![]() |
| sumber gambar: lipi.go.id |
Sejak masih kecil, saya sering mendengarkan mitos dari para sesepuh, bahwa ular tidak akan mati kalau tidak dibunuh manusia. Sampai kiamat nanti, ular baru akan mati semuanya.
Selain mitos yang seperti itu, ekor ular katanya dapat menyembuhkan tubuhnya manakala sedang sakit. Umpama dipukuli manusia di bagian kepala, ular kemudian pingsan, seakan-akan sudah mati. Orang mengiranya sudah mati. Ketika ditinggal pergi, ular ternyata masih hidup dan pergi lagi ke alam bebas.
Kala itu saya penasaran. Pernah suatu hari saya sedang bermain di sawah bersama teman-teman. Salah seorang teman melihat ular dan kemudian kita memukulinya. Di tengah perjalanan ular pun lemas, tidak berdaya. Kelihatan sudah mati.
Oleh karena penasaran--dan juga ingin melihat bukti--saya membawa ular tersebut ke rumah. Sesampainya di rumah, ular tersebut kemudian saya bungkus di dalam karung. Saya ikat bagian atas karung. Esok harinya selepas bangun tidur, ular tersebut ternyata bergerak dan hidup kembali. Saya akhirnya membawanya ke sawah dan melepaskannya kembali.
Masih cerita yang hampir sama, seorang tetangga juga ada yang penasaran mengenai mitos ular yang sulit mati. Orang tuanya pernah memukuli ular. Ketika sudah kelihatan lemas, ia akhirnya membawa ular tersebut ke dalam belakang rumah. Di tempat tersebut, ia kemudian menutup ular dengan menggunakan sebuah ember. Ketika esok pagi ember tersebut dibuka, ternyata ularnya kabur ke kebun.
Namun dari itu, menurut cerita orang tua, ular termasuk salah satu binatang yang paling kuat tirakat. Ia sekali makan akan mampu bertahan sampai 40 hari. Oleh karena itu, para orang tua terdahulu sering berpesan, kalau ingin mandi racunnya (baca: doanya mustajab), maka jadilah seperti ular yakni mengurangi makan. Siapa yang ingin sukses di kemudian hari, maka tak ada salahnya jika mengikuti jejak ular yaitu mengurangi makan (puasa).
Selain tidak makan, jika kita merenung secara mendalam, justru seharusnya yang lebih menyentuh hati adalah kita tidak boleh sombong. Ular tidak diberikan kaki oleh Tuhan, namun ia tetap menerimanya. Bila manusia tidak diberikan kaki oleh Tuhan, misalnya, apa yang terjadi? Salam.
Salatiga, 24 Juni 2020

Komentar
Posting Komentar