Sekitar satu minggu yang lalu, saya mendapatkan informasi dari seorang teman. Ia berprofesi sebagai tenaga pendidik di SD swasta. Ia mengabarkan, bahwa kalau ingin masuk di sekolah tersebut harus membayar uang sekitar delapan juta rupiah.
Sekolah tersebut memang bagus. Anak didiknya sudah ada yang masuk di televisi swasta dan menjadi pemenang dalam lomba dai kecil. Sehingga bagi orang tua yang mempunyai banyak uang, tidak menjadi masalah asalkan kualitas sekolah tersebut bagus.
Sekolah dengan jumlah peserta didiknya yang sangat banyak, ternyata sudah "beralih fungsi". Menurut informasi teman, dulu setiap peserta didik yang mau masuk di sekolah tersebut diseleksi secara ketat. Misalnya anak yang cerdas, mempunyai prestasi dan lain sebagainya.
Sekarang sekolah tersebut sudah mempunyai aturan yang baru. Masalah prestasi tidak menjadi jaminan. Yang penting mempunyai uang banyak, maka akan lolos dan diterima. Sementara peserta didik yang orang tuanya tidak memiliki banyak uang, meskipun pintar namun secara otomatis akan dieliminasi tatkala pendaftaran siswa baru.
Artinya, fungsi lembaga pendidikan di sekolah tersebut sudah sedikit beralih fungsi. Alih-alih mengutamakan kualitas pendidikan, ternyata malah menjadikan lembaga pendidikan sebagai lahan bisnis. Masalah kepintaran akhirnya dinomorduakan tatkala penerimaan peserta didik baru.
Anehnya, sekolah tersebut membawa label Islam. Sengaja saya tidak menyebutkan identitas sekolah tersebut dengan alasan menjaga nama baiknya. Kemudian muncul pertanyaan, sekolah dengan biaya mahal apakah dibolehkan?
Sekolah yang mempunyai label Islam di dalamnya hendaknya jangan memasang tarif yang terlalu mahal. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Sekolah Islam hendaknya mengayomi orang yang juga tak mampu secara finansial. Jangan hanya menampung orang-orang yang elit (kaya) saja.
Bila yang diterima hanya orang yang berduit saja, sekolah tersebut bisa jadi akan kehilangan wibawanya. Lembaga pendidikan yang mengutamakan uang sebagai piranti utama, tak ubahnya seperti manusia. Ia saat ini masih mempunyai banyak kolega (baca: peminat). Bila suatu saat ia tidak mempunyai uang, maka akan ditinggalkan oleh para peminatnya; yang dalam hal ini adalah orang tua peserta didik dan atau warga masyarakat. Wallahu a'lam.
Salatiga, 21 Juni 2020

Komentar
Posting Komentar