Langsung ke konten utama

Seket



Senenge Ketunan (Senangnya Memakai Kopyah)

Tahukah Kopyah? Biasanya ketika seseorang akan melaksanakan sholat, selalu saja memakai kopyah. Ada yang menyebutnya peci. Ada juga yang meyebutnya kupluk. Kopyahnya orang Arab Saudi biasanya berwarna putih. Kopyahnya orang Indonesia mempunyai ciri khas sendiri yaitu berwarna hitam. Oleh sebab itu, memakai kopyah hitam berarti secara tidak langsung kita telah menjaga budaya asli Indonesia.

Ada orang mau menikah, biasanya memakai kopyah hitam. Ada orang yang sedang melaksanakan upacara bendera, juga memakai kopyah hitam. Ada acara rapat di gedung istana negara, sebagian juga memakai kopyah hitam. Kopyah hitam merupakan kebanggaan orang Indonesia. Sudah sepatutnya kita merasa bangga oleh karena mempunyai kopyah ciri khas tersendiri. 

Berkaitan dengan hal tersebut, belum lama ini saya bertemu dengan seseorang ketika sedang mengikuti acara walimatul khitan di rumahnya tetangga. Orang yang saya ajak bicara sebagaimana dimaksud sesungguhnya tidak pernah sholat. Bukan saya bermaksud untuk menceritakan keburukan orang lain, akan tetapi hanya untuk bercerita yang sesungguhnya. Semoga beliau mendapatkan hidayah dari-Nya sehingga menjadi tekun menjalankan ibadah sholat lima waktu dan ibadah-ibadah yang lainnya.

Saat itu saya berkata, “Pakdhe, apakah panjenengan usianya sudah ada lima puluh tahun?” Beliau pun menjawab, “sudah mas, malah lebih dua tahun.” Beliau pun kembali bertanya kepada saya, “ada apa mas, kok tanya masalah umur segala. Saya sudah tua, sudah cukup umur dan sudah siap ketika dipanggil oleh Tuhan.” Saya pun menjawabnya, ‘’tidak apa-apa pakdhe, saya hanya ingin bertanya saja dan tidak ada yang lain.”

Beliau pun menaruh rasa bertanya yang dalam kepada saya. Beliau pun sedikit curiga dengan melihat tatapan matanya kepada saya. Saat itu, beliau pun mendesak kepada saya untuk bercerita, barangkali apa yang saya ucapkan ada manfaatnya. Oleh karena dipaksa, saya pun menjawabnya dengan penuh kehati-hatian. 

Seket kuwi, senenge wis ketunan (senangnya sudah memakai kopyah. Ini adalah sejarah angka Jawa. Jika pakdhe sudah berumur seket (lima puluh) tahun, sudah seharusnya pakdhe untuk selalu memakai kopyah. Jika pakdhe masih sering sholatnya bolong-bolong, marilah kita perbaiki diri kita, bahwa sesungguhnya umur seket adalah umur yang sudah saatnya untuk mendekat kepada Tuhan. Umur lima puluh tahun adalah usia dimana kita sudah saling berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai bekal untuk mati kelak.”

“Masya Allah, saya tidak pernah sholat sama sekali. Saya kalau sholat hanya satu kali dalam setahun yaitu di masjid. Sumpah, kalau kamu tidak bercerita, saya tidak tahu, bahwa sesungguhnya angka Jawa mempunyai arti yang sangat dalam untuk kehidupan beragama. Sudah umur lima puluh tahun lebih saya belum pernah mendapatkan cerita yang seperti ini. Dari simbah-simbah dahulu pun saya juga belum pernah mendapatkan ilmu yang seperti ini. Angka Jawa itu unik. Mulai saat ini, saya akan tekun beribadah, menjalankan sholat lima waktu kepada-Nya.”

Saat itu itu juga, orang di sekelilingnya ketika sedang melaksankan walimatul khitan pun menjadi semakin terpana. Sebagian besar matanya pun tertuju kepada kita berdua yang tidak sengaja berbicara namun ada manfaatnya. Semoga beliau pun melaksankan sholat lima waktu dengan tertib. Semoga tidak hanya ngomong belaka. Semoga beliau mampu melaksanakan sholat lima waktu dengan istikomah. 

Akhirnya, marilah kita selalu berdoa agar kita selalu mendapatkan hidayah dari-Nya. Hidayah itu sangat penting. Dinasehati oleh banyak orang, jika belum mendapatkan hidayah dari-Nya, tentu tidak akan taubat. Sebaliknya, meskipun tidak dinasehati, namun karena sudah mendapatkan hidayah dari-Nya, tentu akan taubat dengan sendirinya. Akan tetapi satu yang perlu diingat adalah bahwa manusia harus untuk selalu berusaha dan berdoa.

Dengan mendengar kata seket, semoga kita menjadi semakin ingat kepada Tuhan bahwa usia tersebut sudah saatnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jika usianya masih muda namun sudah selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, maka tingkatkanlah ketakwaannya kepada Tuhan. Dari hari ke hari marilah kita tingkatkan ibadah kita kepada-Nya. Yang sudah tua namun belum mendekatkan diri, marilah untuk selalu berubah dan mendekatkan diri serta selalu berada di jalan-Nya. Wallahu a’lam.


Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...