Langsung ke konten utama

Diskriminasi Dalam Sekolah

Kemarin saya melihat brosur sekolah TK. Melihat isinya sebenarnya sangat bagus. Ada ngaji pagi, program hafalan juz 30, doa pendek dan lain sebagainya. Intinya, program itu sangat bagus untuk mengasah kemampuan otak anak kecil. 



Namun, disitu saya melihat ada kejanggalan yang sebenarnya kurang bagus yaitu program biasa dan unggulan. Yang biasa pakaiannya lebih murah. Sementara yang program unggulan pakaiannya lebih bagus, harganya lebih mahal serta pulangnya sampai siang hari selepas dzuhur. Apakah program ini bisa dikatakan efektif? 


Poin pertama yang saya tangkap adalah pakaiannya yang biasa. Antara program biasa dan unggulan pakaiannya berbeda. Ini jelas kurang bagus bagi pemikiran siswa di sekolah. Bisa jadi, hal sekecil ini menyebabkan kecemburuan sosial. Praktik semacam ini secara tidak langsung bisa menyebabkan persepsi yang kurang bagus bagi wali atau orang tua siswa. 


Sekolah hendaknya tidak boleh membedakan pakaian siswanya. Antara yang biasa dan unggulan seharusnya seragam. Pakaian adalah identitas maka harus kompak. Apakah indah tatkala dalam satu sekolahan seragamnya tidak sama? 


Poin kedua yang saya tangkap adalah pulangnya sampai siang hari selepas dzuhur. Hal ini berlaku bagi yang program unggulan. Sekolah TK yang pulangnya sampai selepas dzuhur bagi saya pribadi sebenarnya kurang bagus. Seorang anak yang baru saja menempuh sekolah awal ternyata otak dan tenaganya harus diperas. Ibaratnya adalah dipaksa. Jika ini berlanjut, bisa jadi otak anak malah tidak kuat karena tidak mampu menampung memori yang terlalu banyak. 


Sekolah TK seharusnya pulangnya awal yaitu sebelum dzuhur. Jika program pulang selepas dzuhur berlangsung, juga akan sangat mengganggu keberadaan madin atau TPQ di perkampungan. Sekolah yang semacam ini secara tidak langsung bisa menyaingi dan menggerus keberadaan TPQ di kampung yang diajar oleh para ustadz lokal. 


Anak kecil pada umumnya juga harus tidur siang walau hanya sebentar. Jika dipaksakan belajar secara terus-menerus dan tidak istirahat, maka justru sangat membahayakan bagi otak serta psikologis anak. Ibarat orang berjalan maka harus setapak demi setapak. Ketika orang berjalan itu seperti berlari, maka akan sangat melelahkan. 


Poin yang ketiga yang saya tangkap adalah mengenai program hafalan juz 30. Sebenarnya ini bagus, hanya saja kurang tepat apabila itu untuk anak setingkat TK. Bagi yang sudah mengerti dasar huruf hijaiyah mungkin tidak bermasalah. Menjadi masalah tatkala anak kecil tersebut belum mengerti huruf hijaiyah namun dipaksa hafalan. 


Hafal mungkin saja iya, akan tetapi sangat berbahaya untuk ke depan. Ibarat belum mengerti makhroj namun sudah hafal, maka akan sangat rancau di kemudian hari. Panjang dan pendeknya harakat saja belum mengerti, maka tatkala disuruh hafalan akan kacau. Kalau ini misalnya diteruskan, akan sangat mengganggu dalam dunia tilawatil Qur'an. Hafal mungking saja hafal, namun ketika didengarkan tentunya tidak enak. 


Maka dari itu, pondasi itu menjadi sangat penting. Ketika rumah itu pondasinya kuat, maka rumah tersebut akan kuat. Begitu pula ketika ingin belajar al-Qur'an maka pondasinya juga harus kuat. Makhrojnya harus benar terlebih dahulu. Panjang dan pendeknya juga harus benar. Maka siswa inilah yang nantinya makhrojnya akan bagus serta didengarkan juga enak. 


Masak tiba-tiba orang membangun rumah namun belum membangun pondasi terlebih dahulu? Masak tiba-tiba anak itu disuruh hafalan namun belum mengerti pondasinya? Apakah ini yang namanya sekolah bisnis? Apakah ini bisnis dalam dunia pendidikan? 


Itulah seputar dunia pendidikan. Ada tiga poin yang saya tangkap dalam sekolah tersebut. Memang masyarakat itu berhak memilih sekolah yang bermutu. Hanya saja masyarakat juga harus cerdas dan cerdik dalam menentukan pilihannya. Masyarakat harus memikirkan masa depan anaknya. Salah satu hal yang harus dicerna dan diantisipasi adalah memilih sekolah yang bagus serta memikirkan resiko untuk masa yang akan datang. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 22 Juni 2025

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...