Langsung ke konten utama

Pak Takim, Dengan Mengucap Bismillah Membangun Musholla

  

Pada tahun 1979, datanglah seorang prajurit ABRI (sekarang TNI) dari Kabupaten Purworejo. Ia adalah Pak Mustakim. Tiga tahun kemudian, ia menikah dengan seorang gadis yang berasal dari daerah kaki gunung Merbabu.           

Seorang yang pernah bertugas di kantor Korem 411 Kota Salatiga tersebut sekarang telah dikaruniai dua orang anak wanita. Alhamdulillah, keduanya sekarang sudah menikah. Anak yang pertama bekerja sebagai Guru SD, sementara anak yang terakhir bekerja sebagai Perawat di sebuah Rumah Sakit.           

Tiga puluh tahun lebih beliau menetap di pinggiran Kota Salatiga. Beliau pun bingung dengan keadaan lingkungan sekitar. Pasalnya, di daerah sekitar yang beliau tempati, sebagian besar penduduknya beragama non-Muslim. Yang beragama Islam boleh dikatakan hanya dapat dihitung dengan jari.
 
Beliau tinggal di Dukuh Kenteng Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga. Selama puluhan tahun lebih menetap di kampung itu, beliau sering sholat di dalam rumah bersama anak dan istrinya. Kadang-kadang beliau sholat di kampung sebelah, guna mencari musholla yang kemudian digunakan untuk ibadah, menghadap Sang Kholik.  

Di kampung tersebut, ternyata tidak ada satu pun musholla—apalagi masjid. Jumlah gereja di kampung itu ada tiga buah. Beliau akhirnya merenung, di dalam hatinya seraya berkata, ‘’Ya Allah, berikanlah saya rezeki yang luas, agar bisa membangun sebuah musholla di kampung ini.’’ Setelah bercerita kepada istrinya, ternyata juga mendukung langkah baik yang dilakukan beliau. Akhirnya, mereka berdua pun berdoa bersama-sama secara khusus, berharap agar apa yang mereka inginkan segera terwujud, segera dikabulkan oleh Tuhan.     

Pada tahun 2016, ketika sedang pengajian rutinan, Pak Takim—begitu biasa warga masyarakat memanggilnya—meminta bantuan doa dan restu kepada para jamaah. Mengandalkan warga masyarakat sekitar jelas agak berat, sebab secara akal sudah berbeda agama. Dengan mengucap bismillah, beliau pun akhirnya memulai membangun musholla yang berada di tanah miliknya sendiri. 

Pak Takim pun tidak membuat proposal kepada Pemerintah atau yayasan lain. Namun dari itu, ketika memulai membangun musholla, para pemberi donatur ternyata datang dari berbagai daerah; baik tetangga lokal maupun orang dari luar daerah. Dengan sistem getok tular, pembangunan musholla yang beliau lakukan ternyata tercium oleh khalayak luas.

Pembangunan musholla tersebut tentu tidak langsung sekali jadi. Pada suatu saat, ketika akan menggaji karyawan, beliau pun merasa cukup kebingungan. Di dalam sujud tengah malam, beliau meminta pertolongan kepada-Nya. ‘’Ya Allah, berilah aku rezeki yang tak terkira dari mana datangnya, untuk menggaji karyawan yang jumlahnya tidak sedikit,’’ doa beliau kepada Tuhan.   

‘’Assalamu’alaikum, apakah ini benar rumahnya Pak Takim,’’ ungkap seorang tamu tak dikenal. ‘’Wa’alaikumsalam, iya benar ini rumah saya,’’ jawab Pak Takim. ‘’Saya disuruh oleh seseorang untuk memberikan amplop ini Pak, guna membantu pembangunan musholla,’’ lanjut tamu. ‘’Iya, terima kasih. Semoga Allah memberikan rezeki yang lebih luas dan berkah kepada panjenengan dan yang menitipkan amplop ini,’’ jawab Pak Takim sembari meneteskan air mata.  

Ketika amplop itu dibuka, ternyata isinya tidak sedikit. Beliau membuka di hadapan para karyawan yang sedang bekerja membangun musholla. Isi amplop itu adalah delapan juta. Di dalam amplop itu juga ada sebuah kata-kata, yang isinya, ‘’Dari Hamba Allah. Semoga musholla-nya cepat selesai.’’      

Kini, musholla tersebut sudah selesai jadi. Bangunannya bagus, kuat dan bersih. Pak Takim yang sekarang sudah hidup sebatang kara, semoga istrinya bahagia di surga-Nya, atas jerih payah beliau berdua dalam membangun sebuah musholla. Semoga Pak Takim selalu diberikan kesehatan oleh-Nya, merawat dan melaksanakan sholat berjamaah di musholla yang telah beliau perjuangkan. Salam.         

Argomulyo, 7 April 2020


Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...