Kiranya sudah bukan hal yang asing bagi pemeluk
agama Islam, bahwa siapa yang bertakwa maka Tuhan akan mempermudahkan segala
urusannya. Lebih jauh lagi, Tuhan juga akan memberikan sebuah rezeki yang tidak
diketahui dari mana datangnya. Dari kisah ini tulisan tersebut kemudian lahir.
Ceritanya, ada seorang guru SD yang nasibnya sangat
beruntung. Ia bercerita kepada saya, bahwa sebenarnya tidak begitu mengetahui
secara mendalam tentang ilmu agama Islam. Namun dari itu, ia merupakan pribadi
yang sangat tekun dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Hingga akhirnya, ia pun
kehidupannya selalu mendapatkan keberuntungan.
Ia bercerita kepada saya, bahwa sudah sekitar
sepuluh tahun lebih menjalankan puasa sunnah Daud. Satu hari berpuasa dan esok
harinya tidak berpuasa. Begitu terus pekerjaannya. Padahal pekerjaannya secara
logika sangatlah berat. Pagi berangkat ke sekolah untuk mengajar, yang kemudian
juga praktek di lapangan untuk memberikan teori kepada peserta didiknya.
Yang saya tahu—meskipun ia kurang lancar dalam
membaca al-Qur’an—ia sangat tekun membaca kitab suci tersebut. Saya sering
melihat ia sedang membaca al-Qur’an di dalam masjid. Sudah tubuhnya lemas
karena berpuasa, ternyata juga masih ditambah dengan membaca kitab suci al-Qur’an,
yang juga tentunya memerlukan tenaga. Ia juga sering mengamalkan sholat sunnah
tahiyyatul masjid.
Pada tahun 2008, ia mengajar di sebuah SMA. Sekolahnya
berada di pegunungan. Mengajar mata pelajaran Guru Olah Raga oleh karena
sebagaimana ijasah yang diperolehnya. Gaji yang sederhana, ternyata tak menyurutkan
niatnya untuk terus melangkahkan jalan hidupnya. Mengajar, mengajar dan
mengajar adalah profesinya sehari-hari.
Pada tahun 2009, ada pembukaan tes CPNS daerah. Ia pun
mendaftar. Ia bercerita kepada saya, bahwa sebenarnya tidak begitu pintar. Ketika
lulus kuliah, nilainya pun pas-pasan. Tidak begitu tinggi. Hanya 3,1 yang jika
untuk mendaftar CPNS, maka sudah masuk dalam kriteria. Ketika seleksi
administrasi, ia pun akhirnya lolos.
Ia pun kemudian melanjutkan tes CPNS menggunakan
pensil dan kertas, sebagaimana yang disediakan oleh pemerintah saat itu. Ketika
mengerjakan soal, ia pun sangat merasakan pusing yang begitu amat. Ia pun
pasrah kepada-Nya. Dengan mengucap bismillah,
ia akhirnya mengerjakan soal tersebut secara acak atau asal-asalan.
Saat pengumuman tes awal, alhamdulillah, ia lolos. Ia kemudian melanjutkan tes yang kedua
yaitu wawancara. Saat itu, ia ditanya oleh pengujinya dan ia pun menjawabnya
dengan santai. Saat pengumuman, ia pun ternyata juga lolos atau berhasil
memenangkan persaingan dengan teman-temannya.
Ia bercerita kepada saya, bahwa semuanya karena
memang rezeki dari-Nya. Ia bercerita—sebagaimana di muka—bahwa bukan seorang
yang pintar. Namun dari itu, ia ternyata orang yang beruntung.
Ia menambahkan, bahwa kepintaran seseorang itu masih
bisa diubah. Namun untuk keberuntungan, ia mengatakan harus bersegera untuk
mendekatkan diri kepada-Nya. Zaman yang semakin canggih, jika tidak bersegera
mendekatkan diri kepada-Nya, maka akan tertinggal atau kalah dengan yang
lainnya.
Saya juga pernah mendapatkan sebuah cerita dari
seorang pedagang pulsa, bahwa supaya laris dalam berdagang, maka harus
bersegera mendekatkan diri kepada Tuhan. Persaingan bisnis yang semakin banyak,
akan membuat banyak pedagang yang berani memberikan harga yang murah.
Orang yang mempunyai modal besar tidak begitu menjadi
masalah. Akan tetapi, pedagang yang modalnya kecil, biasanya akan kalah dan
berujung gulung tikar. Menurut pedagang pulsa tersebut, satu-satunya yang dapat
dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain, spiritualitas
kepada Tuhan harus diutamakan.
Dari kisah Guru Olah Raga tersebut, kiranya dapat
diambil nilai pelajaran hidup yang sangat bermakna. Sekalipun orang yang tidak
begitu mengetahui ilmu agama, namun oleh karena sangat bersemangat dalam
menjalankan perintah agamanya, maka akan mendatangkan keberuntungan dan
berujung kebahagiaan. Untuk itu, siapa yang ingin hidupnya beruntung dan bahkan
bahagia, maka mulai dari sekarang harus bersegera mendekatkan diri kepada-Nya.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar