Langsung ke konten utama

Mahasiswa Berbobot, Bermoral dan Bermartabat

Dalam sebuah kampus, ada kegiatan rutinan yang bernama public hearing. Kegiatan ini biasanya diprakarsai oleh Senat Mahasiswa (Sema). Setiap kelas biasanya diberikan undangan untuk menghadiri kegiatan tersebut. Biasanya satu undangan untuk dua orang. Sehingga semakin banyak jumlah prodi atau jurusan di dalam kampus, maka akan semakin banyak pula jumlah pengunjungnya.

Semua mahasiswa bebas mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Tentu, pendapat yang sifatnya membangun sebuah kampus. Misalnya sebuah kampus masih kekurangan mading (majalah dinding), maka mahasiswa berhak mengeluarkan aspirasinya. Pihak lembaga kemudian tinggal melaksanakan apa yang diminta oleh para mahasiswa. Misalnya juga ketika sebuah kampus masih kekurangan atau sangat minim tempat sampah, maka mahasiswa juga bebas mengeluarkan pendapat untuk meminta tempat sampah. Tentu dengan harapan agar kampusnya semakin bersih.

Kegiatan public hearing ini, biasanya seluruh sivitas akademika dipanggil; mulai dari pihak Pimpinan Kampus, Pimpinan Fakultas, Perwakilan Dosen, Perwakilan Tenaga Kependidikan, serta elemen yang lainnya yang berada di dalam kampus. Jika seorang pimpinan tidak dapat hadir, biasanya diwakilkan oleh penggantinya. Misalnya seorang Rektor tidak dapat hadir, maka biasanya yang mewakili adalah wakil rektor III, yang membidangi masalah mahasiswa dan kerjasama.

Mahasiswa yang berada di forum ini secara tidak langsung diajarkan untuk berbicara di depan umum. Mereka mendengarkan teman-temannya yang sedang mengeluarkan aspirasinya. Jika ada seorang mahasiswa yang pendiam di forum ini, bisa jadi setelah itu ia akan menjadi orang yang mampu berani berbicara di depan umum oleh karena terpancing atau terkena virus baik dari teman-temannya. Mahasiswa yang katanya merupakan agen perubahan, sudah seharusnya mampu berbicara di depan publik. Oleh sebab itu, jika ada kegiatan yang seperti itu, maka tidak ada salahnya jika mengikutinya.

Dalam hal ini saya mempunyai pendapat, seumpama para mahasiswa mempunyai sebuah uneg-uneg yang ada hubungannya dengan kemajuan kampus, maka tulislah dalam selembar kertas. Setelah ditulis, maka baru dipublikasikan kepada teman-temannya. Kemungkinan besar, jika ini mampu dilakukan, maka akan semakin menarik. Mahasiswa tidak hanya dilatih berbicara, akan tetapi juga dilatih dengan dunia tulis-menulis.

Sejarah telah mencatat bahwa pusaka yang paling ampuh adalah sebuah tulisan. Tulisan akan tetap hidup meskipun penulisnya suatu saat akan meninggal dunia. Sementara sebuah ucapan akan mudah hilang, akan mudah usang diterpa angin. Imam Ghazali misalnya, beliau sampai sekarang masih dikenang dan diperbincangkan oleh banyak orang. Mengapa? Oleh karena karya tulis yang telah beliau tinggalkan. 

Saya pernah membaca buku yang berjudul Islam Sontoloyo. Buku ini ditulis oleh Pak Soekarno, Presiden pertama di negeri ini. Jika melihat judulnya, tentu akan sangat kontradiktif dengan pandangan masyarakat. Pak Soekarno yang sejatinya beragama Islam, ternyata bisa menciptakan buku yang judulnya mampu membuat penasaran banyak orang. Pada intinya, Pak Soekarno mengajak kepada masyarakat Indonesia untuk membaca buku yang telah beliau tulis.

Ketika itu, Muhammad Natsir juga membuat buku yang berjudul Islam dan Akal Merdeka. Buku ini sesungguhnya merupakan sebuah sanggahan terhadap apa yang telah ditulis oleh Bung Karno. Buku ini memandang dari sisi agama, bagaimana cara beragama Islam dengan benar, bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh Pak Soekarno, dan lain sebagainya.

Ternyata, dari dulu di negara Indonesia sudah diajarkan oleh sesosok tokoh intelektual. Mengkritik orang itu, jika kita mau meniru mereka, maka tidak harus dengan sebuah ucapan. Layaknya sebuah buku, maka harus dibantah dengan sebuah buku. Layaknya sebuah artikel, maka juga harus disanggah dengan sebuah artikel. Begitu juga seterusnya.

Mahasiswa—yang nota benenya adalah kaumnya orang ahli berbicara—jika mau mengikuti mereka berdua, maka itulah yang namanya mahasiswa sejati. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak di antara mahasiswa yang senangnya mengkritik teman-temannya dengan sebuah ucapan namun tidak mampu mengkritik dengan sebuah tulisan. Jika ada, itu pun hanya sebagian kecil. Seumpama mahasiswa mau mengkritik teman-temannya dengan sebuah tulisan, maka itulah sesungguhnya mahasiswa yang berbobot, bermoral, dan bermartabat. Wallahu a’lam.  

Salatiga, 1 Oktober 2018

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...