Langsung ke konten utama

Merawat Tulisan Jawa



catatan : gambar di atas saya buat pada akhir tahun 2018. 

Awal mulanya saya iseng. Dengan bermodalkan uang Rp. 3.000,- saya kemudian membeli kertas buffalo. Setelah sampai di rumah, saya kemudian menulis tulisan Jawa. Tulisan yang ada di dalam bingkai tersebut saya tulis secara otodidak dan manual, tidak ada rancangan sebelumnya. Sehingga sangat wajar bila terdapat beberapa kesalahan.

Menulis Jawa itu memang unik. Selain membutuhkan kesabaran, juga membutuhkan keseriusan. Ini tidak jauh berbeda dengan orang menulis sebuah artikel. Namun menulis sebuah tulisan Jawa, bagi sebagian (bahkan besar) orang boleh dikatakan cukup pelik.


Tidak masalah. Lebih baik salah namun berani daripada merasa pintar namun ternyata belum tentu mampu. Andaikan saya tidak menulis secuil tulisan Jawa ini, mungkin saya tidak akan pernah menghasilkan tulisan yang meskipun sepele, namun ternyata membutuhkan waktu lebih dari satu minggu.


Tulisan Jawa itu memang unik. Bagi orang kejawen, konon tulisan Jawa lebih ampuh bila dibandingkan dengan tulisan Arab. Umpama kedua tulisan tersebut dikasih air lalu didoakan, konon khodam-nya jauh lebih kuat tulisan Jawa. Makanya tidak mengherankan kalau para Kyai di tanah Jawa selalu menggunakan bahasa Jawa setelah berdoa dengan membaca tulisan Arab.


Selain tulisan Jawa, juga ada bahasa Jawa (baca: krama inggil). Bahasa Jawa sudah agak luntur di dalam masyarakat. Orang Jawa yang sejak kecil mengajarkan pembicaraan terhadap anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia, bisa jadi suatu saat akan menyesal. Dan itu sudah banyak buktinya.


Logika sederhananya, tidak usah diajari bahasa Indonesia, misalnya, anak kecil secara tidak langsung akan mengerti dan paham dengan sendirinya. Melalui sekolah tatkala mereka sedang belajar, televisi, radio dan juga HP, anak secara otomatis akan tahu bahasa Indonesia dengan sendirinya. Sementara kalau anak tidak diajari bahasa Jawa jelas akan sangat kesulitan dalam belajar bahasa Jawa karena lingkungan sekarang sudah banyak yang menggunakan bahasa Indonesia.


Bahasa Jawa juga mengandung supranatural tingkat tinggi. Anak yang sering dilatih bahasa Jawa sejak kecil biasanya akan patuh terhadap orang tuanya. Dalam bahasa Jawa juga ada kastanya. Misalnya kata panjenengan adalah untuk berbicara terhadap orang yang lebih tua atau orang yang dimuliakan. Kata sampeyan adalah kata yang sering digunakan kepada orang yang seusia atau yang lebih muda. Dan begitu pula seterusnya.


Akhirul kalam, semoga tulisan Jawa yang saya buat dapat memberikan manfaat. Agar lebih mudah memahaminya, berikut saya salinkan dalam tulisan aslinya.


‘’Kunci utamanipun manungsa anggenipun urip wonten alam donya menika manggen wonten manah utawi penggalih. Menawi manah utawi penggalihipun sae, tindak tuturipun mesti sae. Menawi manah utawi penggalihipun kirang sae tindak tuturipun inggih kirang sae.


Wontenipun berbagai macam penyakit ing alam donya menika salah satunggaling amarga manah utawi penggalih menika. Tuladhanipun umpami wonten tangga tepalih anggadhahi kasenengan utawi kebahagiaan mesthine kedah anderek seneng, boten malah sak wangsulipun.


Penyakit ati menika radi sulit menawi diprediksi. Tiyang ingkang gadhah penyakit ati kasebat kadang boten mangertos menawi piyambakipun mengidap penyakit ati.


Kula nate ketemu kalih tiyang ingkang pakaryanipun ngrokok. Tiyang menika dumugi sakniki taksih sehat, padahal tiyang menika yuswanipun sampun sepuh, sampun sekitar satus tahun. Piyambakipun cerita kalih kula menawi kunci utamanipun kesehatan menika manggen wonten manah utawi penggalih.


Piyambakipun nate tindak ing dokter, dokteripun malah bingung anggenipun mirsani. Mula sakmenika kita saged nuladhani punapa ingkang sampun kasebat.


Piyambakipun cerita kalih kula, menawi penyakit gula menika asal-usulipun wonten tiga. Ingkang kaping sepindah inggih menika amarga faktor keturunan. Faktor keturunan menika menurut piyambakipun ingkang paling sulit menawi diobati.


Faktor ingkang nomer kalih inggih menika amargi sebab maeman. Boten saged dipungkiri menawi zaman sakmenten menika zaman ingkang kathah penyakit. Zaman rumiyen boten katah bahan pengawet sehingga secara tidak langsung maringi pengaruh dhumateng kehidupanipun manungsa.


Ingkang kaping tiga menurut piyambakipun inggih menika amarga anggadhahi penyakit ati. Penyakit ati ingkang kula maksud inggih menika susah  menawi mirsani tangga tepalihipun pikantuk kasenengan utawi kabahagyan; saha manahipun seneng menawi tangga tepalihipun pikantuk musibah utawi cobaan saking Pengeran.


Sejatosipun kita kedhah seneng menawi mirsani tangga tepalih pikantuk kabahagyan utawi kasenengan saking Pengeran.


‘’Kunci utama manusia hidup di dunia ini sebenarnya berada di dalam hati atau sanubarinya. Apabila hatinya baik, perilaku dan perkataannya pasti baik. Apabila hatinya kurang baik, maka ucapan dan perilakunya pun juga kurang bagus.


Adanya berbagai macam penyakit di dunia ini salah satunya disebabkan karena hati manusia itu sendiri. Contohnya umpama ada tetangga sebelah sedang mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan, seharusnya kita juga ikut senang dan bukan malah sebaliknya.


Penyakit hati itu agak sulit ketika diprediksi. Orang yang mempunyai penyakit hati tersebut kadang tidak tahu bahwa yang bersangkutan sedang mengidap penyakit hati.


Saya pernah bertemu dengan seseorang yang pekerjaannya merokok. Orang itu sampai sekarang masih sehat meski usianya sudah tua, sudah sekitar seratus tahun. Beliau bercerita kepada saya bahwa kunci utama masalah kesehatan itu sebenarnya terletak di dalam hati.


Beliau pernah pergi ke tempat seorang dokter, dokter tersebut malah bingung tatkala melihat beliau. Maka dari itu kita seharusnya mencontoh apa yang telah dipesankan beliau.


Beliau bercerita kepada saya bahwa penyakit gula itu asal-usulnya ada tiga faktor. Yang pertama adalah karena faktor keturunan. Faktor keturunan inilah yang menurut beliau paling sulit untuk diobati.


Faktor yang kedua adalah disebabkan karena makanan. Tidak dapat dipungkiri bahwa zaman sekarang itu adalah zaman dimana banyak penyakit. Zaman dahulu tidak banyak bahan pengawet sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan manusia.


Yang ketiga menurut beliau adalah karena mempunyai penyakit hati. Penyakit hati yang saya maksud adalah susah ketika melihat tetangga sekitarnya mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan; dan hatinya merasa senang tatkala tetangga sekitarnya mendapatkan cobaan dari Tuhan.


Sesungguhnya kita harus senang ketika melihat tetangga sekitar mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan dari Tuhan. Salam Rahayu. 


Salatiga, 9 Maret 2020


*keterangan : tulisan ini sebelumnya tayang di portal guru berbagi kemendikbud 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...