Setiap malam Jum'at Kliwon pada bulan suro (muharram), saya dulu biasanya mengikuti tradisi kegiatan Baritan. Baritan ini biasanya digelar di pertigaan jalan kampung. Semua warga sangat antusias untuk mengikutinya. Semua orang tua dan anak-anak juga berbondong-bondong untuk mengikutinya.
Sejak saat kecil, tradisi seperti itu telah ada. Sampai saat ini, tradisi Baritan ternyata tetap lestari. Meski zaman sudah maju, namun budaya tersebut ternyata masih dilanjutkan oleh generasi muda.
Dengan menggunakan daun pisang sebagai alas duduk, semua warga masyarakat duduk dengan khidmad. Seorang imam kemudian mengucapkan kata sambutan secukupnya, membaca tahlil dan kemudian ditutup dengan doa. Setelah itu biasanya membagikan makanan yang telah tersedia.
Memang sangat unik. Makanan yang disajikan pun cukup beragam. Ada yang membawa nasi gudangan, makanan ringan dan minuman. Ada pula kadang yang membagikan uang walau hanya sedikit. Intinya, pada saat itu semua warga berdoa kepada Tuhan dan berbagi terhadap sesama.
Ketika sudah lama menetap di Salatiga, ternyata tradisi tersebut di sini tidak ada. Tradisi Baritan memang tradisi yang pada umumnya dilakukan oleh warga Pantura. Sebagaimana lazimnya, acara doa biasanya dipimpin oleh imam dan dilanjutkan dengan berbagi makanan ringan.
Tradisi yang baik ini seharusnya memang dirawat dengan baik. Kalau tidak, maka bisa jadi akan punah. Kalau sudah punah maka sejarah akan hilang. Biar sejarah tersebut tidak hilang, maka sekali lagi harus dirawat dengan baik. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 12 Juli 2024

Komentar
Posting Komentar