Langsung ke konten utama

Buceng, Sebuah Sajian yang Mengandung Pesan Agama


Menengok sejarah Walisongo, ada sebuah tradisi “sekaten” yang diadakan oleh kraton Surakarta dan Yogyakarta, yang dirayakan setiap tanggal 12 bulan Mulud untuk memperingati kelahiran baginda Rasul SAW. Istilah sekaten sebenarnya berasal dari bahasa Arab yaitu Syahadatain yang artinya dua syahadat. Namun karena saat itu lidah orang Jawa sangat sulit untuk mengucapkan kata syahadatain, maka kata yang digunakan adalah sekaten.

Di dalam acara sekaten tersebut, ada dua buah nasi tumpeng yang lengkap dengan berbagai isinya. Dua buah nasi tumpeng melambangkan dua buah syahadat, yaitu Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Syahadat Tauhid yaitu yakin dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Sedangkan Syahadat Rasul adalah yakin dan bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.

Dalam acara sekaten tersebut, dua nasi tumpeng merupakan lambang yang utama. Kata tumpeng, mempunyai makna nek metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus sungguh-sungguh). Maksudnya, kalau seumpama sudah pisah dengan orang tua, haruslah sudah matang dalam penguasaan ilmu agama dan pengalamannya. 

Ketika masih kecil diberikan ilmu agama melalui perantaraan TPQ, Madrasah Diniyah dan lain sejenisnya. Saat itu juga harus mempunyai semangat yang tinggi dalam mencari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu umum tak boleh ditinggalkan. Ketika sudah mulai besar, harapan orang tua terhadap anaknya tentunya mempunyai ilmu yang matang. Dengan mempunyai ilmu yang matang, hidup pun akan menjadi semakin percaya diri.

Ketika sudah besar, tentunya akan menikah dan berpisah dengan orang tuanya. Seumpama sudah mempunyai ilmu yang matang, hidup pun tidak akan canggung. Mampu mengatasi hidup yang baru bersama istrinya. Mampu mengatasi berbagai problem keluarga dengan istrinya sendiri. Seumpama ilmunya belum matang, bisa saja mempunyai masalah yang sedikit namun tak kuat. 

Mempunyai masalah yang kecil, lapor kepada orang tuanya, yang terkadang malah akan memperkeruh suasana. Kalau orang tuanya mengayomi tentunya tiada masalah. Kalau orang tuanya saling membenarkan, membela anaknya meskipun mungkin salah, tentu akan membuat suasana menjadi semakin kacau. 

Pengalaman di lapangan mengatakan jika sebuah keluarga orang tuanya masih ikut campur, yang ada bukan semakin indah, namun akan semakin gundah. Oleh sebab itu, mencari ilmu atau pengalaman sebanyak-banyaknya sangatlah dianjurkan. Dengan ilmu, tentu akan membuat kehidupan manusia menjadi semakin mudah. 

Kok bisa semakin mudah? Saya ambil contoh tukang becak. Kelihatannya sangat sepele, ketika ada seseorang yang mencoba mengayuh becak, ternyata akan sulit dan terasa berat. Hal itu disebabkan karena tukang becak mempunyai sebuah ilmu untuk mengayuh sebuah becak dengan baik dan benar. Selain itu,  tentu oleh karena sudah menjadi sebuah rutinitas. 

Dalam nasi tumpeng tersebut, ada sebuah makanan yang namanya “buceng.” Makanan ini dibungkus dengan menggunakan daun pisang atau daun bambu. Buceng di sini mempunyai makna yen mlebu kudu sing kenceng (kalau masuk harus sungguh-sungguh). Maksudnya, kalau masuk agama Islam harus dengan penuh totalitas, Jangan setengah-setengah. 

Mempelajari ilmu agama itu tiada pernah habis. Agama ada hubungannya dengan kehidupan manusia. Agama akan selalu dipakai manusia oleh karena sebagai pegangan. Ilmu agama jika dipelajari semakin lama akan semakin menarik. 

Mempelajari ilmu agama harus dengan seorang guru. Mempelajari ilmu agama dengan cara membaca buku sendiri tentunya akan kurang sempurna. Ilmu agama tak selamanya dapat dirasio dengan akal. Misalnya saja agama menganjurkan untuk berzakat. Secara akal memang berkurang, namun jika hanya itu saja yang digunakan, tentunya kehidupan pun tak akan maju atau berkembang. 

Tidak akan menemukan apa manfaat zakat bagi kehidupan manusia, terutama bagi pelaku. Dalam hal ini tentunya menggunakan keyakinan di dalam hati. Lakukanlah saja apa yang diperintahkan oleh agama, hingga manusia sendiri yang akan menemukan kenikmatannya!

Belajar ilmu agama itu tidak boleh setengah-setengah. Belajar ilmu agama dengan setengah-setengah akan berakibat rancau. Dulu senang dan sering mengikuti kegiatan yang ada di kampung halaman. Setelah itu, pergi dan merantau ke luar kota untuk mencari ilmu dan pengalaman. Pulang dari merantau, bukannya membuat senang masyarakat namun malah membuat gaduh. Dulu senang tahlilan, namun sekarang mengatakannya haram, tidak boleh, tidak ada dasarnya dan lain sebagainya. Akibatnya, warga masyarakat pun banyak yang mengucilkannya. 

Di dalam sebuah perkampungan, seorang yang mampu bergabung dengan masyarakat jauh akan lebih dihormati dan dihargai walaupun mungkin masih memiliki sedikit ilmu, daripada mempunyai seabrek ilmu namun tak mampu berbaur dengan masyarakat sekitar secara baik. 

Seumpama warga kampung mendengarkan ceramahnya, itu pun karena terpaksa. Setelah selesai pengajian, banyak warga kampung yang menggunjingnya di belakang. Pengajian pertama dan kedua berjalan lancar. Pengajian ketiga dan seterusnya, jamaahnya pun bubar oleh karena tidak sesuai dengan masyarakat pada umumnya. 

Yang diminta masyarakat adalah seorang ustadz yang mampu mengayomi, menghormati sejarah dan menjaga tradisi. Bukan seorang ustadz yang selalu membahas dan mengkritik sejarah atau budaya bagus yang sudah lama ada.

Untuk itu, maka harus menjadi buceng terlebih dahulu, sebelum kemudian menjadi tumpeng. Jika bucengnya kurang matang, maka harus dimatangkan terlebih dahulu. Jika bucengnya kurang matang, maka  tumpengnya akan kurang sempurna. Jika bucengnya sudah matang, dimakan pun akan terasa lebih enak. Selain itu, hidup pun akan semakin mudah dan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Wallahu a’lam. 

Salatiga, 16 April 2018

Catatan : Artikel ini pernah tayang di Kompasiana

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...