Sungguh sangat ironi tatkala melihat berita mengenai seorang oknum profesor yang juga menjabat rektor USK yang mempolisikan seseorang gegara tulisan opini di media online. Opini tersebut dianggap menghina atau memojokkan rektor. Artinya, tidak semua profesor itu mempunyai kedewasaan pemikiran ilmiah.
Sebatas yang saya tahu, tulisan yang dimuat oleh media massa baik itu media cetak, elektronik maupun media online sudah melaui proses yang panjang. Di situ ada tim yang menyeleksi, mengedit dan memposting opini tersebut. Apabila tidak layak, maka opini tersebut gagal dipublikasikan.
Di situ tulisannya berhasil dipublikasikan. Artinya, tulisan opini yang telah ditulis oleh seseorang tersebut telah lolos dan masuk kriteria yang diatur oleh media massa. Sekali lagi, tatkala melihat berita ini saya menganggap bahwa tidak semua profesor itu mempunyai sikap yang dewasa dalam masalah karya ilmiah.
Sependek pengalaman yang saya tahu, setiap orang itu berhak mengkritik seseorang dengan cara ilmiah. Dan itu dilindungi oleh undang-undang. Mengkritik melambangkan orang yang pemikirannya maju. Sedangkan yang dikritik itu juga harus siap, apalagi seorang akademisi yang sehari-hari bergelut di dalam kampus.
Orang yang tidak siap dikritik pertanda bahwa orang tersebut tidak maju. Orang yang mengkritik pasti mempunyai alasan tertentu. Ibarat pepatah, tidak akan mungkin ada asap tanpa adanya api terlebih dahulu. Tidak mungkin ada kritikus tanpa adanya masalah terlebih dahulu.
Oknum rektor tersebut seharusnya membaca dengan cermat isi dari opini itu. Bacalah dan pahamilah isinya. Apabila isinya mungkin menyinggung, maka mungkin segera harus ada yang diperbaiki dalam kinerjanya menjadi orang nomor satu di dalam kampus USK.
Apabila tidak setuju dengan opini tersebut, maka rektor tersebut dapat menyanggahnya. Menyanggahnya pun harus dengan kode etik ilmiah pula. Sang rektor membuat opini juga, sebagai jawaban atas sanggahan apabila opini yang dibuat oleh seseorang sekiranya tidak sesuai dengan realitas. Itulah yang namanya komentar ilmiah.
Mengakhiri tulisan ini saya berpandangan bahwa tidak semua profesor itu siap menerima kritik ilmiah. Dikritik saja tidak siap, maka bagaimana kedepannya? Inilah realitas di lapangan bahwa manusia di dunia ini tak ada yang sempurna. Sekalipun profesor tapi pemikirannya masih kurang dewasa. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 2 Juli 2025

Komentar
Posting Komentar