Setamat dari SD, saya pernah dinasehati orang tua, agar selalu melaksanakan tirakat. ‘’Kalau kamu ingin sukses di kemudian hari, maka harus sering tirakat,’’ pesan orang tua kepada anaknya. Saya kira semua orang akan setuju dengan petuah orang tua yang baik tersebut.
Kata tirakat sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, taraka, yang artinya meninggalkan. Meninggalkan di sini maksudnya adalah meninggalkan kesenangan duniawi sejenak. Misalnya, mengurangi makan (puasa) dan mengurangi tidur (sholat malam).
Pada dasarnya, manusia itu terdiri dari dua bagian yaitu jasad (jasmani) dan ruh (ruhani). Jasmani membutuhkan sebuah makanan. Begitu juga dengan ruhani.
Jasmani membutuhkan makanan berupa karbohidrat, protein, mineral dan lain sebagainya. Sementara ruhani, membutuhkan makanan berupa dzikir (mengingat Allah), melakukan kesunahan, dan lain sejenisnya. Sayangnya, kadang manusia hanya memberi makan pada jasmaninya, sementara ruhaninya masih tidak terawat atau terbengkalai.
Bagi saya, tirakat itu bagaikan orang yang sedang menabung; yang di kemudian hari dapat dipetik hasilnya. Orang yang sedang menabung uang, misalnya, suatu saat bisa mengambil hasil dari uang yang telah ditabungnya. Begitu pula orang yang sedang tirakat, suatu saat pasti akan menuai atau mengunduhnya.
Usaha dengan gerakan anggota tubuh yang kemudian mengeluarkan keringat merupakan tirakat jasmani. Sedangkan usaha dengan cara mendekatkan diri (baca: ibadah) kepada Tuhan merupakan tirakat ruhani.
Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, yaitu dengan bekerja keras, suatu saat pasti akan berhasil. Ditambah lagi dengan tirakat, maka akan semakin membahagiakan di kemudian hari. Wallahu a'lam.
Salatiga, 3 Mei 2020