Langsung ke konten utama

Kesederhanaan Kyai Marzuqi Mustamar

sumber gambar : nu online

Mengunjungi acara pengajian adalah salah satu kegemaran yang cukup menjadi idola dalam kehidupan pribadiku. Selain senang menonton kesenian tradisional, mendengarkan ceramah pengajian di suatu daerah merupakan hobi yang cukup sulit dihilangkan dari perjalanan hidup. Melalui pengajian, ilmu agama akan semakin bertambah. Melaluinya pula, hati kita akan menjadi semakin tertata. 

Sekalipun zaman sekarang mendengarkan ceramah pengajian melalui media online tidak sulit dilakukan, akan tetapi mendengarkan ceramah secara manual tetap masih saya jalankan. Mungkin saja mendengarkan ceramah melalui YouTube akan tetap sama mendapatkan materi tentang ilmu agama, namun mendengarkan ceramah secara manual rasanya berbeda. Di sana ada spirit atau ruh yang tersalurkan melalui hati. Sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Umpama mampu diungkapkan, rasanya tidak akan mampu mewakili keseluruhan apa yang ada di dalam sanubari. 

Sekitar lima tahun yang lalu, saat masih hidup di Kota Malang, saya pernah menghadiri acara pengajian akhirussannah di sebuah pondok pesantren. Kala itu yang akan mengisi ceramah adalah KH. Marzuqi Mustamar. Bagi warga Malang, nama beliau sudah cukup populer. Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga aktif di organisasi NU Jawa Timur dan juga menjadi dosen di UIN Malang. 

Ketika beliau hadir, warga masyarakat  banyak yang tidak mengetahuinya. Warga masyarakat mengira, bahwa beliau adalah warga masyarakat kampung setempat karena kehadiran beliau bersamaan dengan sekelompok warga yang akan mengunjungi pengajian. Setelah sekitar sepuluh menit duduk dengan warga, beliau akhirnya dipanggil oleh panitia menggunakan pengeras suara. 

"Acara inti akan diisi mauidhoh hasanah yang akan disampaikan oleh beliau KH. Marzuqi Mustamar. Kepada beliau waktu dan tempat dipersilahkan," kata panitia. 

Setelah itu, beliau pun naik panggung. Dengan mengenakan pakaian batik sederhana, kopiah hitam serta sandal jepit, beliau bersiap mengisi ceramah. Sesampainya di mimbar panggung, beliau mengisi ceramah dengan santai dan penuh makna. 

Yang disampaikan beliau kala itu cukup menarik. Intinya tentang tahlilan yang saat ini sudah cukup agak memudar di kalangan masyarakat. Tahlil yang sesungguhnya membaca kalimat thoyyibah, sebagian orang mengatakan bahwa tradisi itu adalah bid'ah

"Almarhum Pak Muhaimin adalah seorang Profesor dan juga aktif di organisasi Muhammadiyah, yang sebelum meninggal dunia menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UIN Malang. Kalau ada warga Muhammadiyah tidak mau tahlil, beliau (Prof Muhaimin) sudah berpesan kepada saya untuk mentalqinkan dan memimpin tahlil di rumah beliau selama satu minggu. Bila ada warga Muhammadiyah yang tidak mau tahlil, berarti mereka tidak mau mengikuti jejak gurunya," ungkap Kyai Marzuqi diiringi senyum dan teriakan para jamaah pengunjung pengajian. 

Menurut beliau, tahlil itu adalah produk budaya yang harus dirawat dan bukan untuk ditinggalkan. Meninggalkan atau bahkan membubarkan tahlil sama artinya dengan membumihanguskan budaya itu sendiri. 

Kala itu saya mendapatkan ilmu agama sekaligus teladan kesederhanaan dari beliau. Ulama yang bagus adalah yang selalu mengayomi dan membimbing warga masyarakat, bukan yang selalu mengolok-olok. Beliau diakui oleh warga masyarakat karena kealimannya, keilmuannya, serta yang terakhir adalah kesederhanaannya. Salam.

Salatiga, 11 September 2020

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...