![]() |
| gambar : arahjaya.com |
Nama Malik Fadjar mungkin tidak begitu dikenal luas oleh warga masyarakat layaknya Gus Dur. Mengapa? Beliau seorang akademisi. Bila kita misalnya bertanya kepada warga masyarakat di perkampungan, mungkin banyak yang tidak mengenal nama beliau. Tokoh Muhammadiyah ini merupakan Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak tahun 1983-2000. Di tangan beliau kampus tersebut maju begitu pesat.
Kiprah apa saja yang telah beliau lakukan untuk bangsa ini?
Saya sendiri hanya satu kali melihat beliau di kampus UMM. Itu pun jaraknya agak jauh karena dikawal aparat secara ketat. Saat itu, beliau bersama Presiden Jokowi beserta rombongan sedang melakukan kunjungan kerja ke kampus UMM. Kala itu beliau masih menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Kini, beliau telah almarhum. Namun demikian, nama beliau masih tetap dikenang oleh warga masyarakat, utamanya warga kampus. Di kampus UMM, nama beliau tidak asing. Bahkan, sebagian warga kampus menyebut bahwa kampus UMM ya kampusnya Prof Malik Fadjar.
Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional, serta Menko Kesra. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dua kampus yang pernah dinahkodai beliau, meskipun swasta, namun kedua kampus tersebut cukup diperhitungkan di negeri ini.
Change, grow and reform adalah istilah yang sering digaungkan beliau. Bagi para pemangku pendidikan tinggi keislaman, ketiga istilah tersebut mungkin sudah tidak asing. Berulang kali beliau mengucapkannya. Entah karena lupa atau memang sudah cukup tua, ketika beliau mengisi seminar maka kata itu biasanya tidak lupa diungkapkan.
Mudjia Rahardjo (2020) dalam blog pribadinya mengatakan, bahwa beliau adalah seorang yang telah mengubah wajah diskriminasi pendidikan di negeri ini. Dulu, yang namanya warga pondok pesantren yang akan melanjutkan kuliah harus mengikuti ujian penyetaraan terlebih dahulu. Kebijakan itu oleh beliau dianggap kurang adil karena memojokkan kaum pesantren. Atas ide beliau kebijakan tersebut akhirnya berhasil dihapus. Para santri yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi sekarang tidak usah menggunakan ujian penyetaraan lagi. Mereka tinggal datang ke kampus, membawa ijazah pondok dan kemudian mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru.
Beliau juga pernah merangkap jabatan rektor di dua kampus yaitu UMM dan UMS dari tahun 1992-1995 (Kompas, 8-9-2020). Ini tentu tidak mudah. Menjadi rektor di sebuah kampus saja tidak mudah, apalagi sampai merangkap di dua tempat? Jelas sangat sulit. Beliau menjadi rektor di UMS karena di kampus itu terjadi konflik internal yang cukup akut.
Dalam buku karya Taufiqurrohman (2010), beliau rela menggadaikan sertifikat pribadinya. Bersama para koleganya, beliau kemudian iuran dan membangun gedung UMM. Kampus UMM yang sekarang terlihat megah adalah buah nyata karya beliau yang itu tidak banyak dilakukan oleh para rektor lain di negeri ini. Tidak mengherankan kalau UMM sering mendapatkan julukan kampus putih.
Beliau juga merupakan salah satu dari sembilan orang yang dipanggil Pak Harto tahun 1998. Ketika negara ini sedang carut-marut, demo terjadi di berbagai tempat, sembilan orang tersebut kemudian merumuskan gagasan yang pada intinya Pak Suharto harus segera mengundurkan diri dari jabatan presiden. Bila melihat sejarah ini, artinya beliau juga seorang negarawan.
Kini, beliau telah wafat. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta. Beliau dianggap pahlawan karena kiprahnya di negeri ini. Semoga semua kesalahan beliau dimaafkan oleh Tuhan. Salam.
Salatiga, 18 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar