Hampir setahun yang lalu, ketika sedang melaksanakan sholat tarawih pada bulan Ramadhan, saya merasakan ada sesuatu yang cukup aneh. Saya melaksanakan sholat tarawih di masjid kecil, di daerah Tingkir Salatiga. Mengapa aneh? Pasalnya, sependek pengetahuan saya, masyarakat Tingkir dan sekitarnya merupakan penganut Islam Nusantara yang sudah diwariskan oleh nenek moyang sejak dahulu kala.
Bagi warga masyarakat Salatiga dan sekitarnya mungkin sudah banyak yang mengetahui, bahwa daerah Tingkir merupakan kawasan santri. Di sana banyak musholla-musholla kecil yang digunakan untuk kegiatan ibadah warga masyarakat. Madrasah Diniyah (TPQ/TPA, Sekolah Arab, Sekolah Sore) juga banyak. Para kyai pun juga cukup banyak; mulai dari yang lulusan ponpes lokal di Jawa Tengah hingga yang lulusan dari ponpes di Jawa Timur.
Beda halnya yang berada di tengah kota. Musholla-musholla biasanya cenderung lebih sedikit. Bahkan, boleh dikatakan tidak ada. Di tengah Kota Salatiga yang lebih banyak atau lebih dominan biasanya adalah masjid.
Warga masyarakat Tingkir biasanya ketika melaksanakan sholat tarawih berjumlah dua puluh rokaat. Ketika sholat Subuh biasanya juga menggunakan doa qunut. Setelah selesai adzan biasanya ada pujian terlebih dahulu. Selepas melaksanakan sholat Jum’at biasanya ada kegiatan tahlilan. Dan begitu pula seterusnya.
Ketika itu saya pun memakluminya, oleh karena saya ternyata sholat di dalam sebuah perumahan. Kita mungkin sudah sangat mengerti, bahwa kehidupan di dalam perkampungan biasanya sudah sangat berbeda dengan warga masyarakat yang hidup di dalam perumahan. Meski tidak selalu, budaya individualisme di dalam perumahan biasanya cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kehidupan warga masyarakat perkampungan biasa.
Memperkecil Gerak Perumahan
Untuk meminimalisir agar Islam Nusantara tetap tegak
di suatu daerah, maka seorang Bupati/Walikota atau instansi yang terkait harus
agak mempersulit perizinan sebuah perumahan baru. Mengapa? Semakin banyak
perumahan, secara tidak langsung akan membuat warga masyarakat yang mempunyai
sifat individualisme menjadi semakin banyak. Semakin hari pun, jika itu
berlangsung lama, maka juga akan semakin bertambah terus.
Selain individualisme, justru yang lebih penting adalah budaya praktis dalam beribadah akan menjadi semakin masif. Orang-orang menjadi sangat bersemangat dalam melaksanakan sholat atau ibadah yang lainnya namun dalam waktu yang sebentar. Ketika disuruh ibadah dalam durasi waktu yang cukup lama, mereka kemungkinan akan kurang bersemangat. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka enggan pergi ke masjid atau musholla untuk melaksanakan sholat.
Jika seorang pimpinan sebuah daerah agak sedikit mempersulit izin perumahan, maka ‘’Islam lokal’’ pun biasanya lebih mudah untuk dijaga. Selain itu, sebagaimana di muka, budaya pragmatis dan budaya individualisme pun dapat diminimalisir. Wallahu a’lam.
Selain individualisme, justru yang lebih penting adalah budaya praktis dalam beribadah akan menjadi semakin masif. Orang-orang menjadi sangat bersemangat dalam melaksanakan sholat atau ibadah yang lainnya namun dalam waktu yang sebentar. Ketika disuruh ibadah dalam durasi waktu yang cukup lama, mereka kemungkinan akan kurang bersemangat. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka enggan pergi ke masjid atau musholla untuk melaksanakan sholat.
Jika seorang pimpinan sebuah daerah agak sedikit mempersulit izin perumahan, maka ‘’Islam lokal’’ pun biasanya lebih mudah untuk dijaga. Selain itu, sebagaimana di muka, budaya pragmatis dan budaya individualisme pun dapat diminimalisir. Wallahu a’lam.
Salatiga, 25 Maret 2020
Komentar
Posting Komentar