Langsung ke konten utama

Perlunya Keterlibatan Oknum TNI dalam Internal KPK

sumber gambar : wartaekonomi

Adanya lembaga KPK berdiri di negeri ini disebabkan karena penegak hukum (polisi, kejaksaan dan pengadilan) kurang "profesional" dalam bekerja. Yang sudah profesional sebenarnya sangat banyak. Hanya saja, oknum yang masih mau disuap masih saja selalu ada dari waktu ke waktu. Umpama ketiga lembaga tersebut sejak dulu sudah bekerja secara profesional, sekali lagi, kemungkinan besar KPK tidak akan berdiri. 

Sampai sekarang, boleh dikatakan hanya KPK yang masih ditunggu dan dipercaya oleh rakyat Indonesia. KPK-lah yang sampai saat ini masih pro dengan rakyat. Sampai kapan pun, KPK masih setia ditunggu oleh rakyat untuk memberantas korupsi.

Kasus Cicak vs Buaya beberapa tahun silam adalah sebagai saksi sejarah bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin melengserkan KPK. Keberadaan KPK dianggap membahayakan bagi orang atau kelompok yang mempunyai kepentingan tertentu. Keberadaan KPK dianggap sebagai "ranjau" bagi mereka yang senang (dan ingin) melakukan praktik korupsi. 

Yang masih hangat adalah kasus penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan. Uniknya, penyiraman air keras tersebut terjadi selepas waktu Subuh. Novel yang baru saja keluar dari masjid dan akan pulang ke rumah, di dalam perjalanan ternyata disiram air keras oleh orang tak dikenal. Sampai sekarang matanya cacat. Tidak bisa pulih seperti semula. 

Kasus Novel Baswedan menggambarkan bahwa menjadi orang yang ingin memberantas korupsi di negeri ini tidaklah mudah. Banyak musuhnya. Tidak hanya raga yang siap dikorbankan, bahkan nyawa pun siap menjadi taruhannya.

Yang masih terbaru adalah kasus Djoko Tjandra. Seorang buronan kelas kakap yang masih bebas berkeliaran ke luar negeri. Beberapa jenderal petinggi Polisi akhirnya dipecat oleh Kapolri, Idham Aziz, gara-gara menerima suap dari yang bersangkutan. Uang suapnya pun mencapai lebih dari 15 milyar (Kompas, 3/11/2020). Kasus ini membuktikan bahwa kasus suap di tingkat "atas" masih sulit untuk dihilangkan. 

Keterlibatan TNI

Sudah sejak lama KPK bersinergi dengan instansi terkait. KPK tidak akan mampu berdiri manakala hanya berjalan sendiri. Bagian penyidik biasanya dari kalangan oknum Polisi yang ditugas-kerjakan di internal KPK. Sementara bagian tim ahli, biasanya dari para alumni lulusan hukum yang sudah profesional dalam keilmuannya dan juga pengalamannya. 

Sudah cukup banyak jenderal yang masuk jeruji penjara. Kepala daerah juga sama. Pula, ada Akil Mochtar, seorang pimpinan Mahkamah Konstitusi. Ia ditangkap KPK gara-gara menerima suap mengenai sengketa masalah pemilihan kepala daerah. 

Di sinilah peran pentingnya keterlibatan oknum TNI sebagai penyidik KPK. Meskipun itu mungkin bukan wewenangnya, namun bukan itu yang saya maksud. Yang saya maksud adalah berpikir jangka panjang agar KPK semakin solid dan profesional dalam bekerja. 

TNI, Polri dan BIN sesungguhnya mempunyai tugas yang hampir sama di dalam masyarakat. TNI lebih kepada masalah yang ada kaitannya dengan Pancasila. Polri bertugas mengamankan dan mengadili warga masyarakat, termasuk juga menyelidik. Sementara BIN bertugas untuk memata-matai warga masyarakat. 

Selama ini, sebatas yang saya tahu, kasus korupsi yang ditangani KPK belum begitu menyeluruh. Mengapa? Personel KPK jumlahnya terbatas, sementara luas negara Indonesia sangatlah luas. Sehingga bila mengurusi kasus korupsi keseluruhan secara langsung jelas tidak akan bisa. 

Meskipun tugas TNI adalah mengamankan negara dan bukan menyelidik, misalnya, pasal tersebut tampaknya agak sedikit bisa digeser demi kemaslahatan bangsa ini. Personel TNI biasanya lebih cekatan dalam bekerja. Kemungkinan besar bila oknum TNI dilibatkan, maka KPK akan semakin kuat. Jumlah tersangka kasus korupsi akan semakin banyak yang tertangkap. Uang negara yang dikorupsi pun dapat diselamatkan. Pada urutannya, negara ini pun akan semakin bersih dari dunia korupsi. Wallahu a'lam. 

Salatiga, 8 November 2020 



Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...