Langsung ke konten utama

Keunikan Prof. Yudian Wahyudi


sumber gambar : republika

Dunia akademik merupakan kaumnya orang-orang intelek. Tidak mengherankan, orang-orang yang mempunyai kompetensi bisa diangkat menjadi menteri atau staff khusus menteri. Biasanya yang diangkat staff khusus adalah seorang Dosen yang minimal sudah bergelar Doktor (S-3). Lebih diutamakan lagi biasanya yang sudah bergelar Profesor.         

Sebagai contoh adalah Prof. Malik Fadjar. Alumni IAIN (sekarang UIN) Malang ini pernah menduduki jabatan sebagai Menteri Agama, Menteri Pendidikan, serta Menteri  Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra). Sejak tahun 2015, beliau ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) hingga saat ini.           
 
Dari Kota Surabaya ada Pak Nur Syam. Seorang yang setiap hari bekerja sebagai Dosen di kampus UIN Sunan Ampel tersebut pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag). Setelah beliau purna, jabatan beliau sekarang digantikan oleh Prof. Nur Kholis, seorang Guru Besar dari kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Di kampus UIN Alauddin Makasar ada orang yang sangat jenius. Beliau adalah Prof. Kamaruddin Amin. Oleh karena dirasa cukup mampu, beliau akhirnya diangkat menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Islam, mendampingi Pak Lukman Hakim Syaifuddin. Informasi yang terbaru, beliau sekarang menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam).
 

Sedangkan dari Ibu Kota Jakarta ada Pak Arskal Salim. Seorang Guru Besar dari kampus UIN Syarif Hidayatullah tersebut sekarang menduduki jabatan sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam.         

Terakhir, ada Pak Yudian Wahyudi dari kampus UIN Sunan Kalijaga. Seorang santri alumni Tremas Pacitan ini sejak tahun 2016-2020 menjabat sebagai Rektor di kampus PTKIN yang tertua di Indonesia. Belum selesai masa tugasnya, beliau sudah ditunjuk Pak Jokowi, merangkap jabatan sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Masyarakat Indonesia mungkin sudah mengetahui, bahwa BPIP tidak ada hubungannya dengan Kementerian Agama. Sehingga tidak mengherankan, ketika beliau dilantik menjadi Kepala BPIP, cukup banyak warga masyarakat yang menolaknya. Pro dan kontra pun datang dari berbagai daerah. 

Semenjak menjabat Rektor, beliau pernah mengeluarkan surat yang cukup membuat banyak polemik di dunia kampus. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pun cukup banyak yang memprotesnya. Kritikan juga datang dari para Rektor kampus dan bahkan juga dari seorang Menteri Ristekdikti kala itu. Alasan beliau sederhana, supaya Dosen lebih mudah mengenali mahasiswinya manakala tidak menggunakan cadar.        

Semasa menjabat Rektor, beliau juga mendirikan organisasi Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara. Mungkin atas dasar itulah Presiden Jokowi akhirnya mempertimbangkannya. Sampai sekarang, mungkin akan menjadi sejarah baru oleh karena Dosen dari Kemenag menduduki jabatan sebagai Kepala BPIP.           

Di saat para pendidik dari lingkungan Kementerian Agama menduduki jabatan sebagai menteri atau staff khusus, beliau ternyata aneh sendiri. Lain daripada yang lainnya. Oleh sebab itu saya menyebutnya bahwa beliau adalah makhluk yang unik.Wallahu a'lam.  

Salatiga, 20 Maret 2020

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...