Langsung ke konten utama

Peran Penting Perguruan Tinggi dalam Meluruskan Lembaga Pemerintah

sumber gambar: detiknews.com

Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh Perguruan Tinggi adalah pengabdian di dalam masyarakat. Perguruan Tinggi tidak hanya bertugas mengajar (pendidikan) dan penelitian saja, melainkan mempunyai tanggung jawab yang lebih penting yakni mengubah masyarakat agar menjadi  lebih baik. Termasuk di dalamnya adalah meluruskan lembaga milik pemerintah. 

Sekitar setengah tahun yang lalu, saya mengunjungi kantor Pengadilan Agama yang terkenal dengan penghasil susu sapi di daerah Jawa Tengah. Kedatangan saya dalam rangka sebagai saksi seorang teman yang akan cerai. Ia sebenarnya tidak menginginkan perceraian, namun apalah daya. Ketika dua insan memang sudah tidak bisa bersatu, maka jalan yang sebenarnya kurang dicintai Tuhan pun akhirnya dipilih. 

Di sana, saya melihat begitu masih sangat kental budaya KKN. Siapa yang siap mengeluarkan uang (baca: bawa pengacara), maka akan mendapatkan nomor antrian yang awal. Sementara mereka yang "berjalan normal", maka akan mendapatkan nomor yang agak akhir. Antara seorang pengacara dengan pegawai Kantor Pengadilan Agama sudah kong-kalikong. Berkas yang dibawa oleh seorang pengacara diberikan kode khusus. Saya--oleh karena lurus--meskipun datang awal namun ternyata dipanggil terakhir sendiri. 

Sungguh sangat ironi. Lembaga Pengadilan Agama yang sebenarnya mengurusi masalah keagamaan, birokrasi di dalamnya ternyata masih amburadul. Kantor Pemerintah yang sebenarnya mengajarkan budaya untuk antre, dalam tataran implementasi ternyata tak seindah yang dibayangkan. 

Itu hanya contoh kecil sebuah kantor yang saya kunjungi. Di luar sana, bukan bermaksud untuk mengolok-olok, mungkin masih sangat banyak kasus semrawut yang dilakukan oleh lembaga milik pemerintah. Mereka sebenarnya mengetahui dan bahkan pakarnya tentang "ayat", namun akhlaknya masih kurang sesuai dengan apa yang dikuasainya. 

Fungsi Perguruan Tinggi
Sejak masih kuliah bersemangat, gembar-gembor ingin meluruskan praktik korupsi dan sejenisnya. Namun setelah menjadi pegawai di kantor pemerintah, ternyata tidak semudah itu. Adanya sistem yang sudah terkoordinir ditengarai menjadi salah satu penyebab mengapa lembaga milik pemerintah masih sangat sulit untuk dihanguskan dari praktik korupsi. Salah seorang pegawai misalnya jujur, bisa saja menjadi kurang jujur akibat sistem yang sudah turun-temurun. 

Di sinilah peran pentingnya Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi hendaknya mengontrol, mengawasi dan mengakomodir lembaga milik pemerintah. Meskipun sulit--dan bahkan tidak mungkin terjadi--Perguruan Tinggi sesungguhnya figur yang utama dalam memberantas dunia korupsi di dalam lembaga milik pemerintah. Meskipun berhasil atau tidak, paling tidak sudah mengusahakannya. Dalam pandangan yang umum, ketika bersungguh-sungguh, termasuk ingin memberantas korupsi, maka semuanya akan bisa diraih. 

Yang lebih penting justru masalah hatinya. Seorang mahasiswa tatkala sedang menimba ilmu justru harus sering "disentuh" hatinya. Apabila hatinya sering disentuh, mereka suatu saat nanti kemungkinan tidak akan melakukan praktik korupsi dan semacamnya. Begitulah peran perguruan tinggi dalam mendidik kader-kader bangsa. Wallahu a'lam. 

Salatiga, 17 Juni 2020 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...