Langsung ke konten utama

Kontrak Politik



Pemilihan presiden kemarin menyisakan sejarah. Kebetulan, saya juga berjaga di TPS. Karena ada banyak saksi dari parpol yang hadir, maka akhirnya juga banyak cerita. Cerita itulah yang akhirnya menjadi perbincangan tatkala istirahat. 


Seorang teman bercerita, bahwa dalam satu kelurahan tiap RT diberikan dana 25 juta rupiah. Uang tersebut merupakan kontrak politik. Ketika jadi DPR, maka uang tersebut tidak diambil kembali. Tatkala tidak jadi, maka uang tersebut diambil kembali oleh pemiliknya. 


Selain itu, setiap orang yang akan mencoblos diberikan sangu 150 ribu. Uang tersebut merupakan murni dari caleg yang tidak akan diambil kembali. Jadi maupun tidak jadi anggota dewan maka uang tersebut murni dikasihkan kepada rakyat yang memang mau mencoblos. Bahasa halusnya adalah sebagai ganti uang keringat. 


Apa yang terjadi? Ternyata calon tersebut menang dan lolos menjadi anggota dewan. Ia merupakan calon DPR dari partai yang terkenal dengan sebutan kaum "jenggot". Bayangkan, kaum jenggot ternyata juga membagikan uang. Yang menerima sebenarnya salah. Yang memberi sebenarnya juga salah. 


Kaum jenggot tersebut biasanya kalau dakwah sangat kelihatan intelek, islamis dan lain sebagainya. Ketika sudah terjun politik, maka yang haram pun akhirnya berani diterjang. Yang haram akhirnya menjadi harum. Begitulah kira-kira suara yang ada di dalam masyarakat. 


Konon, kata tetangga saya yang sudah sepuh, budaya memberikan uang tatkala menjelang pemilu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Budaya itu ternyata masih tetap berlanjut sampai sekarang. Sampai besok pun mungkin akan tetap serupa. Bahkan, nominalnya pun akan semakin besar seiring perkembangan zaman. 


Sementara dari calon partai yang lain ada juga yang tak lolos. Meski membagikannya jauh lebih besar, ternyata tidak masuk dalam nominasi. Pertanyaannya, apakah memang kurang suara? Atau juga mungkin warga menerima uangnya namun tidak mencoblos orang tersebut? 


Barangkali, calon lain tersebut harus meniru strategi orang jenggot tersebut yakni kontrak politik. Memberikan uang tiap RT 25 juta sebagai jaminan sekaligus penyemangat. Jaminan sekaligus penyemangat karena kalau RT diberikan uang kas sebesar itu maka bisa digunakan untuk membeli peralatan RT.  


Orang jenggot tersebut ternyata sangat cerdas dalam mengatur strategi politik meski sebenarnya hal itu kurang baik. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 15 Mei 2024

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...