Langsung ke konten utama

Kelemahan Dosen Nusantara

sumber gambar : qureta.com

Ketika sedang merokok sambil ditemani secangkir kopi, secara tidak sengaja saya membuka HP. Di dalam HP tersebut saya kemudian membuka website resmi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di dalam website tersebut saya cukup terkejut melihat apa yang disampaikan oleh Prof. Yudian Wahyudi, Rektor di kampus PTKIN yang tertua di Indonesia, yang juga merangkap jabatan sebagai President of Asian Islamic Universities Association (AIUA).

“Budaya menghafal lebih dominan daripada budaya menulis,” kata Prof. Yudian.

Mendasarkan apa yang diungkapkan Pak Yudian, saya kemudian berpikir, benarkah apa yang disampaikan beliau? Sedikit pengalaman yang saya dapat, tampaknya sungguh sangat benar apa yang disampaikan oleh orang nomor satu di kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan sebuah kabar, mengenai adanya program Sagu-Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang dikeluarkan oleh pemerintah. Maksud pemerintah sebenarnya sangat bagus, yakni agar pemikiran seorang Guru menjadi semakin berkembang, seperti layaknya seorang Dosen. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar dan mendidik, melainkan juga menulis.

Pertanyaannya adalah akankah program tersebut berhasil? Saya turut berdoa, semoga apa yang diinisiasi oleh pemerintah akan segera terwujud atau terlaksana dengan baik.

Menulis Sebagai Kebutuhan
Jangankan menulis sebuah buku, sekedar untuk memulai menulis sebuah tulisan saja masih banyak Guru—dan mungkin juga Dosen—yang masih malas untuk memulainya. Menulis seakan-akan masih sebagai “kewajiban” belaka, dan belum sampai tingkat “kebutuhan”.

Misalnya seorang dosen menulis hanya karena  sebagai syarat untuk naik pangkat dan belum sampai tingkat kebutuhan sehari-hari. Menulis seharusnya diumpamakan seperti makan nasi (baca: kebutuhan), yakni umpama belum menulis, maka akan ada sesuatu yang kurang di dalam hidupnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah plagiarisme. Saya kadang mendengarkan sebuah berita mengenai adanya seorang Dosen yang membeli sebuah artikel jurnal, guna kenaikan pangkat. Oleh karena merasa sibuk dan atau tidak mampu, jalan pintas—yang sebenarnya adalah salah—pun akhirnya diterjang. Seorang yang dianggap kaum intelek oleh warga masyarakat, namun saja masih ada oknum yang melanggar kejahatan ilmiah. 

Jika seorang Dosen sudah menerapkan budaya menulis sebagai kebutuhan, maka akan dengan mudah menghasilkan tulisan. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dikumpulkan dan dibuat menjadi sebuah buku.

Begitu juga dengan seorang Guru. Ketika pemerintah sudah mencanangkan program sagu-sabu, maka hal yang harus pertama dan utama dilakukan adalah seorang Guru harus memulai untuk menulis. Jika menulis sudah sering dilakukan, maka akan terasa mudah. Menghasilkan satu buah buku pun, jika itu konsisten, saya berani yakin akan sangat mudah.

Jika menulis sudah menjadi sebuah kebutuhan seorang Guru dan Dosen, maka keintellektualitasan seorang pendidik akan semakin terbukti. Seorang pendidik tidak hanya pintar berbicara, melainkan ada bukti fisiknya yaitu sebuah buku. Selain itu, jika seorang Guru dan Dosen sudah menerapkan budaya menulis yang tinggi, kemajuan bangsa ini pun akan semakin membaik. Indonesia akan semakin jaya. Di mata dunia internasional pun akan semakin ada harganya. Wallahu a’lam. 

Salatiga, 7 Januari 2020

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...