Langsung ke konten utama

Mencermati CPNS 2019


Jika mencermati CPNS tahun anggaran 2019, tampaknya sudah semakin membaik. Entah itu di pusat, daerah, lembaga, kementerian dan lain sebagainya. Meskipun, di sana-sini tentu harus ada perbaikan.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang berprofesi sebagai Guru Olah Raga yang beralamat di daerah Tingkir Salatiga. Ketika itu (2009), ia mendaftarkan diri sebagai CPNS di sebuah kota. Tes SKD berhasil lolos, sedangkan Tes SKB-nya hampir tidak lolos. Ketika wawancara, seorang anggota panitia CPNS di kota tersebut meminta uang sebagai “syukuran”. 


Teman saya sebagaimana dimaksud menolaknya. Teman saya mengatakan kepada panitia, “Saya tidak mempunyai uang. Umpama saya tidak lolos, mungkin belum rezeki saya menjadi seorang PNS.” Namun dari itu, rezeki ternyata tidak kemana. Teman saya akhirnya lolos dan sekarang menjadi Guru PNS di daerah Kecamatan Tingkir Salatiga.

Jika mencermati kejadian pada tahun tersebut, artinya seorang oknum yang nakal masih bisa mengotak-atik sebuah nilai. Wewenang kelulusan masih menjadi keputusan pemerintah daerah (pemda) setempat. Alih-alih mengatakan, 'Kalau lulus nanti syukuran ya,' adalah sebagai bukti bahwa oknum pihak panitia masih mengharapkan uang sebagai pelicin.

Pada tahun 2014, saya juga mendengarkan kabar mengenai CPNS yang kurang mengindahkan pendengaran. Seorang tetangga yang sudah lulus SKD, ketika akan ujian SKB ternyata didatangi oleh segerombol orang yang mengatakan sebagai utusan dari pimpinan sebuah kabupaten. Seorang tetangga sebagaimana dimaksud tidak siap membayar uang dan sampai sekarang pun belum lolos CPNS.

Mungkin atas dasar itulah, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan yang baru. Pada tahun 2018, tes CPNS di tingkat pemda tidak menggunakan wawancara, melainkan menggunakan komputer. Tes SKB menggunakan wawancara ditengarai banyak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Lebih dari itu, panitia tes SKB juga tidak dari pemda, melainkan dari pegawai BKN pusat. Pada tahun tersebut menjadi semakin jelas, bahwa CPNS sudah semakin jujur. Tes CPNS sudah murni menggunakan komputer dengan wawasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta. Selain itu, tidak menutup kemungkinan adanya faktor “bejo” dari setiap peserta.


Meskipun demikian, jika melihat realitas, saya masih sering mendengar suara dari masyarakat bahwa CPNS merupakan “titipan”. CPNS bagi orang-orang terdahulu mungkin sudah merupakan paradigma, bahwa yang bisa menjadi CPNS adalah orang “itu-itu saja”. Anak seorang petani, misalnya, kala itu sangat sulit untuk menjadi seorang ASN. Pada umumnya, yang menjadi CPNS adalah sistem kekeluargaan atau “turun-temurun”.

Apakah orang tua terdahulu tidak salah mempunyai pemikiran yang seperti itu? Tentu tidak. Ini adalah tugas kita bersama untuk menjelaskan kepada mereka bahwa CPNS sudah murni dan jujur. Jangan percaya kalau ada seorang calo yang mengatakan bisa meloloskan CPNS karena semuanya sudah tersistem dan terekam melalui perantaraan sebuah KTP.

Karya Ilmiah (Kompetensi)
Ke depan, mungkin saja CPNS—utamanya Guru—sudah tidak menggunakan tes SKD dan SKB semata, akan tetapi menggunakan tambahan lain yaitu karya ilmiah. Atau bisa juga orang-orang yang mempunyai kompetensi dibidangnya. Misalnya saja, seorang Guru Olah Raga, meski tidak lolos SKD, bisa saja diloloskan menjadi CPNS oleh pemda oleh karena pernah menjuarai renang tingkat nasional.

Jika orang-orang yang mempunyai kompetensi diangkat CPNS, maka akan semakin membaik. Kelulusan CPNS tidak hanya murni menggunakan komputer semata, akan tetapi orang-orang yang mempunyai “kelebihan khusus” juga harus diperhatikan oleh pemerintah. Artinya, setiap warga masyarakat jika ingin menjadi CPNS harus siap bersaing mempunyai keahlian.

Jika itu mampu dilakukan oleh pemerintah, maka “momok” atau “residu” di dalam masyarakat akan segera hilang. “Itu lho, anaknya petani namun diangkat menjadi PNS oleh Bupati gara-gara menang lomba membuat mesin kopi tingkat internasional,” ungkap suara masyarakat. Racun di dalam masyarakat harus segera diubah, bahwa seorang anak petani juga bisa menjadi PNS. Wallahu a’lam.  

Salatiga, 7 Februari 2020


Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...