Langsung ke konten utama

KUA Semua Agama

Wacana Kemenag untuk memfungsikan KUA sebagai tempat menikah untuk semua agama mendapatkan pro dan kontra. Bagi orang kuno mungkin aneh, kurang pas dan lain sebagainya. Tetapi bagi orang modern, gagasan tersebut sebenarnya sangat pas. 

Sejak awal kemerdekaan, KH. Wahid Hasyim sebenarnya memang mempunyai gagasan untuk mendirikan kementerian yang spesial mengurusi keagamaan. Kementerian tersebut bernama kementerian agama. Di sini kementerian agama berfungsi dan wajib mengurus semua agama yang ada di Indonesia. 

Uniknya, kementerian agama di dunia ini yang ada hanya di Indonesia. Di Arab Saudi misalnya, tidak ada kementerian agama. Sekalipun kampus berafiliasi Islam, misalnya, di sana tidak dibawah kementerian agama, melainkan pendidikan tinggi. Kalau di Indonesia namanya Kemendikbudristek. 

Terlepas dari semua itu, saya sendiri sangat setuju dengan gagasan Menag. Bagi saya, kebijakan ini seharusnya sudah berjalan sejak lama. Kalau hanya mengurus umat Islam saja, artinya disitu ada diskriminasi agama. Umat Islam-lah yang hanya menggunakan KUA sebagai tempat menikah dan mengurus administrasi sejenisnya. 

Dari dulu namanya KUA, Kantor Urusan Agama. Kalau melihat namanya, seharusnya memang mengurusi urusan keagamaan semua agama. Tidak hanya Islam semata. Kalau hanya mengurus umat Islam, namanya seharusnya KUA-I, Kantor Urusan Agama Islam. 

Memang tidak dapat dipungkiri, sejak Menag Yaqut menjabat, program-program kemenag banyak yang diperbarui. Digitalisasi adalah program yang utama dikerjakan. Dulu orang mau menikah masih manual menggunakan tangan dan bolpoint. Sekarang ternyata sudah mendaftar melalui komputer. 

Ketika beberapa waktu yang lalu saya pergi ke KUA dalam rangka mengurus legalisir buku nikah dalam rangka mengurus akta lahir anak, ternyata sudah banyak berubah. Di KUA sudah ada komputer besar, mirip seperti di kampus. Ketika sepintas melihat, ternyata ada foto dan tulisan berjalan, menampilkan orang menikah dalam dua bulan terakhir. 

Terakhir, yang mungkin perlu dibenahi adalah masalah pungutan liar di dalam KUA. Masyarakat masih banyak yang memberikan amplop pada pegawai KUA selepas menikah. Padahal, mereka telah digaji oleh negara. Apalah artinya uang terima kasih dari rakyat kecil kalau mereka sudah digaji oleh negara? 

Kementerian Agama perlu mengadakan sosialisasi kepada warga masyarakat akan budaya "terima kasih" selepas ijab. Mungkin perlu diperbanyak kamera CCTV agar pejabat yang menerima uang dari rakyat dapat terlihat dengan jelas. Semoga bermanfaat. 

Salatiga, 27 Februari 2024

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...