Langsung ke konten utama

KOIN NU Teladan dari Kyai Ma'ruf Islamuddin

sumber gambar : YouTube 

Kotak Infak NU (Koin NU) dalam kurun waktu lima tahun terakhir boleh dikatakan mengalami kemajuan. Semua daerah di Nusantara bisa dipastikan menggerakkan tradisi koin NU. Setiap ada kegiatan pengajian, biasanya selalu ada kotak yang berkeliling untuk mengumpulkan uang. 

Namun demikian, tidak semua daerah mampu mengumpulkan uang dalam jumlah yang cukup bombastis. Tidak semua daerah pula mampu menggerakkan uang dari koin NU tersebut menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat. Salah seorang Kyai kondang pernah bercerita mengenai uang dari koin NU yang yang mampu dan telah dibelanjakan untuk membeli beberapa bus pariwisata. 

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi pengajian dalam rangka peringatan Maulid Nabi. Kebetulan, yang mengisi ceramah adalah seorang Kyai yang juga pelantun lagu. Beliau adalah Kyai Ma'ruf Islamuddin yang berasal dari Sragen. Bagi orang Jawa Tengah, nama beliau mungkin sudah tidak asing di telinga. 

Beliau bercerita panjang-lebar mengenai sejarah Rasulullah. Semua jamaah pun mendengarkan ceramah beliau sambil tertawa. Beliau memang orangnya lucu. Di tengah ceramahnya, sesekali beliau melantunkan sebuah lagu yang telah diciptakannya. 

Dari sekian banyak materi, ada satu hal yang saya tangkap dan ini sangat bermanfaat, yakni kesuksesan koin NU di Sragen yang telah mampu membeli beberapa bus pariwisata. Bus tersebut kemudian disewakan dengan harga yang agak miring. Uang dari hasil sewa tersebut kemudian digunakan untuk operasional kegiatan NU dan lain sebagainya. Hasilnya, ternyata sangat menyenangkan. 

"Orang Islam mau berziarah, tinggal pesan saja. Selain harganya agak murah, orang Islam juga secara tidak langsung telah membantu Islam itu sendiri," ungkapnya sembari menikmati secangkir kopi yang telah disediakan panitia. 

Selain menyewakan bus, koin NU di Sragen juga telah mampu membangun supermarket. Selama ini, menurut beliau, warga masyarakat sudah membuat kaya "pihak lain" namun tidak terasa. Orang dengan bangga membeli di swalayan modern, namun ternyata swalayan tersebut bukan milik orang Indonesia. 

"Orang mau menikah, bisa pesan catering di swalayan NU. Selain harganya agak miring, juga telah membantu organisasi NU dan Islam itu sendiri. Juga telah membantu untuk membeli dan memproduksi barang yang itu asli buatan Indonesia," ungkap seorang yang juga penulis buku.

Apa yang diungkapkan beliau kelihatannya sederhana, namun sesungguhnya mempunyai makna yang dalam. Selama ini warga masyarakat telah meng-kaya-kan elit asing namun banyak yang tidak sadar. Anehnya, sebagian orang Indonesia justru bangga manakala membeli barang produksi dari luar negeri. Sementara barang yang asli dari Indonesia kadang malah diabaikan dan seakan-akan kurang menarik. 

Sebagai warga yang baik, kita sudah semestinya mencintai dan memproduksi buatan lokal dari negeri ini. Membeli produk asing boleh saja, namun membeli barang yang asli dari Indonesia harus kita utamakan. Mencintai produk dalam negeri sama artinya dengan mencintai tanah air itu sendiri. Dan warga masyarakat tahu, bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.

Dari usaha yang diinisiasi oleh Kyai Ma'aruf Islamuddin kita dapat belajar bahwa mencintai produk lokal itu merupakan peranan yang sangat penting. Keberadaan produk lokal yang tidak kita jaga, bisa saja akan tergilas oleh produk asing. Dan saat ini sudah mulai terasa. Kalau produk asing sudah menguasai, kita pasti yang akan menyesal. Untuk itulah kita harus selalu mengutamakan produk lokal! Salam. 

Salatiga, 8 Januari 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...