![]() |
| sumber gambar : qureta.com |
“Budaya menghafal lebih dominan daripada budaya menulis,” kata Prof. Yudian.
Mendasarkan apa yang diungkapkan Pak Yudian, saya
kemudian berpikir, benarkah apa yang disampaikan beliau? Sedikit pengalaman
yang saya dapat, tampaknya sungguh sangat benar apa yang disampaikan oleh orang
nomor satu di kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut.
Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan sebuah
kabar, mengenai adanya program Sagu-Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang dikeluarkan
oleh pemerintah. Maksud pemerintah sebenarnya sangat bagus, yakni agar
pemikiran seorang Guru menjadi semakin berkembang, seperti layaknya seorang
Dosen. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar dan mendidik, melainkan juga
menulis.
Pertanyaannya adalah akankah program tersebut
berhasil? Saya turut berdoa, semoga apa yang diinisiasi oleh pemerintah akan
segera terwujud atau terlaksana dengan baik.
Menulis Sebagai
Kebutuhan
Jangankan menulis sebuah buku, sekedar untuk memulai
menulis sebuah tulisan saja masih banyak Guru—dan mungkin juga Dosen—yang masih
malas untuk memulainya. Menulis seakan-akan masih sebagai “kewajiban” belaka,
dan belum sampai tingkat “kebutuhan”.
Misalnya seorang dosen menulis hanya karena sebagai syarat untuk naik pangkat dan belum
sampai tingkat kebutuhan sehari-hari. Menulis seharusnya diumpamakan seperti
makan nasi (baca: kebutuhan), yakni umpama belum menulis, maka akan ada sesuatu yang kurang di
dalam hidupnya.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah plagiarisme. Saya kadang mendengarkan sebuah berita mengenai adanya seorang Dosen
yang membeli sebuah artikel jurnal, guna kenaikan pangkat. Oleh karena merasa
sibuk dan atau tidak mampu, jalan pintas—yang sebenarnya adalah salah—pun
akhirnya diterjang. Seorang yang dianggap kaum intelek oleh warga masyarakat,
namun saja masih ada oknum yang
melanggar kejahatan ilmiah.
Jika seorang Dosen sudah menerapkan budaya menulis
sebagai kebutuhan, maka akan dengan mudah menghasilkan tulisan. Tulisan-tulisan
tersebut kemudian dikumpulkan dan dibuat menjadi sebuah buku.
Begitu juga dengan seorang Guru. Ketika pemerintah
sudah mencanangkan program sagu-sabu, maka hal yang harus pertama dan utama
dilakukan adalah seorang Guru harus memulai untuk menulis. Jika menulis sudah
sering dilakukan, maka akan terasa mudah. Menghasilkan satu buah buku pun, jika
itu konsisten, saya berani yakin akan sangat mudah.
Jika menulis sudah menjadi sebuah kebutuhan seorang
Guru dan Dosen, maka keintellektualitasan seorang pendidik akan semakin
terbukti. Seorang pendidik tidak hanya pintar berbicara, melainkan ada bukti
fisiknya yaitu sebuah buku. Selain itu, jika seorang Guru dan Dosen sudah
menerapkan budaya menulis yang tinggi, kemajuan bangsa ini pun akan semakin membaik.
Indonesia akan semakin jaya. Di mata dunia internasional pun akan semakin ada
harganya. Wallahu a’lam.
Salatiga, 7 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar