Ketika sedang menonton berita di televisi, secara
tidak sengaja saya mendengarkan anak kecil yang sedang berbicara dengan orang
tuanya. “Buk, ada PR. Saya mau mengerjakannya dengan mencari di google, biar
mudah dan segera selesai,” ungkap anak kepada ibunya. Mendengarkan secara tidak
sengaja apa yang diungkapkan anak kecil tersebut, saya jadi berpikir maju,
akankah masa depan generasi bangsa ini menjadi semakin malas?
Jika memperhatikan realitas lingkungan secara
saksama, tampaknya orang yang malas (mencintai praktis) jumlahnya semakin hari
akan semakin banyak. Dulu orang mau menanak nasi harus jerih payah terlebih
dahulu, mencari kayu bakar dan kemudian menanaknya di dalam dapur.
Zaman sekarang semakin canggih. Orang mau menanak
nasi menggunakan minyak tanah. Asalkan mempunyai uang yang cukup, tinggal
membeli di warung tetangga sebelah dan akhirnya digunakan untuk memasak. Kemudian
berkembang lagi dengan menggunakan kompor gas.
Semakin ke sini, ternyata semakin lebih canggih. Sekarang
orang menanak nasi sudah banyak yang tidak menggunakan kompor, namun menggunakan
magic com. Tinggal mencuci beras, kemudian memasukkan beras ke dalam magic com yang dilanjutkan dengan mencolokkan jek ke dalam stop kontak,
maka beberapa menit kemudian nasi sudah masak.
Dulu orang membeli nasi goreng harus pergi ke
pinggir jalan terlebih dahulu. Memesan sebentar dan selang beberapa menit
kemudian sudah bisa dinikmati. Sekarang, tinggal memesan dari rumah, ternyata
dalam waktu yang tidak lama lagi akan ada orang yang mengantarkan apa yang
sudah dipesan. Oleh karena semuanya sudah dimanjakan oleh teknologi, secara
tidak langsung ternyata membuat manusia menjadi “sedikit malas”.
Sama halnya dengan anak SD yang sudah berpikiran
tentang google, secara tidak langsung akan meracuni otak atau pemikiran anak
kecil. Kalau sudah mengutamakan google, ke depan mungkin saja anak-anak akan
semakin malas membaca buku, perpustakaan akan sepi pengunjung dan bahkan tak
menutup kemungkinan akan mati. Kalau perpustakaan sudah mati, bisa dikatakan
ilmu akan mati dan tidak berkembang oleh karena perpustakaan adalah jantungnya
ilmu.
Belum lama ini saya juga mendengar, ketika sedang
mengambil raport, seorang Guru SD menyuruh kepada peserta didiknya untuk
membawa HP android, yang dikhususkan untuk kelas 6 (enam). Maksud Guru
sebagaimana dimaksud sebenarnya sangat bagus, yakni mempermudah peserta didik
dalam mencari aplikasi, guna membantu belajar tambahan menjelang UAS.
Namun dari itu, saya kemudian berpikir, jika peserta
didik setingkat SD disuruh membawa HP, apakah itu adalah perbuatan yang mulia? Lebih
dari itu, sekolah tersebut berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang peserta
didiknya boleh dikatakan banyak yang tidak mampu secara finansial. Pertanyaannya
adalah umpama orang tua dari peserta didik tidak mempunyai HP andriod, apakah
harus membeli terlebih dahulu untuk mengikuti les tambahan di sekolah?
Bagi saya, seorang Guru yang menyuruh peserta
didiknya membawa HP—dan apalagi android—adalah sudah sangat salah. Dari kisah ini
tampaknya Pemerintah Pusat (Kemendikbud) harus membuat peraturan yang baru,
yang lebih ketat yakni peserta didik tidak boleh membawa HP. Setiap yang
membawa HP harus diberikan sanksi secara tegas. Begitu pula dengan Guru di sekolah, ketika sedang mengajar dilarang mengoperasikan HP.
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana kalau Guru di
sekolah yang justru menyuruh peserta didiknya untuk membawa HP? Ini adalah PR
bagi pemerintah dan kita bersama.
Mensosialisasikan
Perpustakaan
Bagi saya, mensosialisasikan perpustakaan
sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang menyuruh peserta didik untuk membawa
HP. Seorang Guru hendaknya memberi contoh untuk gemar membaca dan bukan malah
sebaliknya. Namun anehnya, zaman sudah semakin terbalik. Oknum Guru sudah cukup banyak yang mengajarkan etika yang tidak
bagus kepada peserta didiknya; sering bermain HP ketika sedang mengajar
misalnya.
Saya sudah sering bertanya kepada beberapa peserta
didik yang ada di lingkungan. Ketika saya tanya: Apakah Pak/Bu Guru senang
bercerita? Banyak dari mereka yang mengatakan, tidak senang bercerita ketika
sedang diajar di dalam sekolah. “Lalu apa yang sering dilakukan Gurumu ketika
sedang mengajar?” lanjut saya. “Bermain HP,” jawabnya. Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar