Langsung ke konten utama

Pengalaman Mengunjungi Kantor Lapas


Yang namanya kantor lembaga pemasyarakatan (lapas) adalah ruang untuk para tersangka pelaku kejahatan. Warga masyarakat biasa menyebutnya kantor penjara. Konon, dulu namanya penjera. Siapa yang pernah masuk ke sana harapannya agar segera jera. 

Namun demikian, sebagian orang kadang malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Orang malah kadang sengaja masuk ke dalam jeruji penjara agar bisa melancarkan bisnisnya yaitu narkoba. Tidak sedikit para tersangka yang malah mendapatkan uang melimpah dari hasil kerja di dalam ruang tahanan. Mereka rela menyogok kepada sipir dan instansi terkait agar bisnisnya lancar. 

Apakah ada kasus seperti itu? Jelas ada. Sebagai contoh adalah kasus Fredy Budiman. Almarhum bos dengan jaringan internasional tersebut memimpin dan mengendalikan peredaran narkoba dari dalam lapas. Berkali-kali ia masuk lapas, namun ternyata tidak kapok. Itu hanya contoh kecil. Di luar sana tentunya masih sangat banyak. 

Pungutan liar di kantor lapas boleh dikatakan tidak akan pernah sirna. Umpama ada pembersihan dari atas, itu pun tidak akan bertahan lama. Setelah itu biasanya akan kembali seperti sedia kala. 

Terkait dengan kantor lapas, kebetulan saya sudah sedikit mempunyai pengalaman. Tulisan ini bukan bermaksud mencemooh instansi terkait, melainkan hanya untuk membuka sejarah bahwa inilah dunia lapas. Semoga memberikan informasi kepada khalayak luas. 

Ketika masih SMA, saya mempunyai seorang teman yang kebetulan ditangkap polisi gara-gara ketahuan mengkonsumsi narkoba. Saya dan teman-teman pun kadang menjenguknya. Awal mulanya saya tidak mengetahui bagaimana alur masuk kantor lapas. Setelah mengetahui cara masuk lapas dari salah seorang teman, akhirnya saya tahu. 

Kala itu (2005) setiap orang yang akan masuk membayar uang sebesar lima ribu rupiah secara tersirat. Setiap pengunjung harus menyerahkan KTP kepada petugas lapas. Di bawah KTP itulah ada uang yang diselipkan guna menyogok para petugas. 

Mengapa menyuap? Karena kalau tidak menyuap para pengunjung tidak akan bisa masuk kantor lapas. Pegawai lapas berdalih dengan berbagai alasan. Intinya, setiap pengunjung "wajib" membayar uang pungutan meskipun hal itu sebenarnya dilarang. 

Saya juga pernah melihat orang tua yang duduk di depan kantor lapas. Beliau bermaksud menjenguk saudaranya. Namun, beliau ternyata tidak mampu masuk lapas karena tidak mengetahui "alur" bagaimana caranya. 

"Dari mana, Pak?" tanya saya. "Limpung, mas," jawab beliau. 

Saat itu di kampung kelahiran saya, Kabupaten Batang, belum ada kantor Lapas. Yang ada di Kota Pekalongan. Warga Batang yang melakukan tindakan kriminal, biasanya mendekam di Lapas Kaliloji Pekalongan. Setelah saya lulus SMK (2008), pemerintah daerah beserta instansi terkait baru membangun kantor lapas.

"Saya di sini sejak jam delapan pagi. Namun sampai sekarang belum juga dibukakan pintu oleh petugas lapas. Padahal sekarang telah adzan Ashar. Kata petugas, saya disuruh nunggu dulu," sambung beliau dengan tubuh lemas. 

Bayangkan, sejak pukul delapan sampai jam tiga sore. Artinya, sudah sekitar tujuh jam beliau menunggu di depan kantor lapas namun belum juga bisa bertemu saudaranya. Beliau pun akhirnya pulang. Jauh-jauh dari desa serta mengeluarkan uang untuk naik bus namun ternyata sia-sia belaka karena belum ketemu dengan seseorang yang diharapkan. 

Apakah sekarang sudah bersih? Rasa-rasanya tetap belum bisa. Kantor lapas ditengarai sangat sulit dihilangkan dari dunia pungutan liar. Umpama mampu dibersihkan, sebagaimana di atas, kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan lama. 

Begitulah pengalaman saya dalam mengunjungi kantor lapas. Meskipun getir, namun itulah realitasnya. Meskipun sangat sulit untuk "meluruskan" kantor lapas, saya juga turut berdoa agar kantor tersebut menjadi semakin lebih baik serta terhindar dari pungutan liar. Semoga. 

Salatiga, 4 Mei 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...