Perbedaan adalah sesuatu yang tidak
dapat kita hindari. Tanpa perbedaan, hidup ini menjadi kurang menarik. Jangankan
dalam satu desa, dalam sebuah keluarga saja perbedaan pendapat sudah bukan
merupakan hal yang asing. Perbedaan merupakan sebuah rahmat.
Berkaitan dengan hal tersebut, selepas mendapatkan tugas untuk menjadi imam sholat tarawih di
sebuah masjid, ada yang bertanya kepada saya, mengapa dzikir yang saya pimpin
mengeluarkan suara yang agak keras. Dengan kata lain, semua makmum yang berada
di belakang dapat mendengarnya.
Sebagian orang yang mendapat jatah imam ada yang dengan menggunakan suara lirih
membaca dzikir setelah sholat. Sementara saya sendiri, oleh karena berada di
perkampungan, masih menggunakan tradisi yang diwariskan ulama terdahulu yakni
dzikir dengan suara agak keras.
Menanggapi pertanyaan tersebut, saya kemudian menjawabnya dengan hati-hati
supaya tidak menyinggung perasaannya. Umpama saya menjawabnya dengan argumen ulama
terdahulu, mungkin ia akan keberatan. Saya pun menjawabnya dengan akal pikiran
secara logis.
Mengapa saya berdzikir dengan suara agak keras adalah oleh karena siapa tahu
ada manfaatnya. Siapa tahu, ada yang belum bisa berdzikir setelah sholat, maka
secara tidak langsung akan mengerti bacaan dzikir tersebut. Paling tidak, sudah
pernah mendengar kalimat thoyyibah yang
indah itu.
Umpama setelah sholat saya memimpin dzikir dengan suara lirih, misalnya ada
seorang yang tidak tahu bacaan dzikir setelah sholat, maka tidak akan
mengetahuinya. Sekali lagi, mengapa saya berdzikir agak keras adalah oleh
karena siapa tahu ada manfaatnya. Salam.