Langsung ke konten utama

Selawe

Bahasa Jawa itu memang unik. Semua orang Indonesia hampir semuanya mengetahui bahwa Jawa merupakan sebuah suku yang mampu bergabung dengan suku yang lainnya secara baik. Meskipun, di sana-sini tentu juga ada kekurangannya. Kekurangan itulah yang sesungguhnya merupakan sebuah kesempurnaan yang telah diberikan oleh Tuhan.

Berbicara masalah bahasa Jawa, ternyata angka Jawa juga unik. Bagaimana tidak unik, ternyata sebagian angka Jawa mempunyai makna yang teramat dalam di dalamnya. Berikut akan saya jelaskan secara singkat.
Sebagaimana judul tema ini, maka akan saya beri nama atau judul selawe. Selawe di sini sesungguhnya bahasa Jawa. Bahasa Indonesianya adalah dua puluh lima. 

Jika mau mencermati secara mendalam, maka angka selawe mempunyai makna yang cukup menarik untuk disimak. Dalam hal ini, adalah masalah seputar pernikahan. Sebelum angka selawe, maka didahului angka atau kata likur, yang berarti linggih ning kursi (duduk di kursi).

Pada usia dua puluh sampai tiga puluh tahun, maka biasanya seseorang akan menempati jabatan tertentu. Misalnya baru saja lulus kuliah, maka saat itulah biasanya juga akan langsung kerja. Kerja di sini sesungguhnya bagaikan seseorang yang sedang duduk di kursi. 

Selikur (dua puluh satu), rolikur (dua puluh dua), telulikur (dua puluh tiga), patlikur (dua puluh empat), selawe (dua puluh lima), nemlikur (dua puluh enam), pitulikur (dua puluh tujuh), wolulikur (dua puluh delapan), songolikur (dua puluh sembilan), telungpuluh (tiga puluh)

Coba disimak! Jika mau mencermati secara mendalam, maka kata atau angka selawe seharusnya limanglikur. Mengapa orang Jawa menggunakan angka selawe? Ternyata jawabannya adalah mengandung sebuah pesan, bahwa usia selawe artinya seneng-senenge lanang lan wedok (senang-senangnya pria dan wanita). Pada usia dua puluh lima tahun ini, seorang pria ataupun wanita diusahakan untuk segera menikah.

Sepanjang sejarah, Rasulullah SAW menikah dengan seorang janda bernama Siti Khodijah. Usia Rasul saat itu dua puluh lima tahun, sedangkan Siti Khodijah saat itu berusia empat puluh tahun. 

Indah bukan? Meskipun tidak menggunakan ayat atau hadis, ternyata orang tua terdahulu sudah mengajarkan dan menganjurkan untuk menikah pada usia dua puluh lima tahun. Fisiknya biasa, namun orang tua terdahulu ternyata sudah menganjurkan untuk selalu ittiba’ kepada Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...