Larangan Membuat Proposal
Dulu, saya ingat betul apa yang disampaikan oleh
Kyai Slamet Idris. Penampilannya sederhana, namun akhlaknya luar biasa
bagusnya. Dari pinggiran kota Salatiga, tepatnya di Kampung Cengek, ada sebuah pondok
pesantren salafiyah. Namanya adalah pondok pesantren Al-Ishlah, tempat di mana
saya mampir, menempuh pendidikan ruhaniah Islam.
Mbah Idris—begitu warga kampung biasa
memangggilnya—selalu me-wanti-wanti kepada para santrinya untuk tidak
membuat proposal. Bila diberi bantuan, maka terimalah! Namun jangan sekali-kali
meminta bantuan, mengemis, membuat proposal dan lain sejenisnya.
Meskipun saat itu sudah banyak manusia yang membuat
proposal untuk pembangunan masjid, namun Mbah Idris tetap melarangnya. Biarlah,
walaupun pondok pesantrennya sederhana, namun akan menjadi sejarah bahwa pondok
pesantren tersebut merupakan jerih payah warga kampung Cengek dan sekitarnya.
Ada yang menyumbang genting, kayu, pasir, semen, dan lain sebagainya.
Di daerah Magelang, ada sebuah yayasan, namanya
yayasan “Madani”. Siapa yang mau membuat masjid, biasanya datang ke yayasan
tersebut. Yayasan Madani berasal dari Saudi Arabia, yang dikelola oleh orang
Indonesia. Yayasan ini khusus dibangun untuk membantu warga Indonesia yang ingin
membangun sebuah masjid, pondok pesantren, madrasah diniyah dan lain
sejenisnya.
Oleh karena zakat orang Saudi Arabia terlalu surplus
dan bingung akan diberikan kepada siapa, maka orang Indonesia merupakan tempat
yang salah satu ditunjuk oleh orang Arab. Di Arab Saudi, menurut berbagai cerita,
zakatnya terlalu kelebihan. Mau memberi zakatnya kepada bangsanya sendiri saja
kadang merasa bingung. Dan orang Arab Saudi merasa bangga jika mampu membuat atau menyumbang
untuk pembuatan sebuah masjid dan lain sejenisnya.
Berbeda lagi dengan orang Indonesia yang senangnya (maaf)
mengemis untuk pembuatan sebuah masjid. Zaman sekarang, di Indonesia hanya
sebagian kecil yang membangun masjid namun tanpa proposal. Pada umumnya membuat
proposal, baik kepada yayasan Madani, Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi,
Organisasi Masyarakat dan lain sebagainya.
Pada intinya, rasa yakin terhadap Tuhan amatlah
kurang. Padahal, masjid itu sebenarnya rumah Tuhan orang Islam yang akan jadi
dengan sendirinya. Jangan khawatir akan kekuasaan Tuhan. Namun sekali lagi,
pada intinya merasa kurang yakin kepada-Nya.
Budaya mengemis secara tidak langsung sudah mengakar
di dalam benak masyarakat. Islam yang katanya mayoritas di Indonesia dan
bahkan merajai di dunia, sampai sekarang kita masih sering melihat pembuatan masjid
dengan sambil meminta-minta di tengah jalan raya. Ada yang membawa pengeras
suara, ada yang membawa ember, bendera dan lain sebagainya.
Harapan membawa speaker tentunya supaya masyarakat
yang melihat akan mendengar dengan jelas. Menggunakan ember yang besar mungkin
saja mempunyai sebuah harapan agar orang yang melintas memberikan uang yang
cukup banyak. Dengan menggunakan sebuah bendera tentunya sebagai pertanda bahwa
ada sebuah masjid yang sedang dibangun.
Seumpama ada anak kecil yang bertanya kepada
bapaknya, “Bapak, ini masjid yang membuat siapa?” Bapaknya pun menjawabnya,
“Masjid ini yang membuat orang Arab Saudi.” Anaknya pun kembali bertanya,
“Dimana orang Arab Saudi-nya, Pak?” Bapaknya kembali menjawab, “Ya di negaranya
sana, Nak.”
Bapaknya bingung, oleh karena pertanyaan anaknya
yang cukup dalam. Anaknya juga bingung oleh karena tidak dapat melihat orang
Arab Saudi yang sesungguhnya. Seumpama bisa melihat, paling hanya melalui
sebuah televisi atau melalui dunia maya.
Seumpama seratus tahun yang akan datang ada seorang
anak yang bertanya kepada bapaknya: Siapa yang membangun pondok pesantren
Al-Ishlah dan Masjid Sabilul Muttaqien? Orang tua tentunya tidak akan merasa
kebingungan.
“Siapa yang
membangun?” ungkap anaknya. “Orang sini dan warga sekitarnya,” sahut bapaknya. ''Mana orangnya?'' tanya anaknya kembali. “Lha itu, mereka semua yang ada di
depan mata adalah anak-cucunya orang yang membangun pondok pesantren Al-Ishlah
dan masjid Sabilul Muttaqien,” jawab bapaknya dengan penuh optimis.
Pondok tersebut sebagai bukti sejarah bahwa dulu
warga sekitar sudah bersusah payah untuk membangun sebuah pondok pesantren,
yang selanjutnya digunakan untuk mencari dan menebarkan ilmu keagamaan Islam.
Generasi baru atau anak cucu yang akan datang
kemungkinan akan berpikir untuk menjaga dan merawatnya. Mengapa mereka akan
menjaga dan merawat? Karena mereka mengetahui buah keringat dan perjuangan dari simbah buyutnya (para
pendahulu). Berbeda lagi jika ada sebuah pondok pesantren ataupun masjid yang
dibuat oleh orang Arab Saudi atau yayasan lain sejenisnya, mungkin saja anak
cucu atau generasi yang akan datang akan acuk tak acuh, sepele dan bahkan
mengabaikannya.
Mengapa mereka sepele? Mereka melihat sejarah, bahwa
yang membuat masjidnya adalah bukan dari bangsanya sendiri. Tenaganya orang
Indonesia, namun asal-usul uangnya dari Arab Saudi. Mereka juga tidak mendengar
adanya sebuah perjuangan dari simbah buyutnya. Yang mereka dengar hanyalah
simbahnya mengemis, membuat proposal ke sana dan kemari.
Akibatnya, generasi yang akan datang boleh saja akan
membenci terhadap simbah buyut atau para pendahulunya. Simbah buyutnya bukan
mengajarkan untuk mampu, namun malah mengajarkan untuk meminta, mengemis dan
membuat proposal ke mana-mana. Bukannya menanamkan kebaikan, namun yang ada
malah menanamkan budaya untuk meminta. Kelihatannya ungkapan seperti ini
mungkin sepele, namun kemungkinan besar berlanjut dan akan terus terkenang.
Pondok pesantren Al-Ihslah merupakan sebuah bukti
sejarah bahwa Mbah Idris dan warga sekitarnya telah mendidik dan menanamkan
sifat untuk mampu, bukan untuk mengemis atau meminta. Hasilnya sampai sekarang
pun selalu tertanam dalam benak santrinya dan masyarakat sekitarnya, bahwa
masyarakat merasa mampu dan berpikiran kaya. Semoga Allah SWT mengampuni semua
kesalahannya Mbah Idris. Allahumma igfir
lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga semua santrinya Mbah Idris juga menyebarkan
virus untuk tidak membuat proposal ketika akan membuat sebuah masjid ataupun
pondok pesantren. ''Jika ada yang memberi bantuan dari luar, maka terimalah.
Namun jangan sampai pernah mempunyai niat untuk mengemis.''
Syukur, yang membangun adalah pribadinya sendiri dan
masyarakat sekitar yang tentu akan mengenang dan akan mengukir sejarah kepada
anak cucu atau generasi yang akan datang. Selamat berpikiran untuk kaya ketika
akan membangun sebuah masjid. Wallahu a’lam.
Salatiga, 1 April 2018
Komentar
Posting Komentar