Jika membuka kitab kuning, maka di situ ada berbagai
macam banyak kosa kata, yang tidak semua orang mampu memahaminya. Jangankan
satu atau dua tahun, yang sudah menetap sekitar puluhan tahun di pondok
pesantren saja kadang tidak atau kurang menguasai apa yang ada di dalam kitab
kuning tersebut.
Istilah rabi,
sebenarnya berasal dari kata rabba-yurabbi-tarbiyatan, yang artinya Tuhan. Jika itu kalimat fi’il (kata
kerja), maka bermakna mendidik. Jika itu isim
(kata benda) maka bermakna pendidikan. Di kampus-kampus keislaman, ada sebuah
fakultas yaitu Fakultas Tarbiyah, yang program studinya berisi mengenai ilmu
pendidikan.
Kata ini kemudian diadopsi atau dikonversi oleh
orang Jawa. Dari kata “rabbi” menjadi “rabi.” Sebenarnya maknanya juga sama
yaitu pendidikan. Oleh sebab itu sepasang pengantin atau seorang yang baru saja
menikah seharusnya mengetahui makna rabi
yaitu saling mendidik, dan saling mengingatkan. Yang pria mendidik wanita dan
begitu pula sebaliknya.
Di daerah Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) dan juga
Jawa Timur, istilah rabi merupakan
istilah yang sudah umum. Pertanyaan kepada teman “kapan sliramu rabi” (kapan kamu menikah) merupakan hal
yang biasa. Akan tetapi, untuk daerah Pekalongan-Tegal-Cirebon dan sekitarnya,
kata rabi merupakan kata yang sangat
tidak etis. Kata yang umum digunakan adalah kawin.
Sebaliknya, kata kawin
untuk daerah Joglosemar dan juga Jawa Timur merupakan kata yang saru (pamali, tidak sopan). Kata kawin di daerah ini lebih condong
bermakna negatif yaitu hubungan intim di dalam kamar.
Oleh sebab itu, untuk menjaga ucapan yang mungkin
kurang mengindahkan pendengaran, maka yang harus digunakan adalah kata nikah atau nganten. Kapan sliramu nganten? (kapan kamu menikah), misalnya.
Ketika masih SD, saya masih ingat bahwa suami-istri
dalam bahasa Jawa artinya garwa; sigaraning nyawa (separuh belahan jiwa). Maksudnya, sepasang suami istri itu
sesungguhnya separuh belahan jiwa. Hatinya sudah menyatu. Lebih dari itu,
tentunya saling melengkapi kekurangannya masing-masing.
Dalang Entus (Mantan Bupati Tegal) mengatakan bahwa garwa adalah sing siji sigar sing siji dawa (satu terbelah yang satu panjang). Terbelah
artinya terbuka. Maksudnya, seorang suami harus selalu terbuka kepada istrinya,
dan begitu pula sebaliknya. Mempunyai uang sepuluh ribu misalnya, harus jujur
dan tidak boleh berbohong.
Sedangkan panjang
berarti harus mempunyai pemikiran yang panjang. Maksudnya, seorang suami dan
juga istri harus selalu mempunyai pemikiran yang panjang. Umpama suaminya
pulang pada malam hari misalnya, istrinya tidak boleh langsung marah. Tanyakan
dulu kepada suaminya, supaya jelas dan tidak saling tuduh atau curiga.
Apa yang diungkapkan oleh dalang Entus, jika
direnungi secara mendalam, maka akan ada benarnya. Di dalam lingkungan sekitar,
tentunya masih sangat banyak kasus di dalam sebuah keluarga, yang belum
mendapatkan perhatian. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (bahasa gaulnya KDRT)
merupakan kasus yang sangat serius, yang jika tidak segera diatasi akan
berdampak kurang baik terhadap fisik manusia dan bahkan masyarakat luas.
Jika mau mengikuti apa yang disampaikan oleh dalang
Entus, saya kira kehidupan ini akan aman, utamanya dalam sebuah kekeluargaan.
Suami saling percaya kepada istri dan begitu pula sebaliknya. Suami bersikap
jujur kepada istrinya dan begitu juga sebaliknya. Begitulah seputar rabi dalam pandangan orang Jawa. Semoga
bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar