![]() |
| sumber gambar : alodokter.com |
Dimana-mana, yang namanya donor darah selalu saja digerakkan. Melalui sebuah sekolah, misalnya, juga sering melihat dan mendengar peserta didik yang sedang berlomba-lomba untuk mendonorkan darahnya. Setelah berdonor darah, biasanya mendapatkan mie instan, telur dan susu.
Namun demikian, peserta didik tidak mendapatkan (maaf) uang. Instansi terkait menyuruh peserta didik menyumbangkan darahnya melalui institusi pendidikan, sementara balasan terhadap rakyat ternyata tidak setimpal.
Saya cukup sering mendengarkan suara dari tetangga sebelah mengenai kedholiman yang dilakukan oknum Rumah Sakit. Giliran butuh darah, rakyat hanya ditukar dengan mie instan. Sementara ketika warga masyarakat membutuhkan darah, ternyata malah dimintai uang dengan sejuta alasan; tidak masuk dalam anggaran, di luar BPJS, dan lain sebagainya.
Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang teman yang kebetulan ibunya sedang sakit kekurangan darah merah (leukimia). Secara otomatis, ia pun mengantarkan ibunya ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata disuruh dokter untuk menginap. Ia pun akhirnya mengiyakan permintaan dokter.
Selama tiga hari tidur di Rumah Sakit, ia menghabiskan uang mencapai jutaan rupiah. Yang paling banyak menurutnya digunakan untuk membayar darah. Ketika saya tanya berapa harga per botolnya, ia pun menjawabnya bahwa harga per botol mencapai "sepuluh ringgit".
Sungguh sangat kontradiktif. Ketika butuh darah, rakyat disuruh donor darah. Sementara ketika salah seorang rakyat membutuhkan transfusi darah, rakyat harus membayar. Anehnya, membayarnya pun tidak dalam jumlah yang sedikit.
Kalau Rumah Sakit membutuhkan darah rakyat dengan cara "gratis", seorang warga yang membutuhkan darah seharusnya digratiskan pula. Kalau dari dulu sampai sekarang masih utuh yakni rakyat disuruh membayar manakala membutuhkan darah, artinya fungsi Rumah Sakit kurang bisa membuat masyarakat bahagia, utamanya bagi warga yang kurang mampu. Wallahu a'lam.
Salatiga, 20 Juni 2020

Komentar
Posting Komentar