Langsung ke konten utama

Bersikap Biasa dan Tidak Berubah

sumber gambar : wowkeren.com 

Orang memeluk dan menjalankan perintah agama pada dasarnya agar kehidupannya tidak kacau. Semua agama mengajarkan akan kebajikan dan memerintahkan untuk meninggalkan keburukan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana umpama menjalani kehidupan di dunia ini tanpa peran ilmu agama. Pastinya dunia ini akan semakin kacau. 

Indonesia boleh dikatakan warga masyarakatnya cukup relijius. Masjid-masjid penghuninya sangat banyak. Pondok pesantren juga sangat banyak santrinya. Pula, ada Kementerian Agama, yang khusus mengurusi masalah keagamaan. Namun dalam praktiknya, ternyata  tak seindah yang dibayangkan. Kasus korupsi tampaknya masih sangat sulit dihilangkan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.


Apakah berarti agama itu salah? Tentu tidak. Yang salah adalah manusianya. Manusia kurang pintar dalam "menata" hatinya. Bila warga masyarakat Indonesia sudah pintar menata hati, kemungkinan besar praktik korupsi dan semacamnya tidak akan terjadi. 


Dalam menjalankan perintah agama, di situ ada budaya, yang mana tidak bisa dilepaskan dengan tradisi lokal. Misalnya Islam memerintahkan untuk memperbanyak membaca sholawat nabi, maka cara dan budaya untuk mengamalkannya pun berbeda-beda. Ada yang senang dengan suara lirih, keras, diiringi dengan musik rebana, dan lain sebagainya. Dan itu sejak dulu sampai sekarang masih tetap berlanjut.


Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi acara saparan. Sesampainya di tempat tujuan, saya melihat keunikan yang tampaknya masih sangat asing di perkampungan itu. Orang-orang yang lain banyak yang mengenakan sarung ketika malam hari, ia ternyata malah mengenakan celana panjang yang sudah dipotong (cingkrang). Sontak, saya beserta warga sekitar perkampungan tersebut banyak yang terpana kepadanya.


Adzan Ashar berkumandang, saya  pergi ke musholla setempat. Selesai sholat, saya kembali ke rumah yang tadi. Rumah tersebut adalah rumah teman saya sendiri, teman di waktu masih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kala itu saya berbincang-bincang layaknya sebagaimana manusia pada umumnya. Setelah berbincang cukup lama, saya kemudian dipersilahkan makan oleh teman di ruang makan. Saya pun akhirnya menuruti permintaannya.


Selepas makan, saya kembali melanjutkan pembicaraan. Saya bertanya, itu siapa yang tadi mengenakan celana yang sudah dipotong? Teman saya menjawabnya, bahwa ia merupakan penduduk asli perkampungan tersebut. Oleh karena ingin belajar ilmu agama Islam, akhirnya ia memperdalam ilmunya kepada tetangga sebelah. Tetangga sebelah sebagaimana dimaksud ternyata juga satu aliran yaitu orang yang senang mengenakan celana yang sudah dipotong. Selain itu, ketika sholat tidak senang mengenakan peci/kopyah. 


"Apakah warga masyarakat banyak yang menyenanginya?" tanya saya.  "Banyak," jawab teman. Akan tetapi, menurut teman saya, ia kurang diterima di masyarakat. Dulu ketika belum memperdalam ilmu agama Islam masih sangat toleransi, mau menyapa masyarakat. Sekarang orangnya agak tertutup. Dulu mau berjabat tangan, sekarang sudah tidak mau. Dulu ketika ada acara saparan—meskipun laki-laki—namun mau bersalaman dengan perempuan. Dan itu sudah bersifat umum atau lumrah. 


Menghormati Budaya yang Ada
Sekalipun benar dalam pandangan Islam, namun ternyata kurang diterima oleh masyarakat. Meskipun laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim adalah tidak boleh bersalaman misalnya, namun di dalam masyarakat ternyata tidak seperti itu. Di dalam masyarakat ternyata yang dibutuhkan adalah orang yang mampu menjaga tradisi yang sudah ada; termasuk di dalamnya adalah orang yang saling berjabat tangan ketika baru saja bertemu atau ketika sedang menghadiri acara saparan


Semuanya tergantung pada niatnya seseorang. Umpama kita niatnya menghormati budaya yang itu bagus, maka jalankan dan lanjutkan! Budaya yang bagus yaitu saling berjabat-tangan ketika baru saja bertatap muka, maka jangan ditinggalkan! Kita jangan menganggap masalah batal atau tidak. Kita menganggapnya dari segi budaya. Bukankah semua itu tergantung dari niatnya? Untuk itu, marilah bersikap biasa dan tidak berubah! Wallahu a’lam. 


Salatiga, 17 November 2017 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...