waktu—merupakan perbuatan yang mulia. Hanya saja, ia kurang menghormati lingkungan setempat. Di saat para pengunjung banyak yang menghormati Kyai yang sedang berceramah, ia ternyata nylonong sendirian meninggalkan ruangan.

Para pengunjung sebenarnya bisa saja melaksanakan sholat Ashar secara tepat waktu, akan tetapi jelas kurang etis oleh karena pengajian belum selesai. Setelah pengajian selesai, Pak Kyai sebagaimana dimaksud ternyata langsung bergegas menuju masjid terdekat, melaksanakan sholat Ashar secara berjamaah. Para tamu undangan pun banyak yang mengikutinya.     

Apa yang dilakukan oleh orang tersebut sesungguhnya mencerminkan bahwa budaya, nilai kepantasan dan nilai kesopanan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam hidup ini. Beragama tanpa menghormati etika budaya yang ada di dalam masyarakat, tentu akan kurang menarik. Benar dalam pandangan agama, belum tentu pantas di dalam masyarakat manakala tidak mengikuti adat-istiadat atau budaya yang ada. Wallahu a’lam. 

Salatiga, 11 Oktober 2019 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...