Langsung ke konten utama

UIN Malang Seperti Orang Jawa



Indonesia merupakan sebuah negara yang berasaskan Pancasila, bukan negara Islam.  Akan tetapi, Indonesia sesungguhnya esensi atau sari pati dari agama Islam itu sendiri. Di negara Islam seperti Arab Saudi, misalnya, orang yang mencuri tangannya akan dipotong. Akan tetapi, di Indonesia tidak. Di Indonesia, orang yang mencuri akan dihukum di penjara. Memotong tangan diartikan sebagai memotong mata pencaharian. 

Orang yang dipenjara tentunya tidak dapat mencari uang. Tidak mencari uang sama halnya tidak mendapatkan uang yang dilanjutkan dengan tidak dapat menafkahi keluarganya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Indonesia sesungguhnya lebih Islam dari negara Islam itu sendiri. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam adalah sebuah agama pembawa rahmat bagi semesta alam. 

Perjuangan Walisongo juga sama. Menurut KH. Anwar Zahid, semua Walisongo adalah seorang yang hafal al-Qur’an. Namun dalam syiar atau menyebarkan agama Islam, Walisongo menggunakan pendekatan budaya. Walisongo sesungguhnya sudah mengetahui budaya dan juga karakter orang Jawa saat itu. Jika dengan kekerasan, tentunya banyak yang benci dengan Islam. Bagaimana mau masuk Islam kalau awal mulanya adalah benci. Orang yang mau masuk Islam awal mulanya karena cinta terlebih dahulu. 

Indonesia merupakan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Di Indonesia, upaya untuk memadukan ilmu umum dan ilmu agama terus digerakkan. Salah satu upaya Pemerintah adalah dengan cara membangun kampus Universitas Islam Negeri (UIN), yang dikomando oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Selama masih berstatus STAIN atau IAIN, maka itu masih murni di bawah komando Kementerian Agama. Namun kalau sudah berubah menjadi UIN, kedua kementerian sebagaimana dimaksud sudah ikut mengawasinya. Bagian program studi yang berbau keislaman dikomando oleh Kementerian Agama, sedangkan yang berbau ilmu umum dikomando atau diawasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan kata lain, kedua kementerian tersebut ikut mengeluarkan SKB (Surat Keputusan Bersama), yang selanjutnya ditandatangani oleh Presiden.

Di berbagai UIN di Indonesia, ada Fakultas Tarbiyah, Syari'ah, Ushuluddin, Adab dan Dakwah. Dan itu merupakan rumpun keislaman. Sedangkan yang rumpun ilmu umum meliputi Fakultas Saintek, Sosial Politik, Psikologi, Kedokteran, Ilmu Budaya dan lain sebagainya. Pembukaan Fakultas umum tersebut tentunya sebagai tanggung jawab sebuah kampus UIN untuk mengajarkan dan mengembangkan keilmuan. Pembukaan Fakultas yang berbasis keislaman tentunya sebagai background bahwa kampus tersebut adalah kampus Islam. Namun untuk Fakultas yang berbasis umum, tentunya sebagai jawaban yang selama ini banyak dipertanyakan oleh masyarakat.

Masyarakat sekarang dan bahkan dari dulu tentunya menginginkan anak yang pintar dalam bidang ilmu umum dan ilmu agama. Mengetahui ilmu umum saja tentunya akan serasa pincang jika tidak dilengkapi dengan ilmu agama. Begitu pula sebaliknya, ilmu agama yang tidak dilengkapi dengan ilmu umum, maka akan terasa buta. Keduanya tentu harus lengkap dan saling melengkapi. Ibarat ayam jawa (lokal) jika dikawinsilangkan dengan ayam alas, maka akan menghasilkan ayam yang bagus suaranya yaitu bekisar. Begitu juga jika ilmu umum dan agama dikawinsilangkan, maka akan menghasilkan ilmu yang lebih sempurna.

Menengok berbagai kenyatan yang ada, terkadang yang dihati-hati saja masih “kecolongan”. Jika tidak hati-hati, tentunya akan semakin kecolongan. Meskipun, tidak semuanya seperti itu, dan orang yang baik tentunya masih sangat banyak di sekitar kita. Zaman dahulu anak kecil banyak yang mandi di sungai, namun jarang sekali mendengar kabar ada yang hamil. Zaman sekarang kelihatannya banyak anak yang senang di rumah saja, namun sering juga mendengarkan kabar tiba-tiba ada yang hamil. Tetangganya saja tentunya kadang banyak yang mempertanyakannya; kapan keluarnya, kapan melakukannya dan bahkan dimana melakukannya. 

Masuk kuliah di UIN merupakan salah satu solusi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun berhasil atau tidak, namun paling tidak orang tua sudah mengusahakannya. Masalah hasil adalah urusan belakangan. Namun dalam pandangan yang umum, hasil tentunya tidak akan berbeda jauh dari apa yang kita lakukan. Bukankah Rasul mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berusaha dan berdoa? Hasil akhir merupakan hak preogratif-Nya. Manusia tinggal berdoa, berusaha, berikhtiar dan bertawakkal kepada-Nya. 

UIN Sunan Kalijaga terkenal dengan ilmu Filsafat Islamnya. Begitu juga dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, baik UIN Sunan Kalijaga maupun UIN Syarif Hidatullah, keduanya membuka Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab. Tentunya juga membuka Fakultas-Fakultas yang bersifat umum. 

Di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga sama, membuka Fakultas umum dan Fakultas Agama. Bahkan, yang Fakultas umum ternyata lebih banyak. Fakultas Tarbiyah dan Syariah merupakan rumpun Fakultas agama. Sedangkan Fakultas Ekonomi, Kedokteran, Psikologi, Humaniora dan Saintek merupakan Fakultas yang bersifat umum (Kemendikbud, yang sekarang diambil alih oleh Kemenristekdikti). Apakah berarti UIN Malang tidak Islam? Atau tidak lebih Islami dari kampus Islam lainnya?

Jawabannya adalah tidak. Meskipun kelihatannya sederhana, namun sesungguhnya kampus UIN Malang lebih Islami dari kampus Islam yang lainnya. Mengapa demikian? Karena kampus UIN Maulana Malik Ibrahim itu mempunyai tiga kekuatan. Pertama, Ma’had. Ma’had mahasiswa atau pondok pesantren yang berada di dalam kampus UIN Maulana Malik Ibrahim merupakan sebuah identitas kampus Islam, yang mana memadukan antara dzikir dan fikir. Dzikir melambangkan kehidupan ala pondok pesantren, sedangkan Fikir melambangkan kultur kehidupan kampus. 

Dzikir dan Fikir yang seimbang akan melahirkan amal yang saleh. Bagi pondok pesantren melahirkan sekolah umum merupakan sesuatu yang biasa. Contohnya seperti pondok pesantren Lirboyo Kediri yang menghasilkan atau mendirikan kampus IAIT (Institut Agama Islam Tribakti), Ponpes Tebuireng Jombang yang menghasilkan UNHASI (Universitas Hasyim Asy’ari), Ponpes Darullughoh yang menghasilkan INI Dalwa (Pasuruan) dan lain sebagainya. 

Namun, sebuah kampus yang menghasilkan pondok pesantren merupakan sesuatu yang luar biasa dan teramat langka. Ialah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang menghasilkan pondok pesantren atau Ma’had Sunan Ampel al-'Ali. Dan sampai sekarang masih terus eksis. Setiap mahasiswa baru yang berjumlah sekitar 3.000-an lebih, maka diwajibkan untuk menetap di pondok pesantren atau Ma’had mahasiswa tersebut. Itu yang menjadi ciri khas kampus UIN Malang.

Kedua, Hafidhul Qur’an. Setiap acara wisuda, kampus UIN Maulana Malik Ibrahim selalu menghasilkan mahasiswa yang hafal al-Qur’an. Mahasiswa Jurusan Bahasa Arab hafal al-Qur’an merupakan sesuatu yang biasa, namun jika mahasiswa Fakultas Saintek hafal al-Qur’an tentunya merupakan sesuatu yang luar biasa. Dan itu ternyata teramat langka. Mungkin hanya kampus UIN Malang saja yang ada tradisi semacam itu. 

Memang sedikit tak masuk akal. Fakultas Saintek yang berisi ilmu murni tentunya sangat sulit untuk dipelajari. Namun kenyataannya adalah tidak dan bahkan bertolak belakang dengan akal manusia secara logika. Seorang mahasiswa yang menghafalkan al-Qur’an, jika mempelajari Prodi Fakultas Saintek dimaksud, ternyata malah akan memudahkan dalam studinya. Logikanya berbanding terbalik dengan fakta. Dan itu sampai sekarang masih terus terjadi di UIN Malang.

Kecintaan untuk membaca dan menghafalkan al-Qur’an, ternyata membuat belajar menjadi semakin mudah. Untuk itu, yang kurang pintar atau yang sulit dalam menangkap pelajaran, tak ada salahnya jika mencintai atau semangat dalam membaca al-Qur’an. Syukur, jika mau menghafalkannya, tentunya akan semakin bagus. Niscaya akan lebih mudah menangkap pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Selain itu, semangat dalam membaca al-Qur’an tentunya akan memudahkan segala urusan manusia. 

Terkadang manusia ada yang mengatakan tidak mempunyai waktu untuk membaca al-Qur’an oleh karena sibuk, jadwal padat dan lain sebagainya. Sekarang cobalah dibalik! Sibukkanlah waktu dengan memperbanyak membaca al-Qur’an, niscaya segala macam perkara pun akan menjadi semakin mudah. Kalau tidak percaya, silahkan buktikan sendiri!

Ketiga, Bahasa Arab. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan sebuah kampus yang sampai sekarang masih menjaga dan merawat bahasa Arab. Hal itu dibuktikan dengan adanya Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) mulai dari tingkat Sarjana, Magister dan Doktor. Artinya, kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lebih Islami dari kampus Islam lainnya. Di kampus lain, jarang sekali yang membuka jurusan bahasa Arab dari tingkat Sarjana hingga Doktor. 

Program yang ada di Fakultas Sarjana melambangkan keilmuan yang bersifat umum, sedangkan Program Pascasarjana melambangkan keilmuan Islam. Artinya, kulitnya seakan-akan biasa, namun hatinya sesungguhnya luar biasa oleh karena sari pati atau esensi dari ajaran Islam itu sendiri.

Oleh sebab itu, saya menamainya kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu bagaikan orang Jawa. Orang Jawa zaman dahulu banyak yang kurang fasih dalam mengucapkan bahasa al-Qur’an, namun hati orang Jawa melambangkan intisari yang terkandung di dalam al-Qur’an itu sendiri. Begitu juga dengan kampus UIN Malang. Fakultas yang ada di UIN Malang kelihatannya banyak yang Fakultas umum, akan tetapi sesungguhnya kampus yang lebih Islam daripada kampus Islam yang lainnya. Wallahu a’lam. 

Salatiga, 29 Desember 2017

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...