Alhamdulillah, di tahun 2019 ini saya mengucapkan
terima kasih kepada Pemerintah. Pembangunan Rumah Sakit atau Puskesmas semakin
membaik. Setiap tahun Rumah sakit atau Puskesmas selalu saja bertambah.
Gedungnya pun terlihat banyak yang megah nan bersih.
Namun dari itu, jika melihat secara kualitas, apakah
sudah mampu membahagiakan rakyat secara keseluruhan? Dari kisah ini tulisan
tersebut kemudian lahir. Semoga memberikan manfaat kepada khalayak luas.
Orang-orang yang sakit zaman sekarang jumlahnya
semakin banyak. Salah satu mengapa hal itu dapat terjadi adalah oleh karena
faktor makanan yang banyak mengandung bahan pengawet. Lihatlah orang-orang
dahulu, meski makanan yang dimakan adalah sederhana—dan bahkan mungkin sangat kekurangan—akan
tetapi orangnya lebih banyak yang sehat.
Orang zaman dahulu tidak sakit kemudian meninggal
dunia merupakan hal yang lumrah. Ketika ada orang yang masuk rumah sakit,
mungkin akan dibicarakan oleh banyak tetangga. Lain halnya zaman sekarang. Umpama
ada orang yang tidak sakit namun tiba-tiba meninggaal dunia, justru akan
menjadi perbincangan tetangga sekitarnya. Lebih dari itu, kadang beritanya pun
tak kunjung usai.
Sekalipun zaman sekarang misalnya setiap hari ada
pembangunan satu rumah sakit baru, tetap saja akan penuh. Ketika saya
mengunjungi orang sakit di rumah sakit, sudah bukan hal yang asing lagi ketika
melihat kamar yang sudah diisi oleh pasien. Ketika menanyakan yang ruangan VIP
pun kadang sudah penuh.
Akan tetapi, ketika mendengarkan jeritan tangis
warga masyarakat, ternyata masih cukup banyak yang mengeluh dengan pelayanan
yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit atau Puskesmas. Apalagi ketika menggunakan
BPJS, menurut sebagian warga masyarakat boleh dikatakan akan mengecewakan.
Kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan prosentasenya lebih kecil jika
dibandingkan dengan kekecewaannya.
Berkaitan dengan masalah tersebut, beberapa waktu
yang lalu saya mengunjungi seorang teman yang berada di daerah Temanggung.
Teman saya sebagaimana dimaksud sejak beberapa hari harus menunggu dan harus
selalu cek ke Rumah Sakit setempat dalam rangka mengobati ibunya yang sedang
mengidap penyakit leukimia. Menurutnya, jika berobat dengan menggunakan BPJS,
dokter Rumah Sakit setempat mengatakannya “Obatnya habis, harus menunggu tiga
hari, obatnya besok ya, dan seterusnya”.
Hal yang serupa sebelumnya juga pernah saya lihat.
Di daerah Batang, ada seorang ibu yang akan melahirkan. Masih sama yaitu
menggunakan BPJS. Mendengarkan bahwa seorang pasien menggunakan kartu BPJS,
ternyata pegawai Rumah Sakit tersebut mempersulitnya. Ketika yang bersangkutan
siap mengeluarkan uang, ternyata dengan segera pegawai Rumah Sakit melayaninya.
Lebih dari itu, apa yang sedang dialami oleh orang
tersebut cukup menderita. Sudah tidak dilayani oleh pihak Rumah Sakit secara
memuaskan, bayi yang dilahirkan ternyata sudah meninggal dunia di dalam
kandungan. Di dalam Rumah Sakit sudah menginap selama tiga hari, ternyata
dokter tidak mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya sudah berpulang ke
haribaan Tuhan.
Saya juga pernah mengantar seorang teman yang baru
saja mengalami sakit tipes di daerah Salatiga dengan menggunakan BPJS. Ketika
saya melihat seorang keluarganya yang sedang menghubungi bagian pelayanan,
pegawai Rumah Sakit mengatakan kepada teman saya, bahwa ruangannya sudah full. Ketika saya berjalan sejenak,
ternyata masih cukup banyak ruangan yang kosong.
Sewaktu masih kecil, saya pernah dinasehati oleh
seorang Guru, agar ketika berdoa kepada Tuhan, jangan lupa minta dihindarkan
dari urusan Polisi dan Rumah Sakit. Mengapa? Supaya tidak mengeluarkan banyak uang.
Apa yang dipesankan oleh seorang Guru tidak semuanya benar, namun jika melihat
realitas di lapangan, mungkin saja ada benarnya.
Pertanyaannya adalah apakah masih ada Polisi dan
Dokter yang jujur? Saya berani yakin, pasti ada. Yang nakal adalah hanya
beberapa oknumnya saja. Yang masih jujur tentunya juga masih sangat banyak.
Semoga banyak yang berubah menjadi semakin baik, jujur, melayani kepada mereka
yang masih kekurangan.
Menurunkan Biaya
Kuliah Kedokteran
Mengapa masih cukup banyak oknum pegawai rumah sakit yang memeras rakyat? Saya menduga oleh
karena biaya kuliah (dalam hal ini Fakultas Kedokteran) di perguruan tinggi sangatlah
mahal. Oleh karena sangat mahal, dengan berbagai cara akhirnya yang menjadi
korban adalah rakyat. Rakyat yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan oleh
karena sudah dijamin negara, ternyata banyak yang menderita batin atas
perlakuan beberapa oknum dokter di
Tanah Air.
Lihat saja mahasiswa yang kuliah kedokteran. Uang
ratusan juta rupiah pun rela mereka keluarkan, guna menyelesaikan studinya di
kampus. Bahkan, beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kabar burung, jika
ingin kuliah di kampus ternama, maka harus menyiapkan deposito minimal setengah
milyar (500 juta). Semoga kabar burung tersebut tidak benar.
Dalam hal ini saya mempunyai pandangan, agar
pemerintah menurunkan biaya kuliah di Fakultas Kedokteran yang ada di Nusantara
ini. Oleh karena biayanya tidak terlalu mahal, kemungkinan besar oknum tidak banyak yang memeras rakyat. Akan
tetapi jika sampai sekarang masih tetap mahal—dan bahkan kadang dinaikkan oleh
karena mengikuti tahun—kemungkinan besar budaya pungutan liar sangat sulit
untuk dihilangkan.
Mereka (para oknum), mungkin mempunyai pemikiran
yang hampir sama dengan seorang pemimpin Kepala Daerah atau para Anggota Dewan.
Oleh karena mereka sudah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah ketika akan
maju, maka mereka mencari cara bagaimana untuk mengembalikan modal awalnya.
Oleh karena mungkin kebingungan, maka rakyat yang harus menerima imbasnya.
Sekali lagi jika sebuah Rumah Sakit ingin anak
buahnya tidak banyak yang menyakiti hati rakyat kecil, maka harus dimulai dari
sebuah tempat dimana mereka mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Pemerintah harus menurunkan biaya kuliah, supaya tidak meracuni paradigma atau
pemikiran seorang calon dokter. Semoga apa yang saya tulis segera
direalisasikan oleh pemerintah, hingga akhirnya rakyat banyak yang menjadi
bahagia dengan pelayanan atau perlakuan seorang dokter di Rumah Sakit. Wallahu
a’lam.
Salatiga, 12 November 2019
Komentar
Posting Komentar