Langsung ke konten utama

Larangan Makan Setelah Magrib

Sejak masih kecil, selepas menjalankan sholat Magrib, saya selalu dinasehati orang tua untuk tidak makan. Pesan yang serupa juga dialami oleh teman-teman sebaya di kampung halaman. “Bar Magrib kui ojo mangan, parine mengko ora panen (setelah Magrib itu jangan makan, tanaman padinya nanti tidak panen),” ungkap orang tua.

Dulu saya tidak banyak bertanya kepada orang tua mengenai hal tersebut; mengapa dilarang, apa alasannya, apa landasan filosofisnya dan lain sebagainya. Orang tua mengatakan apa, maka saya tinggal menjalankan perintahnya. Bagi anak kecil sekarang mungkin akan bertanya: apa hubungannya antara makan setelah Magrib dengan gagal panen padi di sawah?

Ternyata, di dalam pesan tersebut ada sebuah nilai pendidikan bahwa orang tua menyuruh anaknya untuk selalu belajar mengaji al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman lainnya di musholla atau masjid. Sebagiannya lagi ada yang mengaji di rumahnya kyai kampung. Orang tua tidak mengatakan langsung apa yang sebenarnya diinginkan, namun jika dipikir secara mendalam ternyata mempunyai maksud dan tujuan yang baik.

Jika dipikir secara saksama, apa yang dipesankan oleh orang tua yaitu untuk selalu mengaji selepas Magrib adalah pembentukan karakter. Karakter yang bersifat positif yaitu budaya tertib mengaji al-Qur’an. Anak-anak yang sejak kecil tertib membaca al-Qur’an selepas Magrib, maka biasanya akan terbawa sampai usia remaja dan bahkan tua. Sebaliknya, anak-anak yang sejak kecil tidak tertib dengan membaca al-Qur’an, maka ketika dewasa biasanya juga akan kurang semangat.

Saya mempunyai seorang teman yang hidupnya di tengah kota. Oleh karena hidupnya di tengah kota, maka budaya mengaji al-Qur’an pun biasanya tidak se-semarak yang ada di perkampungan. Di tengah kota mungkin saja ramai penduduknya, akan tetapi dalam hal “spiritualitas” mungkin saja masih sangat kalah dengan warga perkampungan. Oleh sebab itu bersyukurlah kepada mereka yang hidup di dalam perkampungan.

Seorang teman sebagaimana dimaksud kemudian datang menemui saya, bermaksud ingin belajar membaca al-Qur’an. Saya pun dengan penuh hati sangat terbuka. Satu-dua kali awalnya ia sangat bersemangat, lambat laun ternyata bosan. “Budaya tertib sejak kecil ternyata membawa pengaruh yang sangat besar dalam menggapai kehidupan tua,” ungkapnya sembari senyum. Pada intinya, budaya tertib sejak kecil memang harus dilatih sedini mungkin.

Oleh karena sejak kecil menjalankan kegiatan yang seperti itu, maka meninggalkannya akan sangat susah. Kalau tidak dijalankan, rasanya ada yang sangat kurang. Oleh sebab itu, kalau tidak terpepet atau ada kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan, saya selepas Magrib harus membaca al-Qur’an, walau hanya beberapa ayat saja. Wallahu a’lam.

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...