![]() |
Hal yang membuat menarik bagi saya adalah oleh karena kekompakannya dalam menari. Para pemain reog atau kuda lumping yang sebelumnya sudah latihan terlebih dahulu, ternyata mampu membuat para penonton menjadi terkesima. Gerakannya lincah, teratur, dan lenggokan tangannya sangat piawai. Mereka memainkannya dengan tujuan untuk menghibur masyarakat.
Perekonomian warga secara tidak langsung juga akan
berjalan. Dari yang tadinya tidak berjualan, akhirnya bisa berjualan seadanya.
Ada yang menjual gorengan tempe, tahu campur, minuman, rokok, dan lain
sebagainya. Menggembirakannya lagi adalah para penonton yang dikenakan biaya parkir lima
ribu rupiah. Setelah mendapatkan cerita dari salah satu panitia, uang
parkir tersebut ternyata digunakan untuk membayar sewa group kelompok reog.
Hal yang kurang menarik bagi saya--dan ini jangan ditiru--adalah adanya beberapa
penonton yang bermain judi. Mereka menikmatinya dengan enjoy. Menurut salah seorang penonton, yang membuat
menarik adalah kegiatan judi sebagaimana dimaksud. “Tanpa ada judi, maka akan
kurang menarik dan kurang semarak,” sambungnya. Warga masyarakat biasa
menyebutnya dengan ungkapan judi otok yaitu judi dengan menggunakan dadu dan batok kelapa.
Di wilayah hukum Kota Salatiga, setiap
ada acara reog atau kuda lumping tidak ada yang bermain judi. Pemerintah kota,
warga masyarakat dan juga pihak keamanan telah sepakat, bahwa setiap ada
kegiatan yang berfungsi untuk menghibur masyarakat, maka tidak boleh ada
kegiatan yang berbau negatif. Dulu saya pernah bertanya kepada ibu-ibu ketika sedang
nonton reog. Saya bertanya, lebih setuju ada judi atau tidak ketika ada reog? Ia
pun menjawabnya, lebih setuju jika tidak ada judi.
Setelah menonton reog, ketika itu pikiran saya
menjadi teringat ketika masih hidup di Kota Malang. Di Malang namanya seni kuda lumping "Bantengan". Perbedaannya adalah
kalau Bantengan sering memakan korban. Maksudnya, terkadang penonton harus
sedikit terluka oleh karena terkena topeng yang dipakai pemain kemudian
dilemparkan. Lebih dari itu, terkadang juga masih sering ada penonton yang
berkelahi.
Di Malang, tradisi bersiul ketika menonton Bantengan
merupakan hal yang biasa. Para pemain reog biasanya akan marah, yang kemudian
mengamuk atau menyerang para penonton. Di Salatiga dan sekitarnya, jika ada
reog dan ada penonton yang bersiul, biasanya para pemain reog akan damai-damai
saja. Tidak marah dan apalagi menyerang kepada para penonton.
Menjaga budaya yang ada di dalam masyarakat, merupakan sesuatu yang sangat penting untuk ditumbuhkembangkan. Bayangkan, umpama budaya yang sudah ada itu disepelekan oleh warga, maka lambat laun akan menjadi sepi penggemar atau peminatnya. Jika sudah sepi peminatnya, maka sejarah akan menjadi hilang secara perlahan. Untuk itu, cintailah budaya Indonesia yang ada di dalam masyarakat! Salam.
Pabelan, 8 Desember 2018

Komentar
Posting Komentar