Beternak ayam adalah hobiku. Dulu, ketika masih SD hingga SMP, saya selalu beternak ayam. Biasanya yang namanya orang desa pasti mempunyai ayam, meskipun hanya satu atau dua ekor. Zaman dahulu para tetangga tidak marah oleh karena sama-sama mempuyai ayam. Zaman sekarang ternyata sudah sedikit berbeda. Ada kotoran ayam di rumahnya tetangga saja terkadang menjadi masalah. Bagi yang mempunyai ayam mungkin senang-senang saja dan tidak menjadi masalah. Bagi yang tidak mempunyai ayam namun sering mendapatkan kotoran ayam di halaman teras rumahnya, bagaimana rasanya?
Oleh sebab itu, ternak ayam dengan cara membuat pagar yang tinggi merupakan sebuah solusi yang utama. Tetangganya tidak merasa terganggu dan yang pasti lebih aman dari gangguan manusia atau gangguan hewan pemakan ayam lainnya. Jika diberi pagar yang tinggi (baik menggunakan batu-bata ataupun bambu), tentu ayamnya tidak dapat pergi ke luar. Umpama ayam bermain, paling hanya di sekitar pekarangan rumah yang diberikan pagar tersebut.
Pencuri yang terkadang berkeliaran di siang hari tentunya tidak dapat mencuri oleh karena ayamnya berada di dalam pagar. Dulu sempat geger oleh karena ayamnya warga kampung banyak yang hilang. Kejadian yang seperti itu akan semakin meningkat manakala menjelang hari raya Idul Fitri. Malam hari banyak yang hilang, begitu juga siang harinya. Malam hari ayam banyak yang hilang merupakan sesuatu yang biasa terjadi, mengingat pemiliknya sudah banyak yang tidur. Akan tetapi, jika hilangnya pada siang hari tentu menjadi sebuah pertanyaan. Apakah dimakan binatang buas atau disebabkan karena sesuatu yang lainnya. Kalau dimakan binatang buas kok rasanya ada yang janggal oleh karena dilakukan secara masal.
Ternak ayam ternyata cukup menjanjikan. Dalam waktu 45 hari, ayamku biasanya menetaskan telurnya. Saya biasanya memilih ayam betina yang bertubuh kecil daripada ayam betina yang bertubuh besar. Mengapa? Karena ayam yang tubuhnya kecil ternyata lebih banyak menetaskan telurnya. Umpama mempunyai telur 15, kemungkinan besar akan menetas semuanya. Berbeda lagi dengan ayam betina yang tubuhnya besar, paling hanya menetaskan sepuluh telurnya.
Secara akal seharusnya yang tubuhnya besar lebih banyak menetaskan telurnya. Tubuhnya besar dan bulunya pun lebat seharusnya mampu mengerami telurnya secara sempurna. Tubuhnya besar, sehingga secara otomatis dalam mengerami akan lebih hangat dan merata. Akan tetapi, pengalaman saya dalam ternak ayam ternyata realitasnya seperti itu. Ayam yang bertubuh kecil ternyata lebih sempurna dalam menetaskan telurnya. Artinya, tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh mata atau tidak sesuai apa yang dipikirkan oleh manusia.
Jika diibaratkan seperti manusia, ternyata manusia juga seperti ayam. Yang penampilannya sempurna misalnya, terkadang kurang sukses dalam mendidik anaknya. Sebaliknya, yang kelihatannya sederhana, kecil, kurus, malah terkadang sukses dalam mendidik anaknya. Sukses dalam hal ini adalah masalah mendidik akhlak anaknya. Sukses untuk mencari uang dapat diusahakan. Akan tetapi sukses mendidik anaknya untuk menjadi anak yang mempunyai akhlak yang bagus, tentunya lebih sulit. Tidak bisa dicari, namun harus dilatih. Bagaimana cara melatihnya? Tentu dari orang tuanya sendiri yang harus memberi contoh kepada anaknya.
Dari pertama perkenalan hingga kemudian bertelur biasanya membutuhkan waktu 2 minggu. Begitu juga selama mengeluarkan telur biasanya juga membutuhkan waktu 2 minggu. Satu hari menghasilkan satu telur. Jika setengah bulan, maka akan menghasilkan 14-15 telur ayam. Waktu untuk mengerami telur biasanya 20-21 hari atau sekitar 3 minggu. Sehingga jika dijumlahkan semuanya, maka membutuhkan waktu sekitar 7 minggu untuk menetaskan atau menghasilkan telur yang baru.
Ketika sudah menetas, biasanya langsung saya pisah antara anak ayam dengan induknya. Induknya awal mulanya bagaikan orang gila oleh karena kehilangan anaknya. Caranya supaya tidak stres oleh karena baru saja berpisah dengan anaknya adalah dengan dimandikan. Disiram dengan air yang cukup banyak supaya tubuhnya dalam keadaan stabil. Maksudnya stabil adalah keadaannya normal bagaikan tidak mempunyai anak yang baru menetas.
Terus—begitulah perjalanan saya dalam ternak ayam. 7 minggu kemudian mempunyai ayam yang baru menetas lagi. Umpama satu indukan (betina) ayam menghasilkan 15 telur, jika mempunyai 5 indukan ayam maka akan menghasilkan anakan ayam yang baru sekitar 75 ayam. Jika ayam tersebut besar dan hidup semua, tentu akan menghasilkan uang yang cukup lumayan. Umpama ayam satu dihargai Rp. 50.000,- maka jika ditotal akan mengumpulkan uang sekitar Rp. 3.500.000,-. Uang yang cukup lumayan banyak. Dapat untuk membeli bumbu atau membeli kebutuhan rumah tangga lainnya ketika akan menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.
Jika ini ditiru atau dipraktekkan oleh banyak orang, tentu akan menghasilkan uang sampingan. Pagi berangkat kerja dan sore harinya pulang. Setelah pulang, kemudian dilanjutkan memberi makan kepada ayam. Tentunya dapat mengobati atau menghilangkan penyakit stres. Setelah lelah bekerja seharian di kantor, terkadang menjadi stres. Setelah melihat ayam yang begitu banyak, penyakit stres pun sedikit demi sedikit menjadi hilang karenanya.
Ada sisa nasi, dapat diberikan kepada ayam. Ada sisa makanan di dalam rumah, juga dapat dikasihkan kepada ayam. Dibelikan bekatul, ayam pun mengucapkan alhamdulillah. Dibelikan jagung, ayam juga mengucapkan terima kasih. Dibelikan ikan laut, ayam juga merasakan dan mengucapkan rasa bahagia kepada pemiliknya. Selamat beternak ayam! Semoga dengan beternak ayam, maka akan mampu menghidupi keluarganya. Ayam selalu mendoakan kepada pemiliknya. Wallahu a’lam.
Salatiga, 5 Juni 2018
Komentar
Posting Komentar