Langsung ke konten utama

Bu Indah, Seorang Dokter Baik Hati


sumber gambar : elyesetiawan.com



Di saat sebagian masyarakat mempunyai stigma yang kurang baik terhadap dokter, ternyata saya pernah bertemu dengan seorang dokter yang baik. Ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya mengantar istri ke rumah seorang dokter dalam rangka periksa kehamilan. Sesampainya di rumah dokter tersebut, kami pun disambut dengan ramah. 

Awalnya kami harus antre terlebih dahulu. Maklum, dokter tersebut pelanggannya sudah cukup banyak. Sehingga siapa yang mau periksa ke tempat itu maka harus siap menunggu antrian terlebih dahulu. 

Kami disuruh masuk. Di dalam ruangan itu kami diberi nasehat panjang-lebar mengenai cara merawat janin yang ada di dalam kandungan. Ketika ditanya apakah sudah pernah suntik faksin, istri saya pun menjawabnya belum pernah. 

"Alhamdulillah dok, saya sudah hamil sekitar empat bulan. Oleh dokter Puskesmas setempat, gara-gara korona aku tidak boleh periksa. Aku boleh periksa kalau memang ada keluhan," ungkap istri. 

"Hus, gak boleh mbak. Anda mulai sekarang harus sering-sering pergi ke Puskesmas. Setiap dua minggu sekali harus pergi ke sana. Atau kalau memang terpaksa, ya minimal satu bulan sekali lah harus pergi ke Puskesmas," jawab dokter. 

Setelah itu, kami berdua pun pamit pulang. Saya bertanya pada dokter itu berapa biayanya, namun beliau menjawabnya dengan kata singkat dan padat, gratis. Saya pun bingung. Ketika uang saya di dalam amplop saya selipkan di atas meja kerjanya, beliau ternyata mengembalikannya. Dengan kata lain, beliau menolaknya oleh karena tidak memberikan obat melainkan hanya memberikan pengarahan yang baik. 

Bagi saya, itu bukan hanya pengarahan, melainkan ilmu yang sangat bermanfaat. Bayangkan, umpama ilmu yang beliau sampaikan itu dikonversikan di dalam kampus yaitu SKS, maka sudah "ada harganya". Sayangnya, beliau memberikannya di rumah pribadinya. Beliau mentransferkan sedikit ilmunya dengan ikhlas. 

Beliau bekerja di RS Ken Saras, daerah Bergas, Kabupaten Semarang. Oleh warga masyarakat sekitar Salatiga, beliau terkenal dengan sebutan dokter yang baik. Beliau terkenal dengan biaya yang murah dalam menangani setiap pasien yang datang. Setiap pasien dipatok dengan biaya rata-rata Rp. 25.000,-. 

Apakah ada seorang dokter yang berani mematok tarif semurah itu? Sebatas yang saya tahu, seorang bidan atau mantri desa saja sekali memeriksa pasien tarifnya lebih besar dari nominal tersebut. Rata-rata memasang tarif Rp. 50.000,-. Bahkan bila itu agak sedikit di tengah kota kecamatan, tarifnya bisa mencapai Rp. 75.000,-. 

Meski seorang dokter resmi, namun masih bersikap adaptif terhadap masyarakat. Walaupun pasiennya banyak, namun beliau tetap dengan sabar melayani pasien yang ada. Semoga kebaikan beliau dibalas oleh Tuhan dengan rezeki yang lebih banyak serta berkah. Salam. 

Salatiga, 8 Juli 2020

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...